Pola Perilaku Konsumtif Santri Putri MA Nurul Islam II terhadap Produk Kekinian

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 15:07 WIB
Oleh: Anggi Nilta Alfaini, Dhea Lita Veni Tiara Rosa, Finna Maulidyah Salsabillah, Lailatul Auliyah, Putri Nur Amelia, dan Syifa Syafira, siswa kelas 12 Social Class MA Nurul Islam. Pembimbing: Novi Herlina, S.Pd.
Oleh: Anggi Nilta Alfaini, Dhea Lita Veni Tiara Rosa, Finna Maulidyah Salsabillah, Lailatul Auliyah, Putri Nur Amelia, dan Syifa Syafira, siswa kelas 12 Social Class MA Nurul Islam. Pembimbing: Novi Herlina, S.Pd. 

Oleh: Anggi Nilta Alfaini, Dhea Lita Veni Tiara Rosa, Finna Maulidyah Salsabillah, Lailatul Auliyah, Putri Nur Amelia, dan Syifa Syafira, siswa kelas 12 Social Class MA Nurul Islam. Pembimbing: Novi Herlina, S.Pd. 

PERKEMBANGAN masyarakat teknologi informasi, internet, dan media sosial telah membawa perubahan yang sangat besar terhadap pola pikir dan gaya hidup remaja. Berbagai informasi mengenai produk, tren, maupun gaya hidup dapat diakses dengan mudah melalui telepon genggam. Kondisi ini menyebabkan munculnya kecenderungan perilaku konsumtif pada kalangan remaja, termasuk santri yang tinggal di lingkungan pesantren. Produk-produk yang sedang populer atau dikenal sebagai produk kekinian sering kali menarik perhatian karena dianggap mampu meningkatkan rasa percaya diri, mengikuti perkembangan zaman, serta memperkuat hubungan sosial dengan teman sebaya. Akibatnya, sebagian remaja lebih terdorong membeli suatu barang berdasarkan keinginan daripada kebutuhan yang sebenarnya. 

Perilaku konsumtif merupakan kecenderungan seseorang membeli barang atau menggunakan jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan manfaat dan tingkat kebutuhan. Pembelian dilakukan lebih banyak didorong oleh rasa ingin memiliki, mengikuti tren, atau memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitar. Pada usia remaja, perilaku seperti ini cukup mudah muncul karena mereka sedang berada pada tahap pencarian jati diri sehingga cenderung ingin menyesuaikan diri dengan kelompok pergaulannya. Pengaruh media sosial yang menampilkan berbagai produk viral juga semakin memperkuat keinginan tersebut. 

Di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Islam II, berbagai kebutuhan santri telah difasilitasi melalui unit usaha pondok, seperti koperasi dan Nuris Grafika yang menyediakan perlengkapan belajar, perlengkapan ibadah, alat tulis, makanan ringan, hingga berbagai kebutuhan harian lainnya. Keberadaan fasilitas tersebut memberikan kemudahan bagi santri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus keluar dari lingkungan pesantren. Namun demikian, kemudahan memperoleh barang juga dapat memengaruhi pola konsumsi apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan secara bijaksana. 

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap beberapa santri putri kelas XI MA Nurul Islam II, diketahui bahwa sebagian santri pernah membeli produk kekinian karena tertarik mengikuti tren yang sedang berkembang. Produk yang dibeli umumnya berupa makanan viral, minuman, aksesori, perlengkapan pribadi, maupun barang-barang lain yang sedang populer di media sosial. Sebagian besar narasumber mengakui bahwa keputusan membeli barang tersebut tidak selalu didasarkan pada kebutuhan, melainkan karena rasa penasaran, ajakan teman, atau keinginan untuk tidak tertinggal tren. Meskipun demikian, para santri juga memahami bahwa perilaku tersebut sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan karena dapat menimbulkan pemborosan. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial menjadi salah satu faktor yang cukup besar memengaruhi munculnya perilaku konsumtif. Berbagai konten promosi, ulasan produk, maupun rekomendasi dari kreator digital mampu meningkatkan minat beli remaja. Selain itu, lingkungan pertemanan juga memiliki pengaruh yang cukup kuat. Keinginan untuk memiliki barang yang sama dengan teman sering kali membuat seseorang membeli produk tertentu meskipun sebenarnya belum dibutuhkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perilaku konsumtif tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh faktor psikologis dan sosial. 

Dari sudut pandang teori perilaku konsumen, seseorang akan berusaha memperoleh kepuasan melalui barang atau jasa yang dibelinya. Namun, kepuasan tersebut sering kali bersifat sementara sehingga muncul keinginan untuk kembali membeli produk lain yang lebih baru. Sementara itu, menurut teori hierarki kebutuhan Maslow, manusia memiliki tingkatan kebutuhan yang seharusnya dipenuhi secara bertahap. Dalam perilaku konsumtif, sering kali kebutuhan penghargaan atau pengakuan sosial lebih diutamakan dibandingkan kebutuhan yang benar-benar penting. Hal inilah yang menyebabkan seseorang melakukan pembelian hanya untuk memperoleh kepuasan sesaat. 

Meskipun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan adanya kesadaran dari para santri mengenai pentingnya hidup hemat dan sederhana. Sebagian besar narasumber menyatakan bahwa mereka mulai belajar mengendalikan keinginan berbelanja dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mereka menyadari bahwa uang saku yang dimiliki akan lebih bermanfaat apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, ditabung, atau dimanfaatkan untuk kegiatan yang bernilai ibadah seperti sedekah. Kesadaran tersebut merupakan modal penting dalam membentuk perilaku konsumsi yang lebih bertanggung jawab. 

Lingkungan pesantren juga memiliki peran besar dalam mengurangi perilaku konsumtif melalui berbagai pembiasaan positif. Nilai kesederhanaan yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari, kedisiplinan dalam penggunaan uang saku, serta pembinaan karakter yang dilakukan oleh pengasuh dan ustaz menjadi faktor pendukung terbentuknya pola hidup yang lebih hemat. Selain itu, keberadaan program seperti Nuris School Banking memberikan kesempatan kepada santri untuk belajar menabung sejak dini sehingga mereka lebih mampu mengatur keuangan secara mandiri. 

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku konsumtif memang dapat ditemukan pada sebagian santri putri kelas XI MA Nurul Islam II sebagai bagian dari dinamika perkembangan remaja di era digital. Namun, perilaku tersebut bukan merupakan karakter yang mendominasi kehidupan santri. Justru melalui pendidikan karakter, pembiasaan hidup sederhana, serta lingkungan pesantren yang kondusif, para santri semakin memahami pentingnya mengelola keuangan dengan bijak dan menggunakan uang sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter, literasi keuangan, serta pendampingan dari pihak pesantren tetap perlu dilakukan agar santri mampu menjadi pribadi yang sederhana, mandiri, bertanggung jawab, serta tidak mudah terpengaruh oleh gaya hidup konsumtif yang berkembang di masyarakat. (*) 
 
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
opini jawa pos opini mahasiswa ponpes nurul islam opini siswa