Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Gapura Utama Berbentuk Paduraksa

Fendy Hermansyah • Kamis, 4 Agustus 2022 | 17:55 WIB
PENGUAT HIPOTESIS: Tim ekskavasi tengah menggali dan mengkaji temuan di sisi selatan Situs Bhre Kahuripan, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko.
PENGUAT HIPOTESIS: Tim ekskavasi tengah menggali dan mengkaji temuan di sisi selatan Situs Bhre Kahuripan, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko.
Tafsir Arkeolog BPCB Jatim Usai Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto - Teka-teki pola struktur bangunan Situs Bhre Kahuripan di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, perlahan terungkap. Arkeolog BPCB Jatim menyebut, gapura bagian utama kuil peninggalan Majaphit tersebut berbentuk paduraksa.

Arkeolog BPCB Jatim sekaligus Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan Pahadi mengatakan, asumsi tersebut diperkuat dengan adanya trap tangga di halaman ketiga kawasan candi bercorak hindu tersebut. Tepatnya, di antara dinding keliling candi utama dengan luas 24x24 meter tersebut. ’’Trap tangga gapura ini posisinya sedikit ke selatan. Hanya selisih beberapa meter dari sudut selatan dan barat. Bukan tepat di tengah (center) ikut bagian candi. Ini kami temukan tahun lalu (ekskavasi tahap tiga),’’ ungkapnya.

Hasil interpretasi tersebut berdasarkan temuan struktur pondasi gapura yang hanya tersisa tiga lapis bata kuno. Kajian lebih lanjut menujukkan, disinyalir kuat gapura menuju tempat suci utama candi tersebut berbentuk paduraksa (gapura dengan atap penutup). ’’Gapura untuk masuk ke halaman tiga atau bagian utama candi bentuknya paduraksa. Ukurannya sekitar 14 meter persegi, tapi jalan masuk gapura itu lebarnya sekitar 1,5 meter saja. Seperti Candi Bajangratu atau Penataran,’’ ungkap Pahadi.

Dijelaskannya, gapura di sisi barat tersebut membatasi halaman ketiga candi. Yang di antara candi dan gapura terdapat struktur mandapa atau batur. Di mana struktur tersebut digunakan umat Hindu pada saat itu untuk mensucikan diri sebelum masuk ke bagian inti candi. ’’Dari panjang (kawasan) sekitar 200 meter ini, halaman ketiga atau utama itu sekitar 40 meter, halaman kedua 80 meter, dan halaman pertama 80 meter. Dan halaman utama (ketiga) ini yang boleh masuk hanya orang tertentu saja (orang kerajaan atau pemuka agama),’’ urainya.

Dijelaskannya, gapura paduraksa hanya ada pada halaman ketiga candi yang dibangun Raja Hayam Wuruk pada 1294 Saka atau 1371 Masehi itu. Sementara dua gapura di halaman pertama dan kedua diasumsikan berbentuk bentar. Atau gapura tanpa atap penutup di atasnya. ’’Gapura halaman pertama dan kedua ini biasanya bentuknya bentar. Dan letaknya relatif ke tengah struktur, tidak seperti gapura halaman ketiga. Itu sewajarnya candi bercorak hindu seperti umumnya,’’ sebutnya.

Hanya saja, tim arkeolog tengah berupaya membuktikan hipotesis terkait kedua gapura tersebut. Yakni dengan melakukan ekskavasi tahap empat di sisi barat situs yang akan dilanjutkan tengah bulan mendatang. ’’Untuk gapura halaman ketiga ini kan ada di antara candi dan lapangan (sepak bola). Itu kami tutup lagi dengan tangah karena lapangannya masih aktif. Kemungkinan, gapura halaman kedua dan pertama ini lebih ke barat lagi atau di antara lapangan dan Situs Klinterejo,’’ tandas Pahadi. (vad/fen) Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Sekolah Soekarno Kecil #kota onde-onde #citayam fashion week #Mojopahit #citayam #trawas #pacet #situs tribuana tunggadewi #sekolah ongko loro #masa kecil soekarno #situs bre kahuripan #Soekarno di Mojokerto #wisata mojokerto #Kota Mojokerto #situs watu ombo #mojokerto #trowulan #onde-onde