Tambakberas dan Becak Listrik

Moch. Chariris • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 03:57 WIB
Hakam Al Faqih, Alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Hakam Al Faqih, Alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

 

Oleh: Hakam Al Faqih

Alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang 

DI tengah gempuran mobil Toyota Innova Reborn dan Alphard yang sangat masif, suasana lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang tetap konsisten dengan becak yang selalu berbaris rapi di perempatan, gang-gang kecil, bahkan di depan gerbang utama lingkungan  pondok pesantren. 

‎Penumpangnya pun beragam. Mulai dari kalangan santri, pejabat, bahkan tak jarang saya melihat beberapa alumni sepuh yang kini menjadi kiai top pun masih memanfaatkan alat transportasi becak tersebut.

Entah motif apa yang membuat beberapa pejabat bahkan kiai itu bersedia menurunkan standar sosialnya. Sehingga memilih memarkir mobil Toyota Innova Reborn miliknya dalam jarak yang lumayan jauh, kemudian menumpang becak untuk sekadar menelusuri asrama-asrama pesantren di lingkungan PPBU Tambakberas. 

‎Sekitar 15 tahun lalu, mula-mula becak di Tambakberas hanya becak kayuh yang dioperasikan dengan menggunakan tenaga manusia. Sehingga para tukang becak ini hampir tak pernah terusik dengan berita-berita bahan bakar minyak (BBM) naik atau tarif PLN yang semakin tinggi. Apalagi, sampai membuat susah tidur.

Hal itu, setidaknya dapat dibuktikan ketika aktivitas sekolah di lingkungan PPBU Tambakberas sedang berjalan. Sepi dari riwa-riwi para santri. Lalu lalang wali santri terjeda. Dan para tukang becak tertidur pulas di atas transportasi roda tiganya. 

Beberapa tukang becak legendaris yang terkenal di lingkungan PPBU Tambakberas di antaranya adalah almarhum Pak O. Sosok tukang becak yang ahli ngemong pelanggan dan humoris, meskipun terkadang guyon (bercanda) dengan napas tersengal-sengal.

Namun, seiring berjalannya waktu, PPBU Tambakberas mengalami transformasi yang cukup signifikan. Meski demikian, tetap mempertahankan nilai-nilai historis yang telah ditanamkan sejak ratusan tahun lalu.

‎Uniknya, perkembangan itu tidak hanya terjadi di ruang lingkup pendidikan pesantren yang ada di PPBU Tambakberas saja. Atribut-atribut penunjang lainnya pun turut mengalami transformasi. Seperti becak, misalnya. Yang sebelumnya hanya becak kayuh sekarang menjadi becak listrik.

Dalam dunia perbecakan, ini adalah sebuah lompatan teknologi yang cukup jauh dan solutif yang terjadi di abad ini. Di tengah stok nikel sedang melimpah dalam negara ini. 

Tetapi, tetap tidak merubah kerangka asli dan nilai histori becak. Justru saya sempat curiga, jika dalam bertransformasi, para ilmuan becak di area pesantren Tambakberas ini ternyata menggunakan kaidah Al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). 

Di sisi lain, di luar keberkahan yang ada, kecurigaan ini saya rasa terlalu jauh. Sebab, hanya karena ahli-ahli becak yang berhari-hari di lingkungan PPBU Tambakberas tidak lantas paham dan sadar tentang kaidah usul fikih. Karena ini hanya cerita tentang Tambakberas dan becak listrik. (*)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
Tambakberas opini radar mojokerto becak listrik