Arkeolog BPCB Jatim sekaligus Ketua Tim Ekskavasi Situs Candi Selokelir Pahadi mengatakan, candi bercorak hindu tersebut merupakan salah satu candi utama di antara sekitar 200 situs yang ada kawasan Gunung Penanggungan.
Di antaranya, karena struktur candi lebih lengkap ketimbang lainnya. Terbukti dengan ditemukannya yoni, kelir, arca, hingga altar yang ada pada situs tersebut.
"Kami sudah temukan altar berukuran sekitar dua meter persegi di sisi utara candi. Tidak semua situs (di penanggungan) ada altarnya," terangnya.
Dikatakannya, struktur situs warisan Kerajaan Majapahit era Ratu Suhita terbilang megah. Sebab, dinding candi saat itu sudah dilengkapi panel relief yang terbilang istimewa.
Puluhan sisa patahan batu andesit yang ditemukan pada ekskavasi tahap empat itu punya corak indah. Tampak menggambarkan manusia, tumbuhan, dan hewan.
"Temuan panel relief ini indah sekali. Coraknya terbilang masih bagus karena masih terlihat jelas. Tapi waktu ditemukan kondisinya tidak sambung dan berurutan. Namanya juga runtuhan ya," urainya.
Lebih lanjut, kemegahan bangunan suci yang didirikan pada tahun 1360 saka itu ditunjuang dengan struktur punden berundak. Sekaligus dengan tiga halaman yang mengelilinginya.
Hanya saja, tim arkeolog BPCB Jatim belum bisa mengungkap struktur dinding keliling serta gapura situs untuk melengkapi bukti kemegahan situs saat masih berdiri kala itu. Namun, hal tersebut jadi salah satu target ekskavasi tahap lima yang bakal dilakukan tahun depan.
"Insyaallah ekskavasi tahap lima akan dilakukan semester dua tahun 2023. Kenapa layak dilanjutkan? Karena (situs) Selokelir ini salah satu situs utama dari sekitar 200 situs di Gunung penanggungan. Termasuk jalur kuno kereta kuda itu," tandas Pahadi. (vad/fen) Editor : Fendy Hermansyah