Indahnya Sujud, Indahnya Lisan

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 19:01 WIB
Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc.,M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT Republik Indonesia.
Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc.,M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT Republik Indonesia.

Oleh: Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I.

Staf Khusus Menteri Desa & PDT 

ADA sesuatu yang indah dalam sujud. Ketika dahi menyentuh tempat paling rendah, sesungguhnya seorang manusia sedang belajar menempatkan dirinya pada posisi yang benar: tidak ada yang lebih tinggi di hadapan Allah SWT selain Dia. 

Sujud bukan sekadar gerakan dalam rangkaian salat. Ia adalah simbol kerendahan hati. Di saat kepala yang sering merasa paling tahu, paling benar, paling hebat, dan paling layak dihormati itu ditundukkan, seorang hamba sedang diajari untuk mengalahkan kesombongan dirinya. 

Karena itu, seharusnya ada perubahan dalam diri seseorang yang benar-benar menikmati sujud. Semakin sering dahinya menyentuh bumi, semakin lembut hatinya. Semakin khusyuk ia merendahkan diri kepada Allah SWT, semakin ia mampu menahan lisannya agar tidak meninggikan dirinya dan merendahkan orang lain. 

Rasulullah SAW pernah mengingatkan, bahwa keselamatan seorang insan sangat berkaitan dengan kemampuannya menjaga lisan. Dalam sebuah hadis disebutkan: ”Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Pesan ini menjadi penting di tengah kehidupan yang semakin ramai oleh suara. Hari ini, lisan tidak hanya berbentuk kata-kata yang keluar dari mulut. Jari-jari di atas papan ketik juga telah menjadi perpanjangan lisan. Komentar, unggahan, pesan singkat, bahkan sebuah tanda suka atau tidak suka dapat menjadi sarana menyampaikan penghormatan sekaligus penghinaan. 

Betapa sering seseorang rajin beribadah, hafal Alquran, pandai berdakwah, tetapi lisannya masih gemar melukai. Salatnya tidak pernah ditinggalkan, tetapi ia mudah mencela. Ia rajin bersujud, tetapi sulit meminta maaf. Ia menghadap Allah SWT dengan merendahkan kepala, tetapi ketika berhadapan dengan sesama manusia justru gemar meninggikan diri. 

Sebab hakikat sujud adalah pengakuan bahwa kita bukan siapa-siapa di hadapan kebesaran Allah SWT. Apa yang layak disombongkan manusia? Ilmu yang dimiliki adalah pemberian-Nya. Harta yang dikumpulkan adalah titipan-Nya. Jabatan yang dibanggakan adalah amanah yang suatu saat akan ditinggalkan. Bahkan kehidupan itu sendiri adalah karunia yang tidak pernah kita ciptakan sendiri. 

Orang yang memahami makna sujud tidak perlu sibuk menunjukkan bahwa dirinya paling hebat. Ia tidak merasa perlu memenangkan setiap perdebatan. Ia tidak harus merendahkan orang lain agar dirinya terlihat lebih tinggi. Ia mampu mengatakan: ”Saya mungkin salah.” Ia tidak malu meminta maaf. Ia juga tidak merasa kehilangan kehormatan ketika memilih diam daripada mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. 

Mari menjadikan setiap sujud sebagai latihan menundukkan ego. Ketika dahi menyentuh bumi, bisikkan dalam hati bahwa kita adalah hamba. Tidak lebih tinggi dari siapa pun karena jabatan, tidak lebih mulia karena harta, dan tidak lebih berhak merendahkan orang lain hanya karena merasa memiliki pengetahuan atau kelebihan tertentu. 

Maka, mari kita menghayati kembali setiap sujud yang kita lakukan. Jangan biarkan dahi merendah di hadapan Allah SWT, sementara hati justru meninggi di hadapan manusia. Jangan pula setelah bangkit dari sujud, lisan kita kembali digunakan untuk merendahkan, mencela, dan menyakiti sesama. 

Di zaman ketika lisan telah menemukan bentuk baru melalui jari-jari yang mengetik komentar, mengunggah status, dan menyebarkan informasi, menjaga lisan berarti juga menjaga jari. Semoga setiap sujud tidak berhenti pada gerakan tubuh, tetapi benar-benar menundukkan ego, melembutkan hati, mengendalikan ucapan, dan membuat kita bijak dalam menggunakan jari-jari di ruang digital. Sebab, indahnya sujud bukan hanya ketika dahi menyentuh bumi, tetapi ketika setelahnya kita mampu menjadi manusia yang lebih rendah hati, lebih santun, dan lebih aman bagi sesama. (*)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
Afif Zamroni gus afif opini gus afif opini radar mojokerto