Yuhan menyebutkan, untuk meneruskan peringatan tanda bahaya agar lebih luas, warga memanfaatkan alat tradisonal seperti kentongan. Selain itu, ada pula yang membunyikan lonceng besar yang terdapat di gereja. ’’Supaya warga yang tidak mendengar langsung suara sirene juga bisa menyelamatkan diri,’’ ujarnya.
Meski telah dipersiapkan dengan matang, namun wilayah Kota Mojokerto ternyata aman dari serangan udara Jepang. Yuhan menyebut, pasukan matahari terbit hanya menargetkan serangan di dekat Dam Mlirip. Akibatnya, sejumlah pesawat amfibi yang sedianya dipersiapkan untuk mengevakuasi warga kolonial tenggelam di Sungai Brantas.
Di masa kependudukan Jepang 1942-1945, keberadaan sirene masih tetap dipertahankan. Bahkan, hingga masa awal kemerdekaan perangkat pengeras suara itu masih difungsikan. Hanya saja, pemanfaatannya tak lagi untuk memberi peringatan bahaya, melainkan hanya digunakan di bulan Ramadan. ’’Sirine dibunyikan untuk menandakan waktu berbuka puasa,’’ imbuhnya.
Namun, karena kepentingan pembangunan, bangunan tiang sekaligus perangkat sirene saat ini telah hilang. Sistem peringatan dini untuk tanda bahaya itu dibongkar untuk pelebaran jalan kota. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah