Oleh: Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I
Staf Khusus Menteri Desa & PDT
SORAK-sorai dan pekik kegembiraan seolah masih terdengar hingga kini, setelah Timnas Indonesia berhasil meraih gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 dengan mengalahkan Thailand melalui adu penalti pada laga final, Senin (5/10), di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Kegembiraan itu bergerak serentak dan terus bergema, terutama di dunia maya. Hampir semua platform media sosial menayangkan beragam ekspresi kebahagiaan para suporter Indonesia.
Ada yang mengungkapkan rasa bangga atas prestasi tersebut. Ada pula yang menuangkan kepuasannya melalui analisis permainan, disertai sanjung puji kepada para pemain dan pelatih. Semua itu merupakan ekspresi wajar atas sebuah kemenangan yang telah lama dinantikan.
Namun, di tengah euforia tersebut, muncul pula ekspresi kegembiraan yang patut direnungkan. Tidak sedikit yang merayakan kemenangan dengan mengejek dan merendahkan negara atau tim lain. Seolah-olah kemenangan menjadi kesempatan untuk meninggikan diri dan merendahkan pihak yang kalah. Ungkapan semacam ini kemudian memenuhi beranda media sosial dan sangat mungkin memantik permusuhan.
Padahal, kegembiraan semestinya dapat menjadi peristiwa kontemplatif yang bernilai ibadah. Caranya adalah dengan menjadikan kegembiraan sebagai momentum untuk bersyukur.
Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah. Syukur merupakan pengakuan seorang hamba atas nikmat yang diterimanya sekaligus kesadaran bahwa segala nikmat pada hakikatnya berasal dari Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang diridai oleh Allah SWT.
Kegembiraan atas sebuah nikmat seharusnya bermuara pada syukur. Bahkan Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. Kemenangan Timnas Indonesia, rasa bangga tentu merupakan sesuatu yang sama-sama kita rasakan. Merah Putih berkibar, lagu kebangsaan berkumandang, dan prestasi anak-anak bangsa patut dirayakan.
Namun, kebanggaan itu jangan sampai berubah menjadi kesombongan. Sebab, kemenangan tidak pernah memberikan alasan kepada kita untuk merendahkan orang lain.
Di tengah budaya media sosial seperti saat ini, jari kita begitu mudah mengetik komentar, membuat meme, atau membagikan unggahan yang mengejek pihak lain. Dalam hitungan detik, sebuah ejekan dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan orang. Kegembiraan yang semestinya menjadi syukur akhirnya justru berubah menjadi sumber luka dan permusuhan.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kesombongan bukanlah perkara sepele. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun sebesar zarrah. Kesombongan itu, sebagaimana dijelaskan Nabi, adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
Maka, kemenangan Timnas Indonesia seharusnya menjadi kegembiraan bersama, bukan alasan untuk memusuhi sesama. Kita boleh bangga, boleh bersorak, boleh merayakan, bahkan boleh menikmati euforia kemenangan. Tetapi semua itu akan menjadi lebih terhormat jika disertai rasa syukur dan penghormatan kepada pihak lain.
Sebab, kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya ketika kita berhasil mengalahkan lawan di lapangan. Kemenangan yang lebih tinggi adalah ketika keberhasilan itu tidak membuat kita kehilangan kerendahan hati.
Kemenangan boleh melahirkan kebanggaan, tetapi kebanggaan tidak boleh melahirkan penghinaan. Islam dengan tegas melarang sikap mengolok-olok orang lain. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11: ”Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok.”
Menjadikan kemenangan sebagai alasan untuk mengejek dan merendahkan tim atau bangsa lain justru bertentangan dengan nilai Islam. Kegembiraan semestinya menghadirkan syukur, bukan kesombongan; mempererat persaudaraan, bukan menumbuhkan permusuhan.
Akan lebih indah jika kemenangan Timnas Indonesia membuat kita semakin mencintai Indonesia, semakin menghargai perjuangan para pemain, semakin menghormati lawan, sekaligus semakin dekat kepada Allah SWT. Dengan wasilah kemenangan Timnas mari kita gunakan sebagai momentum mencapai prestasi berikutnya dengan cara bersyukur dan berharap Ridla Allah SWT. Amiin Ya Rabbal Alamiin. (*)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto