PERHELATAN Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, telah resmi usai.
Lebih dari sekadar ajang permusyawaratan tertinggi organisasi, muktamar kali ini menyisakan rekam jejak spiritual dan sosial yang amat mendalam.
Di tanah sejarah yang melahirkan para pahlawan dan ulama besar, warga Nahdliyin kembali memperlihatkan betapa kokohnya tali persaudaraan ketika dilandasi niat yang ikhlas.
Tulisan ini merangkum jejak-jejak kebaikan, romantika khidmat, serta potret ukhuwah yang merekat erat di antara para kiai, santri, dan warga Nahdliyin sepanjang perhelatan bersejarah ini.
Bahrul Ulum Tambakberas: Meresapi Keheningan dan Berkah Bumi Muassis
PPBU Tambakberas, Jombang bukan sekadar tuan rumah teknis, melainkan pangkuan spiritual. Sebagai salah satu pesantren tertua yang melahirkan pendiri (muassis) Nahdlatul Ulama, seperti KH Wahab Chasbullah, Tambakberas memancarkan aura keteladanan yang kuat.
”Di bumi Muassis, setiap langkah kaki bukan lagi soal kontestasi, melainkan upaya meneladani ketulusan para kiai sepuh yang telah mewakafkan hidupnya untuk jamiyah dan bangsa.”
Para peserta dan pengunjung yang hadir tidak hanya disuguhkan arena musyawarah, tetapi juga kesempatan untuk bertawasul, berziarah, dan menimbah keberkahan (ngalap berkah) dari jejak keikhlasan para pendiri NU. Napas perjuangan masa lalu seolah menjelma menjadi energi pemersatu di masa kini.
Potret Ukhuwah: Ketika Perbedaan Melebur dalam Kesejukan
Sebagaimana lazimnya sebuah forum besar, dinamika gagasan dan silang pendapat adalah hal yang tak terelakkan. Namun, keindahan Muktamar ke-35 NU justru terlihat pada kematangan warga Nahdliyin dalam mengelola perbedaan tersebut.
Kematangan Musyawarah: Seluruh perdebatan dalam komisi-komisi persidangan diselesaikan dengan tradisi kesantunan, penghormatan kepada ulama sepuh, dan semangat musyawarah mufakat.
Silaturahmi Lintas Generasi: Ruang-ruang di luar sidang menjadi saksi hangatnya pelukan antarkader. Para kiai sepuh, akademisi, penggerak banom, hingga para kader muda dari Sabang sampai Merauke saling bertukar senyum dan gagasan.
Merawat Kebersamaan: Setelah permusyawaratan tuntas, seluruh komponen kembali rapat dalam satu barisan, membuktikan bahwa persatuan jamiyah di atas segala-galanya.
Khidmat tanpa tapi: Dedikasi Nyata Bintangi Muktamar
Slogan ”Khidmat tanpa tapi” bukan sekadar jargon. Di arena muktamar, slogan ini hidup dan berdenyut melalui tindakan nyata jutaan insan yang terlibat.
Para relawan santri, alumni Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU), Badan Otonom (Banom) NU, Banser, Pagar Nusa, hingga warga lokal Tambakberas dan sekitarnya bekerja tanpa lelah siang dan malam.
Mereka mengatur lalu lintas, menyiapkan konsumsi, membersihkan sampah, hingga menyediakan tempat menginap gratis di rumah-rumah warga. Senyum ramah para relawan yang menyambut para tamu dari berbagai pelosok nusantara menjadi bukti paling sahih bahwa khidmat kepada NU adalah kebanggaan yang tak ternilai harganya.
Penutup: Merawat Api Spiritualitas Pasca-Muktamar
Muktamar telah usai, namun perjuangan baru saja dimulai. Jejak kebaikan yang terukir di bumi Muassis Tambakberas hendaknya tidak berhenti saat bendera muktamar diturunkan.
Tugas seluruh warga Nahdliyin kini adalah membawa pulang semangat persatuan, keikhlasan berkhidmat, dan optimisme tersebut ke daerah masing-masing.
Dengan melanggengkan semangat Khidmat tanpa tapi dan menjaga ukhuwah di segala tingkatan, Nahdlatul Ulama akan terus menjadi pilar pencerah dan pelindung bagi bangsa Indonesia.
Pesan Kebersamaan: Mari rapatkan barisan, leburkan perbedaan pasca-muktamar, dan bersama-sama memburu berkah dengan terus berkontribusi nyata bagi kemajuan agama, bangsa, dan jamiyah Nahdlatul Ulama. (*)
*) Penulis adalah Panlok Muktamar ke-35 NU Divisi Persidangan sekaligus IKABU Mojokerto Raya, Wakil Ketua PW Lakpesdam NU Jawa Timur, Koordinator Bidang Ekonomi dan Koperasi PW Fatayat NU Jawa Timur.
Editor : Moch. Chariris