Oleh : Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I.
Staf Khusus Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal
DULU, kita mungkin tidak tahu teman sekolah sedang makan di mana, tetangga pergi liburan ke mana, atau teman kuliah baru membeli kendaraan apa. Kalau lama tidak bertemu, ya benar-benar tidak tahu kabarnya. Paling-paling mendapat cerita dari teman yang lain. Sekarang berbeda. Belum juga beranjak dari tempat tidur, kita sudah bisa mengetahui banyak hal tentang kehidupan orang lain.
Ada teman yang sedang liburan. Ada yang baru membeli rumah. Ada yang mendapat jabatan baru. Ada yang mengunggah foto wisuda. Ada pula yang sedang merintis usaha dan terlihat mulai berhasil. Semua kabar itu datang bergantian melalui layar telepon genggam. Kadang kita ikut senang melihatnya. Tetapi, jujur saja, kadang ada juga perasaan lain yang muncul diam-diam: kok orang lain sudah sampai sana, sementara saya masih begini-begini saja? Padahal lima menit sebelumnya hidup kita baik-baik saja.
Pekerjaan masih ada. Keluarga sehat. Makan masih cukup. Bahkan mungkin pagi itu kita baru saja mengucapkan alhamdulillah. Tetapi setelah melihat kehidupan orang lain, rasa cukup itu mendadak goyah. Bukan karena nikmat kita berkurang. Tidak ada yang mengambil pekerjaan kita atau mengurangi isi rumah kita. Hanya saja, kita baru melihat orang lain memiliki sesuatu yang belum kita punya.
Barangkali begitulah rasa "takut ketinggalan" hadir dalam relung lubuk hati kita. Ia datang pelan-pelan dan sering tidak terasa. Tiba-tiba kita merasa harus segera mencapai sesuatu. Harus cepat mapan, cepat punya rumah, cepat menikah, cepat mendapat jabatan, atau cepat terlihat berhasil. Seolah-olah hidup memiliki jadwal yang sama dan siapa pun yang datang belakangan akan dianggap gagal.
Kita kemudian membuat target usia. Umur sekian mestinya sudah begini. Sebelum kepala tiga harus punya itu. Lima tahun lagi wajib berada di posisi tertentu. Membuat target memang penting. Hidup tanpa rencana juga bisa membuat orang berjalan ke mana-mana tanpa tahu tujuan. Tetapi masalahnya, tidak semua target itu benar-benar lahir dari keinginan kita. Kadang kita ingin sesuatu hanya karena melihat orang lain sudah lebih dahulu memilikinya.
Melihat teman berhasil membuka usaha, kita mendadak ingin berbisnis. Melihat orang lain kuliah lagi, kita mulai gelisah dengan pendidikan sendiri. Ketika teman membeli rumah, rumah kontrakan yang kemarin terasa nyaman tiba-tiba tampak menyedihkan. Bahkan urusan menikah pun kadang ikut menjadi perlombaan. Begitu undangan datang berturut-turut, pertanyaan tentang masa depan mendadak terasa lebih serius.
Manusia memang mudah membandingkan. Barangkali sejak dulu begitu. Bedanya, dahulu bahan perbandingan kita tidak sebanyak sekarang. Hari ini, dalam sehari kita bisa melihat puluhan pencapaian orang lain. Kita seperti dipaksa menonton parade keberhasilan tanpa jeda.
Al-Qur'an mengingatkan:“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini terasa dekat sekali dengan kehidupan hari ini. Allah tidak mengatakan bahwa manusia akan mendapatkan bagian yang seragam. Memang ada perbedaan. Ada yang rezekinya datang lebih cepat. Ada yang perjalanan kariernya mulus. Ada yang harus jatuh bangun berkali-kali. Ada yang pada usia muda sudah menemukan jalan hidupnya, sementara sebagian yang lain masih sibuk bertanya sebenarnya ingin menjadi apa.
Masalahnya, kita sering melihat perbedaan itu sebagai perlombaan. Orang lain maju sedikit, kita gelisah. Teman mendapat sesuatu, kita mulai menghitung kekurangan sendiri. Kita hafal betul pencapaian orang lain, tetapi sering lupa pada doa-doa kita yang sebenarnya sudah lama dikabulkan Allah.
Coba diingat-ingat. Mungkin ada masa ketika kita pernah berdoa mendapatkan pekerjaan yang sekarang sedang kita keluhkan. Bisa jadi kita pernah sangat berharap memiliki kehidupan yang hari ini terasa biasa saja. Dulu kita memintanya dengan sungguh-sungguh. Setelah mendapatkannya, kita menikmati sebentar, lalu sibuk meminta hal lain.
Begitulah manusia. Keinginan selalu punya cara untuk tumbuh lebih cepat daripada rasa cukup.
Rasulullah SAW. pernah mengingatkan:“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim)
Tentu hadis ini bukan berarti kita dilarang punya cita-cita. Bukan pula ajakan untuk bermalas-malasan dengan alasan menerima takdir. Kalau ingin sekolah lebih tinggi, silakan. Ingin usaha berkembang, tentu baik. Mengejar karier juga tidak salah. Islam tidak pernah menyuruh umatnya berhenti berusaha.Tetapi ada bedanya antara ingin maju dan tidak pernah merasa cukup.
Ada orang yang melihat keberhasilan temannya lalu berkata, “Saya juga harus belajar lebih giat.” Itu namanya inspirasi. Ada pula yang melihat keberhasilan orang lain lalu sepanjang hari merasa hidupnya gagal. Nah, yang kedua ini melelahkan.
Apalagi yang kita lihat di media sosial sebenarnya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat foto wisudanya, tetapi tidak melihat berapa kali ia ingin menyerah mengerjakan tugas akhir. Kita melihat usahanya berkembang, tetapi tidak tahu berapa banyak uang yang pernah hilang. Kita melihat foto keluarga yang tersenyum, tetapi tentu tidak mengetahui seluruh persoalan di dalam rumah mereka.
Kita hanya melihat satu potongan kecil, lalu membandingkannya dengan seluruh isi hidup kita. Jelas tidak adil. "Ketakutan tertinggal" juga sering membuat orang terburu-buru. Karena teman-temannya mulai punya kendaraan baru, ia memaksakan cicilan. Karena orang lain ramai membuka usaha, ia ikut berbisnis tanpa benar-benar tahu apa yang sedang dikerjakan. Karena teman sebaya sudah berada di posisi tertentu, ia merasa pekerjaannya tidak lagi layak dibanggakan.
Kita ingin cepat sampai, tetapi kadang lupa bertanya: memangnya kita sedang menuju tempat yang sama?
Al-Qur'an mengingatkan:“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ada hal-hal yang memang perlu waktu. Tidak semua keterlambatan adalah kegagalan. Kadang kita baru memahami alasan sebuah keinginan tertunda setelah bertahun-tahun kemudian. Saat mengalaminya, tentu tidak selalu mudah. Kita bisa kecewa, mengeluh, bahkan bertanya mengapa orang lain begitu mudah mendapatkannya.
Namun hidup memang tidak dibagikan dengan ukuran yang sama. Mungkin itu sebabnya syukur menjadi penting. Bukan syukur yang hanya diucapkan setelah mendapat kabar baik, tetapi syukur yang membuat kita mampu melihat hidup sendiri dengan lebih jernih. Kita tetap boleh memiliki target, tetapi tidak perlu membenci keadaan hari ini hanya karena belum seperti kehidupan orang lain.
Sesekali, mungkin kita perlu berhenti melihat ke mana orang lain sudah berjalan. Bukan untuk menjadi cuek terhadap keberhasilan mereka. Kita tetap bisa ikut senang dan belajar. Hanya saja, kita juga perlu melihat kembali jalan sendiri. Siapa tahu kita sebenarnya sudah berjalan cukup jauh.
Siapa tahu ada banyak hal yang dulu kita minta dan hari ini sudah berada dalam genggaman. Hanya karena terlalu sering melihat milik orang lain, kita lupa bahwa pernah ada masa ketika kehidupan yang sekarang kita jalani adalah sesuatu yang sangat kita inginkan.
Jadi, kalau hari ini ada teman yang terlihat lebih dahulu sampai, tidak perlu buru-buru merasa tertinggal. Ucapkan selamat. Ikutlah senang. Setelah itu, lanjutkan perjalanan kita sendiri. Sebab belum tentu kita sedang menuju tempat yang sama. Dan barangkali, kita memang tidak terlambat. Kita hanya terlalu sering melihat jam milik orang lain. (*)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto