Rumah yang Semakin Sepi

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:09 WIB
Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc.,M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT.
Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc.,M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT.

Oleh: Dr. H.M. Afif Zamroni, Lc, MEI

Staf Khusus Menteri Desa dan PDT 

KETIKA saya sedang makan di sebuah rumah makan sederhana, tidak jauh dari meja saya, ada satu keluarga yang tampaknya baru selesai berbelanja. Ayah, ibu, dan dua anak duduk mengelilingi meja yang sama. Makanan sudah tersaji. Minuman juga sudah datang. Tetapi hampir sepuluh menit, tidak ada percakapan. 

Sang ayah sibuk menggulir layar telepon genggamnya. Ibunya sesekali membalas pesan. Anak yang paling besar memakai earphone, sementara adiknya asyik menonton video pendek. Mereka berada di satu meja, tetapi masing-masing seperti hidup di dunia yang berbeda. 

Pemandangan semacam itu rasanya bukan lagi sesuatu yang asing. Kita dapat menjumpainya di ruang makan, ruang tamu, bahkan di dalam mobil ketika seluruh anggota keluarga sedang bepergian. Rumah masih berdiri, keluarga masih lengkap, tetapi percakapan perlahan menghilang. Kita hidup bersama, tetapi belum tentu saling hadir.

Ironisnya, hari ini kita bisa berbicara dengan teman yang berada ribuan kilometer jauhnya, tetapi kesulitan mengobrol lima belas menit dengan orang yang tidur di kamar sebelah. Kita tahu kabar artis yang tidak pernah kita temui, tetapi tidak tahu apa yang sedang dipikirkan anak sendiri. 

Kita cepat membalas pesan di grup pekerjaan, tetapi sering berkata, Nanti dulu, ketika orang tua mengajak berbicara. Barangkali yang hilang dari banyak rumah bukan lagi dinding atau atapnya. Yang hilang adalah percakapannya. 

Padahal, banyak persoalan dalam keluarga tidak muncul secara tiba-tiba. Ia berawal dari hal-hal kecil yang terus dibiarkan. Dari sapaan yang mulai jarang. Dari makan bersama yang semakin sulit dilakukan. Dari kebiasaan saling mendengar yang perlahan menghilang. Ketika komunikasi berhenti, prasangka biasanya mulai mengambil alih. 

Alquran memberikan gambaran yang menarik tentang keluarga Luqman. Allah SWT tidak hanya mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya, tetapi juga cara penyampaiannya. 

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya...(QS. Luqman: 13) 

Ayat ini sederhana, tetapi mengandung pelajaran besar. Sebelum ada nasihat, ada percakapan. Sebelum ada petuah, ada kedekatan. Luqman tidak sedang berpidato di hadapan banyak orang. Ia berbicara dari hati ke hati dengan anaknya. 

Mungkin itulah yang mulai sulit kita temukan hari ini. Kita ingin anak mendengar nasihat kita, tetapi kapan terakhir kita benar-benar mendengar cerita mereka? Kita berharap mereka terbuka, tetapi mereka tumbuh di rumah yang setiap orang lebih akrab dengan gawai dan teman di media sosialnya daripada dengan anggota keluarganya sendiri. 

Hubungan tidak dibangun oleh banyaknya foto keluarga yang diunggah ke media sosial. Hubungan dibangun oleh waktu, perhatian, dan kesediaan untuk saling mendengar. 

Karena itu Alquran kembali mengingatkan,Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...(QS. At-Tahrim: 6) 

Ayat ini sering dipahami sebagai perintah mendidik keluarga dalam urusan agama. Tentu benar. Namun, bagaimana mungkin pendidikan itu berlangsung jika rumah sudah kehilangan ruang untuk saling berbicara? Bukankah mendidik selalu dimulai dari hubungan yang hangat? 

Anak-anak jarang mengingat semua nasihat orang tuanya. Tetapi mereka hampir selalu mengingat apakah mereka didengarkan atau tidak. Begitu pula orang tua. Mereka mungkin tidak membutuhkan hadiah mahal. Kadang mereka hanya ingin ditemani berbicara tanpa kita sesekali melirik layar telepon. 

Rasulullah SAW adalah sosok yang memberi teladan dalam menghadirkan diri sepenuhnya kepada orang yang sedang berbicara. Para sahabat meriwayatkan bahwa ketika beliau berbincang dengan seseorang, beliau menghadapkan seluruh tubuhnya kepada lawan bicara. Sikap sederhana itu menunjukkan penghormatan sekaligus perhatian. 

Hari ini, perhatian menjadi sesuatu yang mahal. Tubuh kita berada di depan seseorang, tetapi pikiran kita sedang berada di tempat lain. Mata melihat lawan bicara, tetapi jari terus bergerak di atas layar. Kita mendengar, tetapi tidak benar-benar menyimak. Padahal Allah SWT memuji orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mendengarkan. 

(Yaitu) mereka yang mau mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik darinya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah...

(QS. Az-Zumar: 18) 

Menariknya, Alquran tidak mengatakan mereka yang paling banyak berbicara, melainkan mereka yang mau mendengarkan. Rupanya, mendengar dengan sungguh-sungguh juga merupakan bagian dari kecerdasan dan hidayah Allah SWT (petunjuk). 

Mungkin itu sebabnya banyak konflik dalam keluarga sebenarnya bukan karena tidak ada solusi. Masalahnya, tidak ada lagi yang mau mendengar. Semua ingin menjelaskan. Semua ingin dimengerti. Tidak banyak yang bersedia memahami. 

Barangkali kita tidak bisa sepenuhnya menghindari perkembangan zaman. Telepon genggam telah menjadi bagian dari pekerjaan, pendidikan, bahkan dakwah. Tidak ada yang salah dengan teknologi. Yang perlu kita waspadai adalah ketika teknologi mulai mengambil alih ruang-ruang yang seharusnya diisi oleh kehadiran kita. 

Rumah tidak menjadi hangat karena jaringan internetnya cepat. Rumah menjadi hangat karena ada percakapan yang membuat setiap penghuninya merasa di dengar. Mungkin kita tidak perlu langsung membuat aturan yang rumit. Cukup mulai dari hal-hal sederhana. Menyimpan telepon genggam saat makan bersama. Menanyakan kabar anak tanpa tergesa-gesa. Menelepon orang tua bukan karena ada keperluan. Mendengarkan pasangan tanpa sibuk menyusun jawaban sebelum ia selesai berbicara. 

Sering kali, kasih sayang tidak membutuhkan kata-kata yang besar. Ia hanya membutuhkan kehadiran. Kalau malam ini kita pulang ke rumah, cobalah melihat sekeliling. Bisa jadi rumah kita tidak sedang kekurangan furnitur, televisi, atau sambungan internet. 

Yang sedang kurang adalah percakapan. Dan jangan sampai, ketika semua itu kita sadari, rumah masih ada, tetapi kesempatan untuk saling berbicara sudah tidak lagi tersedia. (*)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
opini gus afif tausiah jumat opini radar mojokerto