Jumat Bersepeda KK: Menanamkan Integritas, Memutus Mata Rantai Korupsi Sejak Dari Sekolah

Indah Oceananda • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:36 WIB
Oleh : Dra. Evi Poespito Hany, M.Pd*
Oleh : Dra. Evi Poespito Hany, M.Pd*

 

Oleh : Dra. Evi Poespito Hany, M. Pd.*)

*) Kepala SMPN 7 Mojokerto

KORUPSI bukan sekadar persoalan hukum. Korupsi adalah persoalan karakter, integritas, dan hilangnya kepercayaan. Ketika seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya, menyalahgunakan amanah, memanipulasi kebenaran, atau menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi, sesungguhnya ia sedang mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Karena itu, perang melawan korupsi tidak seharusnya hanya dimulai ketika seseorang telah menjadi pejabat, pemimpin, atau memiliki kekuasaan. Perlawanan terhadap korupsi harus dimulai jauh sebelumnya, yaitu ketika seseorang masih menjadi peserta didik.

Sekolah menjadi salah satu tempat paling strategis untuk menanamkan nilai tersebut. Di sekolah, seorang anak tidak hanya belajar membaca, menulis, berhitung, dan menguasai ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, sekolah adalah tempat membentuk kebiasaan, karakter, dan cara seseorang mengambil keputusan dalam kehidupannya.

Korupsi dan Bibit Perilakunya

Secara sederhana, korupsi adalah tindakan tidak jujur atau penyalahgunaan kepercayaan, kewenangan, atau kekuasaan untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri maupun pihak tertentu dengan merugikan kepentingan orang lain atau kepentingan bersama.

Ketika peserta didik menyontek dan menganggapnya sebagai hal biasa, ketika mengambil barang teman kemudian tidak mengembalikannya, ketika memanipulasi alasan agar terhindar dari tanggung jawab, ketika mengakui hasil pekerjaan orang lain sebagai miliknya, atau ketika melihat kecurangan tetapi memilih diam karena menganggap bukan urusannya, di situlah pendidikan karakter sedang diuji.

Tentu perilaku tersebut tidak serta-merta dapat disebut sebagai tindak pidana korupsi. Namun, perilaku tidak jujur, tidak bertanggung jawab, dan tidak menghargai hak orang lain merupakan kebiasaan yang harus dicegah agar tidak berkembang menjadi karakter buruk.

Inilah alasan mengapa pendidikan antikorupsi di sekolah sangat penting. Kita tidak menunggu anak melakukan kesalahan besar untuk kemudian mengajarkan kejujuran. Kita membangun kejujuran sebelum ketidakjujuran menjadi kebiasaan.

JUMAT BERSEPEDA KK: Sebuah Gerakan dari Hal-hal Kecil

Semangat tersebut diwujudkan di SMP Negeri 7 Mojokerto melalui nilai-nilai integritas yang dirangkum dalam sebuah akronim yang mudah diingat, yaitu ’’JUMAT BERSEPEDA KK.’’

JUMAT BERSEPEDA KK merupakan singkatan dari: Jujur, Mandiri, Tanggung Jawab, Berani, Sederhana, Peduli, Disiplin, Adil, dan Kerja Keras. Sembilan nilai tersebut bukan sekadar rangkaian kata. Di dalamnya terdapat pesan integritas harus diterjemahkan menjadi perilaku nyata.

Penerapan di SMP Negeri 7 Mojokerto

Di SMP Negeri 7 Mojokerto, JUMAT BERSEPEDA KK diharapkan tidak berhenti sebagai slogan yang terpampang di dinding sekolah. Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam keseharian seluruh warga sekolah.

Penerapannya dimulai dari proses pembelajaran, kegiatan kesiswaan, tata tertib, kegiatan organisasi, pembiasaan, interaksi antarwarga sekolah, hingga cara warga sekolah menjaga lingkungan dan fasilitas bersama.

Peserta didik dibiasakan untuk jujur dalam belajar, mandiri menyelesaikan tugas, bertanggung jawab terhadap kewajiban, berani menyampaikan kebenaran, hidup sederhana, peduli terhadap sesama dan lingkungan, disiplin terhadap aturan, adil dalam berinteraksi, serta bekerja keras mencapai cita-cita.

Guru dan tenaga kependidikan harus menjadi contoh kejujuran. Pimpinan sekolah harus menjadi contoh tanggung jawab dan transparansi. Seluruh warga sekolah harus menunjukkan kedisiplinan, keadilan, kepedulian, dan sikap saling menghormati. Sebab, karakter tidak hanya diajarkan melalui kata-kata. Karakter ditangkap melalui keteladanan dan dibentuk melalui pembiasaan.

Dari Menyontek hingga Korupsi: Jangan Biarkan Kecurangan Menjadi Budaya

Ada sebuah pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: Jika seorang anak terbiasa mendapatkan hasil melalui kecurangan, apa yang akan terjadi ketika kelak ia memiliki kekuasaan?. Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter tidak boleh dianggap sebagai pelengkap pendidikan.

Anak yang sejak sekolah dibiasakan bahwa menyontek adalah sesuatu yang wajar dapat kehilangan kepekaan terhadap ketidakjujuran. Anak yang terbiasa mengambil sesuatu yang bukan haknya dapat kehilangan rasa bersalah. Anak yang selalu mencari jalan pintas dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak menghargai proses.

Sebaliknya, anak yang dibiasakan jujur ketika tidak ada yang mengawasi, bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan, disiplin meskipun tidak diperintah, dan berani menolak kecurangan akan memiliki fondasi karakter yang lebih kuat. Mata rantai korupsi harus diputus sebelum menjadi kebiasaan. Dan sekolah adalah salah satu tempat terbaik untuk memulainya.

Harapan untuk Masa Depan

Ke depan, SMP Negeri 7 Mojokerto berharap JUMAT BERSEPEDA KK dapat tumbuh menjadi budaya integritas yang hidup, dirasakan, dan dipraktikkan oleh seluruh warga sekolah. Harapannya, peserta didik tidak hanya hafal sembilan nilai tersebut, tetapi mampu menjadikannya sebagai kompas dalam mengambil keputusan. Itulah tujuan akhir pendidikan integritas: membentuk manusia yang tetap memilih kebaikan bukan karena takut dihukum, tetapi karena sadar bahwa kebaikan adalah nilai yang harus dijunjung.

Kami berharap peserta didik SMP Negeri 7 Mojokerto kelak menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, terampil, dan berprestasi, tetapi juga menjadi manusia yang dapat dipercaya. Mereka adalah calon pemimpin, profesional, orang tua, dan anggota masyarakat yang diharapkan mampu membawa nilai integritas ke mana pun mereka berada.

Sebab, bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar. Bangsa membutuhkan generasi yang pintar sekaligus benar.

Mulai dari Sekolah, Berdampak untuk Bangsa

Pada akhirnya, pendidikan antikorupsi bukan hanya tentang bagaimana mengajarkan peserta didik untuk tidak melakukan korupsi. Pendidikan antikorupsi adalah tentang membangun manusia yang tidak tertarik melakukan korupsi karena memiliki karakter, prinsip, dan integritas.

JUMAT BERSEPEDA KK menjadi sebuah ikhtiar sederhana dari SMP Negeri 7 Mojokerto untuk menanamkan nilai tersebut sejak dini. Karena korupsi yang besar dapat berawal dari pembiaran terhadap ketidakjujuran yang kecil, tetapi integritas yang besar juga dapat tumbuh dari kebiasaan baik yang sederhana. Sebab masa depan Indonesia sedang kita bentuk hari ini, di ruang-ruang kelas, melalui keteladanan, pembiasaan, dan karakter anak-anak kita. (*)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
opini guru guru smpn 7 mojokerto Sekolah mojokerto