ODCB tersebut berada di atas lahan kebun bambu seluas 50m x 300m. Hanya saja, susunan bata kuno tersebut tidak tampak keseluruhan. Hanya beberapa senti dari permukaan tanah. ’’Ditemukan itu Sabtu (9/7) pagi. Setelah lokasinya itu kena genangan banjir luapan irigasi,’’ terang Budiharjo, warga setempat. Batu bata tersebut punya ukuran lebih besar dari bata yang diproduksi saat ini. Ukurannya sekitar 20cm x 30cm.
Ada corak tertentu pada sejumlah bata kuno tersebut. Mulai membentuk pola garis melingkar hingga garis sudut lancip. Namun, diantaranya terdapat bata polos tanpa corak. Meski begitu, tidak semua bata kuno itu tersusun rapi dan kokoh. Di antaranya jusru ditemukan dalam kondisi tidak beraturan. ’’Yang kelihatan tertata itu sekitar 30 meter. Mungkin selebihnya itu tercecer sampai sisa radius 300 meter itu, jadi jumlahnya (bata kuno) kemungkinan sampai ratusan,’’ urainya.
Tidak hanya itu, warga juga mendapati benda yang disinyalir bernilai historis tinggi. Yakni dua lumpang dari batu andesit dan satu pecahan artefak tembikar kuno. ’’Tembikarnya ini berupa pecahan. Mungkin ini dasarnya guci atau apa kurang tahu. Terus ada dua lumpang (tanpa gagang). Semuanya ini polos, nggak ada corak tertentu,’’ sebutnya.
Mendapati temuan ODCB tersebut, warga lantas berupaya menjaga dari aksi jahil pihak tidak bertanggung jawab. Hanya saja, sejauh ini belum ada dinas terkait yang mengecek sekaligus memastikan temuan yang disinyalir bernilai historis tinggi tersebut. ’’Sudah kami laporkan ke perangkat desa. Tapi sejauh ini belum ada dinas terkait yang ngecek ke sini,’’ tandas Budi.
Warga juga temukan batuan kuno usai menguras sumber mata air yang disebut belik itu. Sumber mata air dibersihkan lantaran ada warga yang menggunakan sumur tersebut untuk mandi. ’’Sumurnya nggak dalam, sekitar dua meter saja,’’ terang Budiharjo. Lebih lanjut, saat menguras sumur, warga mendapati ada sejumlah batu yang tercecer di dasarnya.
Setelah diperiksa, rupanya sejumlah batuan tersebut merupakan batuan kuno. Belasan batu bata dan andesit berdimensi sekitar 20cm x 30cm. Memiliki corak garis melingkar dan lancip dan di antaranya polos tanpa corak. ’’Jadi batu-batu itu berserakan campur di dasar sumur. Sepertinya itu tatanan ulang setelah sebelumnya pernah longsor,’’ terang pria 37 tahun itu.
Menurutnya, temuan tersebut masih satu bagian dengan ratusan batuan kuno yang didapati tersusun layaknya dinding keliling di atas tanah seluas 50m x 300 meter sebelumnya. Terlebih, dua temuan tersebut hanya terpisah beberapa meter saja. ’’Kemungkinan masih satu bagian. Bisa jadi ini struktur rumah zaman dulu. Soalnya ada sumur juga,” ucapnya menduga.
Terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Kabupaten Mojokerto Riedy Prastowo mengatakan, pihaknya belum bisa berkomentar banyak soal temuan tersebut. Dipastikannya, dalam waktu dekat pihakya bakal terjun ke lokasi bersama BPCB Jatim guna memeriksa ODCB tersebut. ’’Kemungkinan minggu depan kami akan cek ke lokasi, akan kami koordinasikan bersama BPCB Jatim,’’ terangnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto. (vad/fen) Editor : Fendy Hermansyah