Dinamai Jembatan Ireng karena rangka besi jembatan penuh karat dan tampak kehitaman. Dalam berbagai literatur sejarah, jembatan sepanjang kira-kira 150 meter yang melintang di Kali Watudakon ini dibangun sekitar tahun 1915-1920. Ya, seabad lebih. Meskipun kondisinya sudah rusak dan reyot sana-sini, jembatan ini masih dimanfaatkan menjadi jalur alternatif.
”Setiap hari lewat sini, sudah terbiasa jadi tidak takut,” kata Djadi, 78, petani asal Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, saat melintas jembatan, Kamis (29/9).
Menurutnya, jembatan yang dikelilingi lahan pertanian ini sudah ada sebelum dirinya lahir. Mulanya, jembatan yang beberapa rangka besinya copot dan permukaannya telah miring ini dibangun untuk jalur angkutan tebu. Bertahun-tahun kemudian, keberadaan jembatan beralih fungsi sebagai akses warga. ”Kalau tidak lewat sini ya harus lewat Jembatan Rejoto yang jauh,” imbuh dia.
Di balik eksistensinya, pembangunan Jembatan Ireng menyimpan cerita kelam. Konon, proyek jembatan ini melibatkan para penduduk pribumi. Mereka dipaksa kerja oleh pemerintah kolonial untuk membangun jembatan. Tak sedikit di antaranya yang mengalami kelaparan dan disiksa. ”Banyak sekali yang dipaksa dan tidak dibayar, mereka adalah nenek moyang kita,” ungkap Deni Dwi Prasetyo, seorang warga di lokasi.
Pria 26 tahun yang mengaku memiliki kemampuan berkomunikasi dengan makhluk gaib ini menyebut, terdapat tiga orang pribumi yang tewas selama proses pembangunan jembatan. Mereka mati karena kelelahan dan kelaparan. ”Tidak boleh istirahat sama Belanda, sampai dia kehabisan tenaga akhirnya jatuh,” tutur dia.
Deni menyatakan, saat dirinya berada di jembatan, yang muncul hanyalah suara tangisan. Aura penderitaan itu masih dirasakannya hingga kini. Dia mengaku sering mendengar rintih para pekerja rodi di jembatan.
Dia menyebut, di jembatan ini terdapat sesosok nenek penunggu yang duduk di bawah jembatan. Lansia berpakaian kebaya itu duduk di tepi Kali Watudakon. Menurut Deni, sosok tersebut sedang menunggu cucuknya yang tewas saat bekerja membangun jembatan. ”Beliau tidak tega melihat cucuknya dan menangis. Tapi nenek itu tidak bisa menolong,” turunya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah