PADA masa pemerintahan kolonial di Mojokerto, kuda dan sapi menjadi tenaga penarik delman hingga pedati. Namun, untuk menghela sarana transportasi, hewan kerap mendapat perlakuan kekerasan secara fisik. Berangkat dari keprihatinan itu, maka terbentuk komunitas pecinta hewan untuk mencegah eksploitasi berlebihan.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, komunitas pecinta hewan pertama di Mojokerto terbentuk kisaran 1936. Perkumpulan yang diinisiasi para pemerhati hewan dengan mengadakan pertemuan di Kantor Balai Kota Mojokerto atau yang kini jadi rumah dinas wali kota di Jalan Hayam Wuruk. ”Dalam rapat itu membahas pentingnya membuat wadah bagi para pemerhati dan pecinta hewan,” tandasnya.
Tak lain, tujuannya untuk mencegah adanya kekerasan fisik terhadap hewan. Khususnya yang tenaganya dimanfaatkan untuk membantu sarana transportasi masyarakat saat itu. Maka, disepakati pembentukan Perkumpulan Pecinta Hewan Mojokerto.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, komunitas tak hanya beranggotakan dari para pemerhati hewan. Tetapi juga melibatkan pejabat pemerintahan, dewan, pengusaha, hingga merangkul kalangan tenaga kesehatan hewan (keswan). ”Sehingga keberadaan komunitas ini bisa mempengaruhi kebijakan perlindungan hewan di Mojokerto,” papar dia.
Salah satu sosok yang menginisiasi terbentuknya komunitas tersebut adalah dokter hewan Hadikoesoemo. Karena selama bertugas sebagai tenaga keswan pemerintahan di Mojokerto, ia kerap menangani kuda yang sakit.
Namun, penyebabnya sebagian besar akibat faktor kelelahan hingga mengalami luka akibat kekerasan. Agar bisa memberi perlindungan terhadap hewan, sehingga tercetus untuk membuat sebuah perkumpulan.
Dikatakan Yuhan, di masa kolonial, delman menjadi sarana transportasi utama untuk bepergian dalam jarak pendek. Terutama saat bepergian ke pasar tradisional. Di Mojokerto, delman sering beroperasi di Jalan Mojopahit dan alun-alun untuk melayani penumpang dari Pasar Kliwon.
Salah satu titik lokasi yang dijadikan pusat mangkalnya para penarik delman adalah di tepi Sungai Brantas atau dikenal sebagai Comboran. Selain itu, delman juga melewati rute hingga ke Brangkal, Kecamatan Sooko.
Karena tenaga kuda terbatas, maka diterapkan sistem pergantian armada dalam jarak tertentu. Dari Brangkal, penumpang harus berganti delman untuk melanjutkan perjalanan menuju Mojoagung, Jombang. ”Jarak tempuh maksimal sekitar 10 kilometer,” ulas Yuhan.
Namun, para kusir rupanya jarang memperhatikan kondisi kudanya. Sehingga, hewan yang sedang kondisi sakit pun tetap dipaksa menarik kereta. Bahkan, demi memacu kecepatan, kuda dicambuk agar berlari kencang.
Akibatnya, saat itu banyak terjadi insiden kuda tumbang di perjalanan. ”Rata-rata penyebabnya karena kelelahan atau kondisinya yang sakit,” beber anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah