Analisis Tanah Lumpur Lapindo terhadap Tanaman Cabai di Ladang Ilmu Nurul Islam

Moch. Chariris • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 20:21 WIB
Oleh: Nur Laila Muchoiyaroh, Nazliyatul Ifgar Lepi, Sani’a Fatihatul Rizqiyah, Nur Hazizah Rachmadhani, Nuril Adawiyah, Lintang Sukma Nur Aini, dan Carissa Nabila Putri.  Pembimbing, Adis Aditya Nuzulia Rohmah, S.Pd.
Oleh: Nur Laila Muchoiyaroh, Nazliyatul Ifgar Lepi, Sani’a Fatihatul Rizqiyah, Nur Hazizah Rachmadhani, Nuril Adawiyah, Lintang Sukma Nur Aini, dan Carissa Nabila Putri.  Pembimbing, Adis Aditya Nuzulia Rohmah, S.Pd. 

Oleh: Nur Laila Muchoiyaroh, Nazliyatul Ifgar Lepi, Sani’a Fatihatul Rizqiyah, Nur Hazizah Rachmadhani, Nuril Adawiyah, Lintang Sukma Nur Aini, dan Carissa Nabila Putri.  Pembimbing, Adis Aditya Nuzulia Rohmah, S.Pd.

LUMPUR Lapindo merupakan bencana lingkungan di Sidoarjo sejak 29 Mei 2006 yang berdampak pada permukiman, pertanian, dan lingkungan sekitar. Lumpur ini mengandung mineral seperti silika, kalsium, dan magnesium yang berpotensi dimanfaatkan sebagai campuran media tanam, tetapi kandungan logam berat, salinitas, dan teksturnya dapat menghambat pertumbuhan tanaman jika berlebihan. 

Penelitian Army Dita Serdani (2019) menunjukkan adanya pengaruh media lumpur Lapindo dan mikoriza terhadap pertumbuhan sawi, sedangkan Muhammad Jarot Erwiyansyah (2015) menemukan bahwa peningkatan persentase lumpur Lapindo cenderung menurunkan tinggi tanaman. 

Hildatul Jannah (2021) juga menyatakan bahwa lahan terdampak lumpur Lapindo memiliki tingkat kesuburan rendah. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan di ladang Ilmu Nurul Islam untuk mengetahui pengaruh berbagai komposisi lumpur Lapindo terhadap pertumbuhan tanaman cabai serta potensinya sebagai alternatif media tanam yang tepat dan ramah lingkungan. 

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif untuk mengetahui pertumbuhan tanaman cabai pada media tanah biasa dan campuran lumpur Lapindo dengan komposisi berbeda. Pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, perkembangan akar, dan jumlah buah, dengan data diperoleh melalui observasi langsung dan studi pustaka dari sumber ilmiah yang relevan. 

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan lumpur Lapindo dalam media tanam memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Tanaman yang tumbuh pada media kontrol cenderung menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan tanaman yang mendapatkan campuran lumpur Lapindo dalam konsentrasi tinggi. 

Pada campuran lumpur Lapindo dalam jumlah rendah, tanaman masih mampu mengalami pertumbuhan dengan cukup baik. Namun, peningkatan jumlah lumpur Lapindo dalam media cenderung diikuti dengan penurunan pertumbuhan tanaman. Kondisi tersebut dapat terlihat dari pertambahan tinggi tanaman yang lebih lambat, jumlah daun yang lebih sedikit, ukuran batang yang lebih kecil, serta perkembangan akar yang kurang optimal. 

Pada tahap produksi, tanaman dengan kandungan lumpur Lapindo yang lebih tinggi juga menunjukkan kecenderungan menghasilkan buah lebih sedikit dibandingkan tanaman pada media kontrol. 

Perbedaan pertumbuhan tersebut dapat dikaitkan dengan karakteristik fisik dan kimia media tanam. Media yang mengandung lumpur Lapindo dalam jumlah tinggi dapat menjadi lebih padat sehingga ruang bagi perkembangan akar menjadi terbatas. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi sirkulasi udara dan memengaruhi kemampuan media dalam mengatur air. 

Akar yang tidak berkembang secara optimal dapat menyebabkan proses penyerapan air dan unsur hara menjadi kurang efektif. Selain faktor fisik, kandungan garam dan unsur tertentu dalam lumpur Lapindo juga perlu diperhatikan karena konsentrasi yang tinggi dapat memberikan tekanan terhadap tanaman. Keberadaan logam berat dalam jumlah tertentu juga berpotensi mengganggu proses fisiologis tanaman apabila melebihi batas toleransi. 

Dengan demikian, penggunaan lumpur Lapindo sebagai media tanam tidak dapat dilakukan hanya dengan menambahkan lumpur dalam jumlah besar, tetapi perlu memperhatikan komposisi dan karakteristik media secara keseluruhan. 

Meskipun penggunaan lumpur Lapindo dalam jumlah tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman, material tersebut masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai campuran media tanam apabila dikelola dengan tepat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mencampurkannya dengan tanah yang memiliki kondisi lebih baik serta menambahkan bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, atau pupuk hayati. 

Bahan organik dapat membantu memperbaiki struktur media, meningkatkan kemampuan tanah dalam menyediakan unsur hara, serta mendukung aktivitas mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Pengelolaan tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak negatif karakteristik lumpur Lapindo sekaligus meningkatkan kualitas media tanam. 

Namun, pemanfaatan lumpur Lapindo untuk tanaman pangan tetap harus dilakukan secara hati-hati dan didukung oleh analisis laboratorium, terutama untuk mengetahui kandungan logam berat dan parameter kimia lainnya. 

Berdasarkan hasil kajian tersebut, dapat diketahui bahwa tanah yang mengandung lumpur Lapindo memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Campuran lumpur Lapindo dalam jumlah rendah masih memungkinkan tanaman tumbuh, sedangkan penggunaan dalam konsentrasi yang lebih tinggi cenderung menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kurang optimal. 

Faktor kepadatan media, kondisi drainase dan aerasi, salinitas, serta kemungkinan keberadaan unsur logam berat merupakan beberapa hal yang dapat memengaruhi kondisi tersebut. Oleh karena itu, lumpur Lapindo belum dapat dianggap sebagai media tanam utama yang aman tanpa melalui proses pengolahan dan pengujian lebih lanjut. 

Pemanfaatannya lebih tepat dikaji sebagai bahan campuran dengan komposisi tertentu dan disertai pengelolaan media yang sesuai. Penelitian ini menunjukkan bahwa lumpur Lapindo memiliki potensi dimanfaatkan sebagai media tanam, tetapi perlu memperhatikan pH, salinitas, unsur hara, dan kadar logam berat. 

Penambahan bahan organik atau pupuk hayati dapat membantu meningkatkan kualitas media. Dengan pengelolaan yang tepat, lumpur Lapindo dapat dimanfaatkan secara bijaksana dengan tetap memperhatikan keamanan tanaman, lingkungan, dan manusia. (*)

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
Nuris mojokerto opini mahasiswa ponpes nurul islam opini siswa