Sejarawan Ayuhanafiq mengungkapkan, di masa pra kemerdekaan, gedung di Jalan Letkol Sumarjo tersebut pernah dijadikan sebagai tempat kegiatan organisasi pergerakan. Bangunan bergaya kolonial menjadi menggelar rapat terbuka. ”Beberapa tokoh pergerakan hadir langsung untuk berorasi,” terangnya.
Disebutkan Yuhan –sapaan akrab Ayuhanafiq-, dr Soetomo menjadi salah satu yang pernah menapakkan kaki di gedung tua tersebut. Menurutnya, kehadiran tokoh pendiri organisasi pergerakan pertama Budi Utomo itu dalam rangka mengadiri kegiatan vergadeering atau rapat terbuka pada 7 September 1930.
Saat itu, kata dia, dr Soetomo menjadi pembicara utama yang dihadiri sejumlah orang yang terbagung dalam pergerakan di Mojokerto. ”Agenda itu dihadiri banyak warga hingga tumpah ke jalan,” tandasnya.
Maklum, kehadiran tokoh nasional yang saat ini diabadikan sebagai salah satu nama rumah sakit di Kota Pahlawan itu telah dinanti-nanti masyarakat di Mojokerto. Terlebih, kabar kedatangan dr Soetomo sebelumnya juga telah tersebar luas melalui pemflet dan makin meluas dari kabar mulut ke mulut.
Selain itu, sebut Yuhan, Ki Hajar Dewantara juga sempat melakukan orasi yang tidak jauh dari Rumah Dinas Burgemeester atau Wali Kota Mojokerto era kolonial di Jalan Hayam Wuruk. Dimungkinan, kehadiran pendiri Perguruan Taman Siswa ini yang kemudian membuat gedung itu juga sempat dimanfaatkan sebagai sekolah pribumi.
Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini menyebut, lembaga pendidikan jenjang sekolah dasar itu bernama Hollandsch Inlandsche School (HIS) Partikelir yang trafiliasi dengan Perguruan Taman Siswa. ”Sekolah dasar Taman Siswa menjadi salah satu lembaga yang menampung anak-anak pribumi untuk menempuh pendidikan,” imbuhnya.
Namun, setelah penyerahan kedualatan kemerdekaan RI, gedung tersebut tidak lagi digunakan untuk kegiatan pendidikan. Karena pada tahun 1950, Taman Siswa Mojokerto membangun gedung sekolah baru di Purwotengah. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah