Oleh : Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I.
Staf Khusus Menteri Desa & PDT
MEMBANGUN desa bukan semata-mata memperbaiki jalan, membangun gedung, atau menghadirkan berbagai infrastruktur fisik. Lebih dari itu, pembangunan desa sejatinya adalah membangun manusia yang tinggal di dalamnya. Sebab, infrastruktur yang baik tidak akan banyak berarti apabila tidak diikuti oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu mengelola, mengembangkan, dan memanfaatkannya.
Karena itu, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting, terutama generasi muda. Pemuda bukan sekadar penerima manfaat pembangunan desa, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian penting dari proses perubahan. Mereka memiliki energi, kreativitas, kemampuan teknologi, serta cara pandang yang dibutuhkan untuk membawa desa menghadapi perubahan zaman.
Terlebih bagi kalangan pelajar. Sekolah tidak seharusnya hanya menjadi tempat untuk mengejar nilai akademik, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan kecintaan terhadap lingkungan tempat mereka tumbuh. Pelajar perlu mengenal desa bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang kehidupan yang memiliki potensi sekaligus persoalan yang harus dipahami bersama.
Maka dalam kesempatan tulisan kali ini, saya menyampaikan apresiasi terhadap gagasan Murid Memajukan Desa (MMD) yang digagas Kepala SMAN 1 Pacet. Program ini menarik karena menempatkan siswa sebagai bagian dari proses pembelajaran sekaligus pembangunan masyarakat.
Dalam kunjungan ke SMAN 1 Pacet, saya mendapat penjelasan bahwa melalui MMD, siswa dapat belajar bahwa desa memiliki kekayaan yang tidak selalu ditemukan di dalam buku pelajaran. Ada potensi pertanian, peternakan, UMKM, wisata, ekonomi kreatif, budaya, hingga kelembagaan masyarakat. Pada saat yang sama, mereka juga dapat melihat secara langsung persoalan desa seperti keterbatasan lapangan kerja, pemasaran produk, pengelolaan lingkungan, literasi digital, maupun regenerasi pelaku usaha dan petani.
Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika Kabupaten Mojokerto dipersiapkan menjadi pusat peringatan Hari Desa Nasional pada Januari 2027. Momentum nasional ini semestinya tidak hanya menjadi agenda pemerintah dan masyarakat desa. Sekolah dan para pelajar juga perlu dilibatkan secara aktif.
Hari Desa Nasional dapat menjadi momentum untuk mendekatkan dunia pendidikan dengan desa. Sekolah dapat mengajak siswa melakukan berbagai kegiatan sederhana tetapi bermakna: mengenali potensi desa, mendokumentasikan sejarah dan budaya lokal, membantu promosi produk UMKM, membuat konten digital tentang desa, melakukan aksi lingkungan, hingga menyusun gagasan sederhana tentang inovasi desa.
Dengan demikian, peringatan Hari Desa Nasional tidak berhenti pada seremoni semata. Ia dapat menjadi gerakan pendidikan yang mempertemukan sekolah dengan masyarakat desa. Setiap sekolah dapat memiliki satu desa dampingan atau desa mitra. Para siswa melakukan pemetaan potensi, mengenal pelaku UMKM, belajar dari petani, berdialog dengan perangkat desa, dan mengenal berbagai inovasi yang telah dilakukan masyarakat.
Karena itu, gagasan MMD layak dikembangkan lebih luas. Ia dapat menjadi contoh bagaimana sekolah mengambil bagian dalam membangun desa melalui pendidikan. Momentum Hari Desa Nasional 2027 di Kabupaten Mojokerto dapat menjadi panggung untuk memperkenalkan sekaligus memperluas gerakan semacam ini.
Membangun desa bukan hanya tugas kepala desa, perangkat desa, atau pemerintah. Desa adalah rumah bersama. Pemuda adalah generasi yang akan menentukan apakah rumah itu sekadar dihuni atau benar-benar dikembangkan menjadi ruang kehidupan yang maju, mandiri, dan berdaya saing.
Karena itu, jika kita ingin melihat desa yang kuat pada masa depan, jangan hanya bertanya berapa banyak infrastruktur yang telah dibangun. Kita juga harus bertanya: sudah sejauh mana anak-anak muda kita mengenal, mencintai, dan mau memajukan desanya?
Membangun desa adalah membangun Indonesia. Indonesia yang kuat tidak mungkin lahir dari desa yang tertinggal, dan Indonesia yang maju membutuhkan desa-desa yang mandiri, produktif, inovatif, serta dihuni generasi muda yang berdaya. Dari desa, pembangunan dimulai; dari desa pula masa depan Indonesia dipertaruhkan. Maka, ketika kita mengajak pemuda untuk memajukan desa, sesungguhnya kita sedang menyiapkan generasi yang akan membangun Indonesia menuju masa depan yang lebih maju dan berkeadilan. Desa Terdepan untuk Indonesia. (*)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto