Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mojopedia, Perjalanan Persatuan Sepak Bola Mojokerto

Fendy Hermansyah • Kamis, 8 September 2022 | 16:34 WIB
HISTORIS: Kompleks Kantor Wali Kota Mojokerto dan DPRD Kota Mojokerto yang dulu merupakan bagian dari Lapangan Mangoensari. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)
HISTORIS: Kompleks Kantor Wali Kota Mojokerto dan DPRD Kota Mojokerto yang dulu merupakan bagian dari Lapangan Mangoensari. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)
Lahir dari Terbentuknya Asosiasi Antarklub

PERSATUAN Sepak Bola Mojokerto (Persem) menjadi klub tertua yang masih eksis hingga kini. Perjalanan historis tim berjuluk badai biru ini berawal sejak masa kolonial. Terbentuknya asosiasi yang mewadahi pertandingan antarklub menjadi embrio lahirnya kesebelasan yang kini akan mengarungi Liga 3 Indonesia di musim 2022/2023.

Perkembangan persepakbolaan di Kota Mojokerto mempunyai sejarah panjang. Berbicara tentang Persem, tidak lepas dari keberadaan Mojokerto Voetbal Bond (MVB). Gabungan dari klub-klub sepak bola ini menjadi wadah masyarakat di Mojokerto Raya untuk mengembangkan permainan si kulit bundar pada dekade 1930-an.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, MVB bukan klub sepak bola tarkam, melainkan klub sepak bola profesional. Sebab, kesebelasan tersebut telah memiliki home base di Stadion Mangoensari. ”MVB menggunakan lapangan yang cara disewa dari Stad Gemeente atau Pemkot Mojokerto,” terangnya.

Dikatakannya, MVB merupakan gabungan dari tim sepak bola yang sebelumnya telah merumput di Mojokerto. Di antaranya terdiri Modjokerto Voetbal Club (MVC) yang komposisi pemainnya berdarah Eropa. Skuad ini merupakan tim pertama yang berdiri di Mojokerto pada tahun 1920.

Selain itu, juga tergabung klub Chung Hua Tsing Nien Hui (CHTNH) yang pemainnya berasal dari etnis Tionghoa yang tinggal di kawasan Pecinan Mojokerto. Pemain lokal dari Mojokerto juga masuk dalam tim setelah klub Madjapahit juga melebur ke MVB. ”Gabungan klub ini kemudian bersepakat membentuk asosiasi sepak bola Mojokerto yang mewadahi pertandingan antarklub sepak bola,” ungkap pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Sejak saat itu, sepak bola menjelma menjadi olahraga yang populer di Mojokerto. Tingginya antusias masyarakat juga didukung dengan adanya Mangoensari Sportterain atau lapangan olahraga yang dibangun 1926.

Gelanggang olahraga yang berada di Oosterweg atau kini Jalan Gajah Mada itu hampir tak pernah sepi penonton saat dihelat pertandingan. Bahkan, stadion yang pagar keliling itu tak jarang mengalami overkapasitas karena banyaknya masyarakat yang ingin melihat pertandingan sepak bola. ”Kapasitas stadion belum cukup untuk menampung animo publik Mojokerto pada kegiatan sepak bola,” imbuh dia.

Terlebih, anggota asosiasi juga bertambah seiring bergabungnya Veldpolitie Voetbal Club (VVC) yang penggawanya berasal dari pegawai kereta api (KA). Sayangnya, keberadaan MVB tidak berlangsung lama.

Kesulitan finansial membuat klub memikul beban piutang sewa lapangan di tahun 1932. Tanggungan biaya terus membengkak hingga Pemkot Mojokerto mengambil tindakan tegas dengan melarang MVB menggunakan Mangoensari Sportterain baik untuk bertanding maupun sekadar latihan sejak April 1934. Dua tahun setelahnya, MVB berganti nama menjadi Modjokertosche Voetbal Unie atau Persatuan Sepak Bola Mojokerto setelah dilakukan perombakan di tubuh pengurus pada 1936. ”MVB kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Persem,” papar Yuhan. (ram/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#perjalanan persatuan sepak bola mojokerto #sepak bola mojokerto #mojopedia #sejarah sepak bola mojokerto