Oleh: Lilik Maslamah, M. Pd.I
Wakil Ketua PW Lakpesdam NU Jawa Timur dan Koordinator Bidang Ekonomi dan Koperasi PW Fatayat NU Jawa Timur
DI tengah gempitan persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, perbincangan mengenai struktur kepemimpinan, arah siyasah (politik kebangsaan), dan posisi keagamaan jamiyah kerap mendominasi ruang publik.
Namun, jauh di tapak-tapak akar rumput di dapur-dapur rumah tangga, di lorong-lorong pesantren, di ruang majelis taklim desa, dan di pelataran musala terdapat satu kegelisahan mendalam yang terus bergema di sanubari para ibu dan perempuan Nahdliyin: bagaimana menyelamatkan jiwa, akhlak, dan karakter anak-anak kita di era digital yang tak bertepi ini?
Anak-anak Nahdliyin hari ini tumbuh dalam realitas yang sangat berbeda dibanding generasi orang tuanya. Merekalah digital natives yang lahir dan dibesarkan di tengah gempuran algoritma, kecerdasan buatan (AI), arus informasi tanpa saringan, serta pergeseran budaya lokal yang makin tergerus oleh tren global.
Realitas Akar Rumput: Peta Tantangan Pengasuhan Hari Ini
Menurut pandangan saya terdapat empat krisis utama yang secara nyata mengancam tumbuh kembang anak muda Nahdliyin:
1. Kerentanan Mental dan Krisis Identitas Generasi Z & Alpha
Paparan media sosial berdurasi tinggi telah menciptakan fenomena kepungan ekosistem digital yang memicu tingginya tingkat kecemasan (anxiety), krisis kepercayaan diri, dan fenomena kesepian ekstrem di kalangan anak muda.
2. Erosi Etika dan Lunturnya Tradisi Sowan serta Tawaduk
Nilai-nilai dasar pesantren seperti tawaduk (rendah hati), adab kepada orang tua dan guru, serta tradisi penghormatan pada ilmu kini berhadapan langsung dengan budaya komunikasi internet yang serbainstan, sinis, dan cenderung egaliter tanpa batas sopan santun.
3. Penetrasi Ideologi Ekstremis dan Narasi Keagamaan Instan
Ruang digital telah menjadi medan pertempuran ideologi yang sangat agresif. Narasi keagamaan yang kaku, hitam-putih, dan bercorak intoleran kerap dikemas dengan sangat menarik melalui potongan video pendek yang disukai anak muda. Tanpa pendampingan dan literasi keagamaan yang kuat, generasi muda Nahdliyin berpotensi terpapar paham yang bertentangan dengan prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran) yang menjadi pilar NU.
4. Gap Antargenerasi dan Gagap Digital pada Orang Tua
Sebagian besar orang tua di akar rumput mengalami ketimpangan literasi digital (digital divide). Ketidakmampuan orang tua memahami dunia digital anak sering kali melahirkan dua pola ekstrem: pola asuh represif yang melarang total (namun akhirnya dicuri-curi oleh anak), atau pola asuh pembiaran karena orang tua merasa pasrah dan tidak berdaya menghadapi kecanggihan teknologi.
Akar Masalah: Mengapa Pola Pengasuhan Lama Perlu Dikontekstualisasikan?
Mengapa pendekatan pengasuhan yang kita terima di masa lalu tidak lagi sepenuhnya efektif menjawab tantangan hari ini? Perempuan Nahdliyin melihat ada beberapa pergeseran mendasar yang harus dipahami oleh seluruh jajaran pengurus NU dan warga jamaah. Ada tiga akar pergeseran yang terjadi:
1. Pergeseran Sumber Otoritas Informasi: Di masa lalu, orang tua, guru, dan kiai adalah sumber utama pengetahuan dan nilai moral.
2. Model Komunikasi yang Kaku: Pola pengasuhan satu arah yang mengandalkan instruksi tanpa ruang dialog membuat anak merasa tidak didengar.
3. Ketiadaan Ekosistem Pendukung di Akar Rumput: Majelis taklim dan pengajian rutin perempuan selama ini lebih banyak berfokus pada fikih ibadah ritual, namun masih minim memberikan porsi pembahasan mengenai parenting, ilmu psikologi anak, serta strategi pendampingan literasi digital keluarga.
Rekomendasi Strategis: Kerangka Aksi NU untuk Pengasuhan Digital
Muktamar ke-35 NU harus menghasilkan terobosan konkret yang berdampak langsung pada ketahanan keluarga Nahdliyin. Ada empat pilar rekomendasi kebijakan strategis untuk dirumuskan dalam Muktamar:
Pilar 1: Peluncuran ”Gerakan Keluarga Nahdliyin Ramah Digital”
NU melalui badan otonomnya (Muslimat, Fatayat, dan IPPNU) perlu menginisiasi gerakan nasional penguatan kapasitas orang tua di era digital:
a. Modul Parenting Berbasis Aswaja An-Nahdliyah:
b. Pelatihan Literasi Digital Keluarga:
Pilar 2: Pembentukan Unit Layanan Kesehatan Mental & Konseling Keluarga
a. Merekrut dan memberdayakan kader-kader muda Nahdliyin yang memiliki latar belakang psikologi, bimbingan konseling, dan kesejahteraan sosial untuk menjadi konselor keluarga NU.
b. Menyediakan ruang konseling ramah anak dan remaja yang bebas dari stigma, tempat anak muda bisa berkonsultasi mengenai masalah kesehatan mental, perundungan (bullying), dan krisis identitas.
Pilar 3: Inovasi Ekosistem Pendidikan Pesantren dan Madrasah
Pesantren sebagai jantung tradisi NU harus memelopori adaptasi pengasuhan berbasis hak anak dan responsif zaman:
a. Pesantren Ramah Anak dan Bebas Kekerasan: Memperkuat sistem perlindungan anak di lingkungan pesantren dan madrasah, memastikan iklim belajar yang aman, mengayomi, dan penuh kasih sayang (mubadalah).
b. Klub Kreativitas & Konten Positif: Memfasilitasi santri dan siswa NU dengan keterampilan pembuatan konten digital bermutu, sehingga mereka tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan produsen naskah, seni, dan dakwah moderat yang kreatif.
Pilar 4: Sinergi Banom NU untuk Pendampingan Berkelanjutan
Perlu pembagian peran yang terstruktur antarabadan otonom NU agar pendampingan berlangsung secara lintas generasi:
a. Muslimat NU: Penguatan fondasi spiritual dan ketahanan ekonomi ibu rumah tangga sebagai pilar utama keluarga.
b. Fatayat NU: Pusat edukasi parenting muda, pendampingan kesehatan reproduksi, dan penanganan kekerasan berbasis gender/anak.
c. IPNU & IPPNU: Ruang ekspresi peer-group (teman sebaya), literasi digital, kepemimpinan muda, dan wadah pencegahan kenakalan remaja/adiksi digital.
Memanggil Kesadaran Kolektif Jamiyah
Mendidik generasi muda di era hari ini memang menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks ketimbang masa-masa sebelumnya. Namun, kita tidak boleh menyerah pada ketakutan atau bersikap apatis terhadap perubahan zaman.
Nahdlatul Ulama memiliki modal sosial dan spiritual yang sangat besar: tradisi keilmuan yang tersambung (sanad), kehangatan ikatan komunitas, serta prinsip-prinsip keagamaan yang lentur dan mampu melintasi zaman.
Perempuan Nahdliyin memanggil seluruh pemangku kebijakan muktamar para kiai, nyai, pengurus jamiyah dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hingga ranting untuk tidak memandang isu pengasuhan ini sebagai urusan domestik perempuan semata. Ini adalah isu kedaulatan masa depan jamiyah. Mari kita jadikan Muktamar ke-35 NU sebagai titik balik pergerakan: merawat tradisi pengasuhan bernilai luhur, merangkul teknologi dengan bijaksana, dan memastikan setiap anak Nahdliyin tumbuh menjadi insan yang unggul, berilmu, bertakwa, serta berakhlakul karimah. (*)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto