Sekolah sebagai Motor Kemajuan Desa

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:48 WIB
Dr. H.M. Afif Zamroni, Lc, M.E.I, Staf Khusus Menteri Desa Bidang SDM dan Hubungan Kelembagaan.
Dr. H.M. Afif Zamroni, Lc, M.E.I, Staf Khusus Menteri Desa Bidang SDM dan Hubungan Kelembagaan.

Oleh: Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I.
Staf Khusus Menteri Desa dan PDT

"Pembangunan Indonesia tidak akan pernah paripurna tanpa desa vang mandiri, dan desa vang mandiri lahir dari generasi muda vang terdidik, berkarakter, serta berani berkarya di tanah kelahirannya.”

ADA paradoks yang sering luput dalam pembicaraan tentang pembangunan desa. Kita ingin desa maju, ekonominya tumbuh, produk lokalnya menembus pasar, tetapi pada saat yang sama banyak anak muda desa justru kita persiapkan untuk meninggalkan desa setelah menyelesaikan pendidikan.

Pembangunan desa tidak semestinya hanya dipahami sebagai pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pelayanan publik, atau penguatan ekonomi masyarakat. Di balik semua itu, terdapat satu faktor yang sangat menentukan keberlanjutan pembangunan desa, yakni kualitas sumber daya manusia. Karena itu, keterlibatan lembaga pendidikan dalam pembangunan desa bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategis.

Desa memiliki kekayaan potensi yang sangat besar, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, hingga kekayaan budaya dan kearifan lokal. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang secara optimal tanpa sumber daya manusia yang mampu mengelolanya. Pada titik inilah lembaga pendidikan memiliki posisi penting. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tetapi juga harus menjadi bagian dari ekosistem pembangunan desa.

Hal ini semakin relevan ketika melihat tantangan yang dihadapi generasi muda desa. Urbanisasi tenaga kerja muda, kesenjangan keterampilan vokasi, keterbatasan literasi digital, serta akses pasar yang belum merata menjadi persoalan yang harus dijawab bersama. Jika anak-anak muda desa hanya dipersiapkan untuk mencari pekerjaan di kota, desa akan kehilangan energi produktif yang sesungguhnya sangat dibutuhkan untuk mengembangkan potensi lokal.

Terutama bagi pendidikan vokasi, sekolah dapat menjadi engine of growth atau penggerak pertumbuhan kawasan perdesaan. Kompetensi yang dimiliki siswa dapat diarahkan untuk menjawab persoalan nyata masyarakat. Siswa bidang teknologi informasi, misalnya, dapat membantu digitalisasi BUMDes dan pemasaran produk UMKM. Siswa pertanian dapat mengembangkan mekanisasi dan teknologi budidaya. Siswa tata boga dapat mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah. Siswa desain dapat membantu pengemasan dan branding produk desa. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menghasilkan solusi yang dapat dirasakan masyarakat.

Hubungan sekolah dengan desa juga dapat diperluas melalui kolaborasi dengan BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih, pemerintah desa dan pelaku UMKM. Sekolah menyediakan pengetahuan, kreativitas dan talenta muda; sementara desa menyediakan ruang aktualisasi, potensi ekonomi dan persoalan nyata yang membutuhkan solusi. Kolaborasi semacam ini dapat menciptakan ekosistem inovasi yang saling menguatkan.

Pada sebuah diskusi, dalam rangkaian kunjungan ke beberapa sekolah, saya menyampaikan bahwa generasi muda memiliki posisi penting dalam pembangunan desa. Tantangan yang dihadapi memang tidak ringan: urbanisasi tenaga kerja muda, kesenjangan keterampilan vokasi, keterbatasan literasi digital, hingga akses pasar yang belum merata.

Namun, desa sesungguhnya menyimpan peluang yang jauh lebih besar. Fenomena sekolah unggulan, baik yang dikelola swasta ataupun negeri justru tumbuh di kawasan rural. Ini menunjukkan bahwa desa dapat menjadi lokasi tumbuhnya pusat pendidikan yang memiliki daya tarik jauh melampaui batas wilayahnya. Termasuk yang tidak kalah menarik adalah sekolah-sekolah yang dikelola oleh lembaga Pesantren, yang memungkinkan siswanya secara langusng mengaplikasikan ilmunya di tengah masyarkat.

Desa juga perlu dipandang sebagai laboratorium pembelajaran. Persoalan pertanian, sampah, energi, pangan, pariwisata, digitalisasi, hingga pengembangan UMKM dapat menjadi ruang bagi siswa untuk belajar sekaligus memberikan kontribusi. Desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi mitra pendidikan.

Tentu, pendidikan desa tidak cukup hanya menghasilkan tenaga terampil. Generasi muda juga membutuhkan karakter dan kepemimpinan. Mereka harus memiliki integritas, kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, serta keberanian mengambil inisiatif. Keterampilan teknis tanpa karakter dapat kehilangan arah, sementara karakter tanpa kompetensi akan sulit menghasilkan perubahan. Karena itu, karakter, keterampilan vokasi dan sinergi kelembagaan harus berjalan secara bersamaan.

Desa bukan tempat yang harus ditinggalkan oleh anak-anak muda. Desa adalah ruang yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Jika lembaga pendidikan mampu membangun generasi yang terampil, kreatif, berkarakter dan memiliki keberpihakan pada potensi lokal, maka sekolah tidak hanya mencetak lulusan. Sekolah sedang mencetak motor pembangunan desa. (*)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
Afif Zamroni gus afif sekolah desa kemajuan desa