Masih Ada Waktu?

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:25 WIB
Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc.,M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT.
Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc.,M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT.

 

Oleh: Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc.,M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT

Ada dua kata yang sering membuat banyak urusan tidak pernah benar-benar selesai: "nanti saja." 

MAU mulai olahraga, nanti saja. Mau membaca buku yang sudah dibeli berbulan-bulan lalu, nanti kalau ada waktu. Mau menghubungi orang tua, sebentar lagi. Bahkan untuk urusan ibadah, kita kadang menggunakan kalimat yang sama. Nanti kalau sudah tidak sibuk. Nanti kalau hati sudah tenang. Nanti kalau umur sudah sedikit lebih tua.

Masalahnya, “nanti” adalah waktu yang tidak pernah tercantum di kalender. Kita punya Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya. Ada Januari sampai Desember. Tetapi tidak pernah ada tanggal bernama nanti. Anehnya, banyak rencana penting justru kita simpan di sana.

Manusia memang punya kebiasaan merasa masih memiliki banyak waktu. Ketika masih muda, kita membayangkan usia tua masih sangat jauh. Ketika sehat, sakit seperti urusan orang lain. Ketika sedang bersama keluarga, kita merasa pertemuan berikutnya pasti masih ada. Karena merasa waktu tersedia begitu panjang, banyak hal baik akhirnya mudah ditunda.

Padahal, kalau dipikir-pikir, sebagian penyesalan terbesar dalam hidup sering lahir dari sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan lebih awal. Al-Qur'an beberapa kali menggambarkan penyesalan manusia ketika kesempatan untuk berbuat telah selesai. Allah Swt. berfirman: “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Menariknya, yang diminta dalam ayat itu adalah tambahan waktu. Bukan tambahan harta. Bukan pula jabatan. Manusia hanya ingin sedikit kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dahulu sempat ditunda. Tetapi waktu memiliki watak yang agak keras. Ia tidak pandai menunggu.

Setiap hari kita mendapatkan jatah yang sama: dua puluh empat jam. Orang kaya mendapat dua puluh empat jam. Orang miskin juga demikian. Pejabat, pedagang, guru, petani, semuanya memiliki jumlah waktu yang sama. Yang berbeda adalah bagaimana waktu itu digunakan.

Tentu tidak semua penundaan buruk. Ada keputusan yang memang perlu dipikirkan. Ada pekerjaan yang harus menunggu keadaan. Tidak semua hal harus dilakukan tergesa-gesa. Tetapi kita juga tahu, ada banyak penundaan yang sebenarnya bukan karena belum siap. Kita hanya malas memulai.

Urusan ibadah misalnya. Ada orang yang berkata ingin memperbaiki salatnya setelah kesibukan berkurang. Masalahnya, kesibukan punya kemampuan aneh untuk selalu menemukan bentuk baru. Setelah satu pekerjaan selesai, pekerjaan lain datang. Setelah satu urusan beres, muncul urusan berikutnya.

Kalau menunggu hidup benar-benar senggang untuk mendekat kepada Allah, mungkin kita akan menunggu sangat lama. Rasulullah saw. pernah mengingatkan: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)

Hadis ini sangat realistis. Rasulullah tidak mengatakan manusia akan selalu muda, selalu sehat, atau selalu memiliki waktu luang. Justru beliau mengingatkan bahwa keadaan akan berubah. Yang muda akan menua. Yang sehat bisa sakit. Waktu luang dapat berubah menjadi kesibukan.

Masalahnya, kita sering baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya. Ketika sehat, bangun pagi terasa biasa. Setelah sakit, bisa berjalan ke kamar mandi sendiri terasa seperti nikmat besar. Ketika orang tua masih ada, menelepon mereka kadang terasa bisa dilakukan kapan saja. Setelah mereka tiada, mendengar suaranya sekali lagi mungkin menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.

Manusia memang agak aneh. Kita pandai merindukan sesuatu yang sudah tidak ada, tetapi sering kurang pandai menjaga sesuatu ketika masih bersama kita. Karena itu, mungkin hidup tidak selalu membutuhkan rencana besar. Ada kebaikan-kebaikan kecil yang sebenarnya bisa dilakukan hari ini.  Membayar utang yang sebenarnya mampu dibayar. Meminta maaf. Membaca beberapa halaman buku. Atau sekadar kembali salat tepat waktu. 

Tidak harus menunggu Senin. Tidak harus menunggu awal bulan. Apalagi menunggu tahun baru. Kita sering menyukai momentum. Diet dimulai Senin. Membaca buku mulai awal bulan. Berubah menjadi lebih baik mulai tahun depan. Seolah-olah hari Selasa tanggal 17 tidak cukup sah untuk memulai kehidupan baru. Padahal Allah tidak pernah mensyaratkan perubahan harus dimulai pada tanggal yang bagus.

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” QS. Al-Baqarah: 148). Ada semangat bergerak dalam ayat itu. Kebaikan tidak hanya untuk direncanakan, dibicarakan, atau dimasukkan ke dalam daftar keinginan. Ia perlu dikerjakan.

Memang, memulai adalah bagian yang sering terasa paling berat. Kita membayangkan terlalu banyak hal sebelum melakukan langkah pertama. Ingin membaca Al-Qur'an satu juz setiap hari, akhirnya tidak mulai sama sekali. Ingin olahraga satu jam, lalu batal karena merasa tidak punya waktu. Padahal membaca satu halaman tetaplah membaca. Berjalan kaki lima belas menit tetap lebih baik daripada hanya menonton video tentang hidup sehat.

Kadang kita gagal berbuat baik karena ingin langsung menjadi sempurna. Padahal perubahan jarang datang dengan suara keras. Ia lebih sering tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Rasulullah saw. bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mungkin itu sebabnya kita tidak perlu menunggu menjadi orang yang sangat baik untuk mulai berbuat baik. Mulailah dari sesuatu yang mampu dilakukan. Tidak besar tidak masalah. Tidak diketahui orang lain juga tidak apa-apa. Yang penting dimulai. Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak “nanti” yang masih kita miliki.

Jadi, jika ada kebaikan yang sudah lama ingin dilakukan, mungkin tidak perlu menunggu hidup menjadi lebih tenang. Tidak perlu menunggu waktu luang datang. Dan tidak harus menunggu diri kita menjadi sempurna. Kerjakan saja yang bisa dikerjakan hari ini, besok memang terdengar dekat. Tetapi ia belum tentu menjadi milik kita.

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
Afif Zamroni gus afif mendes pdt stafsus mendes PDT