Dampak Kurangnya Mindset Maju pada Remaja Masa Kini terhadap Masa Depan Pendidikan

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 12:26 WIB
Siti Chamidah, Siti Fatimatuzzahro Al Aini, Devita Nuril Maulidah, Aprilia Inka Putri Nuraini, Najwaa Syifa Rahmahdani, Hasnanda Alya, dan Niken Aisyarah Purnama, siswa 12 Social Class MA Nurul Islam. Di bawah bimbingan Rokhmat Sugianto, S. Sos.
OLEH: Siti Chamidah, Siti Fatimatuzzahro Al Aini, Devita Nuril Maulidah, Aprilia Inka Putri Nuraini, Najwaa Syifa Rahmahdani, Hasnanda Alya, dan Niken Aisyarah Purnama, siswa 12 Social Class MA Nurul Islam. Di bawah bimbingan Rokhmat Sugianto, S. Sos.

PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan, teknologi, dan globalisasi menuntut remaja memiliki pola pikir yang adaptif, kreatif, dan mampu menghadapi perubahan. Salah satu konsep yang mendukung hal tersebut adalah growth mindset yang dikemukakan oleh Carol Dweck, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat berkembang melalui usaha, ketekunan, serta proses belajar.

Sebaliknya, fixed mindset membuat seseorang mudah menyerah karena menganggap kemampuan yang dimiliki bersifat tetap. Perbedaan pola pikir ini sangat memengaruhi motivasi belajar, semangat mengembangkan diri, dan kesiapan remaja dalam menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.

Namun, masih banyak remaja yang memandang pendidikan hanya sebagai sarana memperoleh ijazah sehingga minat untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri menjadi rendah.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara semi-terstruktur kepada siswa kelas IX, siswa kelas XII, serta guru dan ustazah untuk mengetahui penyebab dan dampak kurangnya growth mindset terhadap masa depan pendidikan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa kelas IX, diketahui bahwa kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi rendahnya motivasi untuk melanjutkan pendidikan.

Selain itu, pengaruh pergaulan yang kurang kondusif, minimnya perhatian orang tua, serta kurangnya pengawasan terhadap penggunaan waktu luang turut menyebabkan sebagian remaja kehilangan semangat untuk mengembangkan diri.

Beberapa siswa mengaku mulai merasa bahwa pendidikan bukan lagi prioritas utama sehingga lebih memilih mengikuti lingkungan sekitar daripada mempersiapkan masa depan melalui proses belajar.

Mereka menyadari bahwa kebiasaan tersebut dapat berdampak negatif, tetapi kurang memperoleh motivasi dan pendampingan yang memadai untuk mengubah pola pikir mereka.

Hasil wawancara dengan siswa kelas XII menunjukkan temuan yang hampir serupa. Sebagian besar responden menyatakan bahwa tingginya biaya pendidikan menjadi alasan utama mereka memilih bekerja setelah lulus sekolah dibandingkan melanjutkan kuliah.

Selain faktor ekonomi, budaya menikah pada usia muda di lingkungan sekitar juga memengaruhi pandangan mereka terhadap pentingnya pendidikan tinggi.

Beberapa responden merasa bahwa menyelesaikan pendidikan menengah sudah dianggap cukup sehingga tidak memiliki tujuan yang jelas untuk terus mengembangkan kemampuan diri.

Kondisi tersebut menyebabkan mereka kurang memiliki perencanaan karier jangka panjang dan lebih mudah merasa puas dengan pencapaian yang telah diperoleh.

Sementara itu, hasil wawancara dengan guru dan ustazah menunjukkan bahwa rendahnya growth mindset pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain kurangnya motivasi, tekanan sosial, kondisi ekonomi, rendahnya kepercayaan diri, serta minimnya dukungan dari lingkungan keluarga.

Para pendidik juga mengamati bahwa remaja yang memiliki pola pikir tetap cenderung takut mencoba hal baru, mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, serta kurang memiliki inisiatif untuk meningkatkan keterampilan.

Akibatnya, mereka mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dunia kerja, maupun perubahan sosial yang terus berlangsung.

Kurangnya growth mindset memberikan dampak yang cukup luas terhadap masa depan pendidikan. Remaja menjadi kurang termotivasi untuk belajar secara berkelanjutan, enggan menerima tantangan, serta memiliki kecenderungan menghindari kegagalan daripada menjadikannya sebagai pengalaman belajar.

Selain itu, mereka juga lebih sulit mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah yang sangat dibutuhkan pada abad ke-21. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menghambat perkembangan kualitas sumber daya manusia serta mengurangi daya saing generasi muda di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Sebaliknya, remaja yang memiliki growth mindset menunjukkan karakter yang lebih optimis, gigih, terbuka terhadap kritik, serta memiliki kemauan untuk terus memperbaiki diri. Mereka memandang kesalahan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan percaya bahwa keberhasilan diperoleh melalui usaha yang konsisten.

Pola pikir seperti ini mendorong mereka untuk terus meningkatkan kompetensi, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai peluang di masa depan.

Oleh karena itu, penanaman growth mindset menjadi salah satu aspek penting dalam menciptakan generasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan dan terus berkembang sepanjang hayat.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pembentukan growth mindset memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Orang tua memiliki peran dalam memberikan dukungan emosional, motivasi, serta penghargaan terhadap proses belajar anak, bukan hanya hasil yang dicapai.

Guru berperan menciptakan suasana pembelajaran yang mendorong keberanian mencoba, berpikir kritis, dan menghargai setiap proses perkembangan peserta didik.

Sementara itu, masyarakat perlu menghadirkan lingkungan yang memberikan kesempatan kepada remaja untuk mengembangkan potensi melalui berbagai kegiatan positif, pelatihan keterampilan, maupun program pemberdayaan generasi muda.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa rendahnya growth mindset berpengaruh terhadap kualitas pendidikan dan kesiapan remaja menghadapi masa depan. Dampaknya terlihat pada rendahnya motivasi belajar, kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan keberanian menghadapi tantangan.

Oleh karena itu, growth mindset perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan, dukungan keluarga, sekolah, dan masyarakat agar remaja tumbuh menjadi generasi yang berdaya saing dan siap menghadapi perkembangan zaman. (*)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
opini mahasiswa opini radar mojokerto opini siswa