Ayuhanafiq mengatakan, saat menduduki Mojokerto, serdadu kolonial mendirikan pos pertahanan di jembatan Brangkal. Melalui pos tersebut, NICA mengontrol penuh lalu lintas dari arah Jombang yang menjadi wilayah kekuasaan pejuang RI.
Menurutnya, didirikannya pos pertahanan di jembatan Brangal tersebut bertujuan mengantisipasi masuknya pejuang ke wilayah Kota Mojokerto yang notabene telah diduduki Belanda. ”Di depan Majid Al-Ichsan, Belanda juga menyiagakan kendaraan tempur tank dan panser,” imbuhnya.
Sebelum kedatangan Belanda, Masjid Al-Ichsan yang berada satu dengan pondok pesantren asuhan Kiai Ichsan sudah lebih dulu ditinggal mengungsi. Kondisi masjid yang kosong itu kemudian dijadikan sebagai markas pos pertahanan NICA.
Para pejuang sempat berusaha merebut kembali bekas markas Laskar Hizbullah Kecamatan Sooko itu. Yaitu dengan melakukan penyerangan terhadap pos pertahanan Brangkal. Namun, benteng dari serdadu kolonial itu gagal tertembus. ”Kompleks masjid dan pesantren Kiai Ichsan akhirnya bisa kembali dikuasai pejuang setelah Belanda angkat kaki dari Mojokerto di akhir tahun 1949,” pungkasnya. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah