Benda kuno peninggalan era Majapahit itu ditemukan dalam kondisi tidak utuh. Celengan berbahan gerabah itu berukuran relatif kecil. Panjang sekitar 18 cm dan lebar 12 cm, benda cagar budaya itu terbagi menjadi sembilan keping. ’’Tadi ditemukan terpendam sekitar 50 centimeter di bawah permukaan,’’ ungkap Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jatim Vidi Susanto.
Meski telah pecah, karakter celengan babi itu masih tampak jelas. Dilengkapi empat kaki, hidung, sepasang mata, dan ekor yang sekaligus sebagai lubang penyimpanan masih terlihat jelas. ”Pada era Majapahit, celengan karakter binatang sudah banyak dibuat. Mulai dari karakter babi hingga gajah. Karena pada masa itu, masyarakatnya sudah mahir memproduksi gerabah,” bebernya.
Fungsinya, tidak jauh berbeda dengan celengan pada umumnya. Yakni untuk menyimpan uang alias menabung. Soal kapasitas, lanjut Vidi, meski berukuran relatif kecil, hal itu sesuai ukuran dengan mata uang saat itu yang juga berukuran kecil. ”Uang era Majapahit itu disebut Ma. Yang berbahan emas atau perak. Bentuknya kecil, seperti butiran jagung,” paparnya.
Meski begitu, kata Vidi, artefak yang ditemukan di kawasan situs berangka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi itu bukan kali pertama ini ditemukan. Sebelumnya, celengan kuno itu sudah ditemukan juru pelihara Situs Klinterejo pada 2012 silam. Tepatnya, di dasar salah satu sumur kuno di sisi barat laut situs.
”Jadi ini sebelumnya dipindahkan dari dasar sumur lengkung di barat laut ke tengah situs ini. Tapi beliau lupa memindahkan lagi sampai akhirnya ditemukan sekarang. Kemungkinan pada era itu, sudah tertransformasi atau memang dibuang di sumur itu,” terang Vidi. Menurutnya, ditemukannya celengan di dasar sumur kuno itu memperkuat asumsi adanya kawasan pemukiman di sekeliling situs. Sebab, temuan celengan di beberapa situs lainnya terindikasi di kawasan pemukiman.
”Karena celengan ini memang banyak ditemukan di kawasan pemukiman. Sedangkan sumurnya, terkait kebutuhan pengairan di kawasan ini. Termasuk untuk kebutuhan ritual di kawasan suci,” tandasnya. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah