Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, keberadaan Tirta Suam Sekar Putih semula tidak diperuntukkan untuk kolam pemandian air panas. Hal itu bermula adanya aktivitas eksplorasi pengeboran tanah dari perusahaan NV Jodium Maatchappij Watoedakon.
Sesuai dengan namanya, perusahaan pengolahan yodium ini berdiri di Watudakon. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, setelah berhasil menambang yodium di sekitar lokasi pabrik, perusahaan yang berdiri sejak 1924 ini kemudian melakukan pengembangan. ”Perusahaan melakukan mencari sumur-sumur baru di daerah sekitar,” terangnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, salah satu titik yang dilakukan pengeboran adalah di wilayah Ploso, Kabupaten Jombang pada 1928. Unsur kimia jenis mineral ini kemudian juga dieksplorasi dari dalam tanah di wilayah Kota Mojokerto.
Selanjutnya, kegiatan pengeboran pun dilakukan pada bidang lahan di Sekar Putih, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari untuk menemukan sumur berisi kandungan yodium. Sayangnya, aktivitas eksplorasi tersebut tak membuahkan hasil. ”Karena air yang keluar tidak ada unsur yodium,” tandasnya.
Kegiatan eksplorasi di Sekar Putih itu pun dihentikan. Namun, tim yang digawangi ahli pengeboran Van Mourik dibuat kewalahan saat berupaya menutup kembali lubang tanah bekas pengeboran.
Sebab, ungkap Yuhan, air yang keluar dengan suhu panas alami dari perut bumi itu semakin membesar. Bahkan, tingginya tekanan pada sumur pengeboran tersebut membuat air memancar ke atas menyerupai air mancur. ”Air yang keluar warnanya tidak jernih karena mengandung belerang,” tandas Yuhan.
Akibatnya, sumur pengeboran itu pun gagal dilakukan penutupan. Untuk meredam kuatnya pancaran air, tim hanya memberi penahan tepat di atas lubang mata air. Hingga akhirnya, area sumur pengeboran itu pun menjadi kubangan. ”Limpahan air itu yang kemudian membuat lahan di Sekar Putih menjadi kolam,” ulas dia. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah