Ayuhanafiq melanjutkan, gagalnya penambangan yodium rupanya membawa berkah bagi masyarakat di Sekar Putih dan sekitarnya. Sebab, warga menjadikannya sumber air untuk irigasi ke lahan persawahan mereka. ”Apalagi airnya dulu tidak pernah surut,” terangnya.
Sehingga, para petani bisa mengolah lahan meski saat musim kemarau. Kondisi tersebut, imbuh Yuhan, membuat salah satu perusahaan gula di Kota Mojokerto melirik lahan di Sekar Putih untuk ditanami tebu.
Adalah Pabrik Gula (PG) Sentanenlor yang kemudian melayangkan tawaran kepada para pemilik lahan agar mau menyewakan sawahnya. Meski telah mendapat persetujuan warga, namun upaya sewa lahan itu gagal terealisasi.
Penyebabnya, debit air masih dinilai terlalu kecil untuk bisa mengairi lahan tebu. Berdasarkan hail kajian, semburan air di Sekar Putih memiliki debit hanya 11 meter kubik per detik. ”Para pemilik lahan kemudian tetap menjadikan lahan mereka untuk bercocok tanam sepanjang tahun,” papar dia.
Bahkan, terpancarnya sumber air di Sekar Putih juga membawa dampak munculnya areal persawahan baru. Seiring berjalannya waktu, air mengandung belerang itu tak hanya dimanfaatkan sebagai sarana irigasi. Sekar Putih kemudian dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi.
Sebab, kelurahan setempat menjadikannya sebagai kolam pemandian. Destinasi yang dinamakan Tirta Suam tersebut menjadi alternatif dari Pemandian Sekarsari yang memiliki air dengan suhu normal. Karena masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke Padusan Air Panas Pacet yang berada di lereng Gunung Welirang.
Hanya saja, nasib keduanya kini berbeda. Seiring debit air yang semakin mengecil, keberadaan Pemandian Tirta Suam Sekar Putih kini sudah tenggelam. Lokasinya kini dijadikan gedung diklat. Sedangkan Pemandian Sekarsari telah direvitalisasi dengan konsep yang lebih modern. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah