Oleh: Ayu Robiussani, Desvita Anggraini, Mahdalena, Najwatan Alya Rosyida, Nuril Alfiatun Najwa, Shiwi Mahmudah, dan Thalita Nasywa Shafiqoh.
Siswa 12 Social Class 2 MA Nurul Islam. Pembimbing, Adis Aditya Nuzulia Rohmah, S.Pd.
AIR merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Selain digunakan sebagai kebutuhan konsumsi, air juga berperan penting dalam menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh. Di lingkungan pondok pesantren, air dimanfaatkan setiap hari untuk mandi, berwudu, mencuci pakaian, membersihkan kamar, kamar mandi, tempat wudu, serta menjaga kebersihan lingkungan pondok. Oleh karena itu, penggunaan air yang baik dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi dua aspek penting dalam menjaga kesehatan kulit para santri.
Pondok Pesantren Nurul Islam II telah membangun budaya kebersihan melalui berbagai kegiatan, seperti pelaksanaan rokan secara rutin, pembagian tugas kebersihan setiap kamar, pembersihan kamar mandi, tempat wudu, halaman, saluran air, serta lingkungan sekitar pondok. Upaya tersebut menunjukkan komitmen pesantren dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman sehingga dapat mendukung kesehatan seluruh santri.
Gangguan kesehatan kulit, seperti skabies, infeksi jamur, dermatitis, maupun gatal-gatal, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain penggunaan air, perilaku hidup bersih dan sehat, kebiasaan menjaga kebersihan diri, penggunaan perlengkapan pribadi, kondisi sanitasi lingkungan, serta daya tahan tubuh juga berperan dalam menjaga kesehatan kulit.
Oleh karena itu, munculnya gangguan kulit tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu faktor, melainkan merupakan hasil dari beberapa faktor yang saling berkaitan. Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Islam II Mojokerto menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi terhadap penggunaan air, kondisi lingkungan pesantren, serta penerapan PHBS. Selain itu, dilakukan wawancara semiterstruktur kepada dua belas santriwati kelas XI SC 2 MA Nurul Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan air dan perilaku hidup bersih dan sehat terhadap kesehatan kulit santriwati.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, para responden pada umumnya menyampaikan bahwa air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dapat dimanfaatkan dengan baik. Beberapa responden mengungkapkan bahwa kondisi air terkadang mengalami perubahan pada waktu tertentu, namun hal tersebut tidak berlangsung secara terus-menerus dan tidak menjadi penyebab utama gangguan kesehatan kulit. Di sisi lain, kegiatan rokan dan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan yang diterapkan di pesantren dinilai memberikan kontribusi positif dalam menciptakan lingkungan yang sehat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa santriwati pernah mengalami gangguan kesehatan kulit, seperti skabies, infeksi jamur, atau iritasi ringan. Namun, berdasarkan hasil wawancara, kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh perilaku hidup bersih yang belum diterapkan secara konsisten. Seperti menggunakan perlengkapan pribadi secara bergantian, kurang rutin mengganti pakaian atau sprei, serta kurang menjaga kebersihan tempat tidur. Dengan demikian, penggunaan air bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi kesehatan kulit santri.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan air dan PHBS memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga kesehatan kulit. Penggunaan air yang baik perlu didukung dengan kebiasaan hidup bersih agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal. Sebaliknya, meskipun air tersedia dengan baik, apabila perilaku hidup bersih belum diterapkan secara konsisten, risiko terjadinya gangguan kesehatan kulit tetap dapat meningkat.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa penggunaan air bersih merupakan salah satu pendukung kesehatan kulit. Namun demikian, kualitas dan penggunaan air perlu disertai dengan penerapan PHBS. Seperti menjaga kebersihan diri, menggunakan perlengkapan pribadi, menjaga kebersihan lingkungan, serta membiasakan pola hidup sehat agar kesehatan kulit tetap terpelihara. Oleh karena itu, santri diharapkan terus meningkatkan kebiasaan hidup bersih, seperti mandi secara teratur, menggunakan handuk dan perlengkapan mandi milik pribadi, mencuci pakaian dengan baik, mengganti sprei secara berkala, menjaga kebersihan kamar, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan rokan yang telah menjadi budaya positif di Pondok Pesantren Nurul Islam II.
Kebiasaan tersebut merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan diri sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan nyaman. Di sisi lain, pihak pengelola pesantren telah menunjukkan komitmen dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui pengelolaan kegiatan kebersihan secara rutin. Sebagai bentuk pengembangan yang berkelanjutan, upaya seperti pemeliharaan fasilitas air, pembersihan tandon air secara berkala, pemeriksaan kualitas air apabila diperlukan, serta edukasi mengenai pentingnya PHBS kepada seluruh santri dapat terus dilakukan sebagai bagian dari peningkatan kualitas pelayanan dan kenyamanan lingkungan pesantren.
Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan air dan PHBS berpengaruh terhadap kesehatan kulit santriwati di Pondok Pesantren Nurul Islam II. Penggunaan air yang baik perlu didukung oleh kebiasaan hidup bersih, penggunaan perlengkapan pribadi, serta sanitasi lingkungan yang terjaga agar kesehatan kulit tetap optimal. Budaya kebersihan yang telah diterapkan melalui kegiatan rokan menjadi salah satu bentuk nyata dalam mendukung terciptanya lingkungan pesantren yang bersih, sehat, nyaman, dan kondusif bagi kegiatan belajar maupun beribadah. (*)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto