Oleh: Dr HM. Afif Zamroni, Lc, MEI, Staf Khusus Menteri Desa dan PDT
Islam mengajarkan cara pandang bahwa hidup bukan semata tentang hasil, melainkan tentang proses, kesungguhan, dan keyakinan kepada-Nya
ADA satu gejala yang diam-diam menghinggapi banyak orang hari ini: mudah merasa putus asa. Berita tentang kesulitan ekonomi, persaingan kerja yang semakin ketat, konflik sosial, hingga berbagai persoalan pribadi yang datang silih berganti membuat sebagian orang merasa masa depan tidak lagi menjanjikan. Tidak sedikit yang menjalani hari-harinya dengan perasaan cemas, lelah, dan kehilangan harapan.
Kita hidup di zaman yang serbacepat, tetapi tidak selalu memberi ruang bagi manusia untuk mengolah kegelisahannya. Ketika seseorang mengalami kegagalan, dunia seolah menuntutnya segera bangkit. Ketika menghadapi kesulitan, ia dituntut tetap terlihat kuat. Akibatnya, banyak orang memilih memendam luka dan kecemasannya sendirian.
Padahal, dalam perjalanan hidup, tidak semua hal berjalan sesuai rencana. Ada cita-cita yang tidak tercapai. Ada usaha yang tidak menghasilkan seperti yang diharapkan. Ada doa yang terasa lama terkabul. Ada pula kehilangan yang meninggalkan luka mendalam. Semua itu adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari oleh siapapun.
Masalahnya, manusia modern sering kali terbiasa mengukur kehidupan hanya dari hasil. Ketika hasilnya baik, ia merasa berhasil. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, ia merasa gagal. Cara pandang seperti ini membuat seseorang mudah kehilangan semangat ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak sesuai keinginannya.
Islam menawarkan cara pandang yang berbeda. Dalam Islam, hidup bukan semata tentang hasil, melainkan juga tentang proses, kesungguhan, dan keyakinan kepada Allah SWT. Karena itu, seorang mukmin diajarkan untuk tidak menggantungkan seluruh harapannya pada keadaan, melainkan kepada Tuhan yang mengatur keadaan.
Alquran memberikan pesan yang sangat menenangkan:
”Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Ayat ini lahir dari kisah Nabi Yaqub yang bertahun-tahun berpisah dengan putranya, Nabi Yusuf. Secara manusiawi, keadaan yang beliau hadapi tampak sangat berat. Namun, di tengah kesedihan yang panjang, beliau tetap memelihara harapan kepada Allah SWT. Harapan itulah yang membuatnya mampu bertahan hingga akhirnya pertolongan Allah SWT datang pada waktu yang tepat.
Kisah tersebut mengajarkan bahwa harapan bukanlah sikap naif yang menolak kenyataan. Harapan adalah keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada kemungkinan yang belum kita ketahui. Harapan membuat manusia tetap berjalan meskipun jalan di depannya belum sepenuhnya terlihat.
Sayangnya, budaya yang berkembang saat ini sering kali mendorong manusia untuk terlalu fokus pada apa yang hilang daripada apa yang masih dimiliki. Kita lebih mudah menghitung kegagalan daripada mensyukuri nikmat yang masih ada. Kita lebih sering memikirkan pintu yang tertutup daripada peluang yang masih terbuka.
Akibatnya, banyak orang merasa hidupnya penuh kekurangan, padahal sesungguhnya masih memiliki banyak alasan untuk bersyukur. Masih ada keluarga yang mendukung, kesehatan yang terjaga, kesempatan untuk belajar, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Semua itu sering kali baru disadari ketika telah hilang.
Rasulullah SAW, mengingatkan:”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim).
Hadis ini tidak mengajarkan bahwa hidup seorang mukmin akan selalu mudah. Justru sebaliknya, kehidupan tetap akan menghadirkan berbagai ujian. Namun, seorang mukmin memiliki cara pandang yang membuatnya mampu menemukan makna di balik setiap keadaan. Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur. Ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar. Dalam kedua keadaan itu, ia tetap memiliki alasan untuk mendekat kepada Allah SWT.
Di tengah maraknya pesimisme, harapan sesungguhnya adalah bentuk keberanian. Berani percaya bahwa kesulitan bukan akhir dari segalanya. Berani meyakini bahwa kegagalan bukan penentu masa depan. Berani melangkah meskipun belum mengetahui bagaimana akhir perjalanan akan berlangsung.
Harapan juga merupakan energi yang menggerakkan perubahan. Seorang petani tetap menanam meskipun tidak tahu bagaimana cuaca beberapa bulan ke depan. Seorang mahasiswa tetap belajar meskipun belum mengetahui hasil yang akan diperoleh. Seorang pedagang tetap membuka usahanya setiap pagi meskipun keuntungan hari itu belum pasti. Semua itu terjadi karena adanya harapan.
Tanpa harapan, manusia akan berhenti berusaha. Tanpa harapan, doa kehilangan maknanya. Tanpa harapan, kehidupan hanya akan dipenuhi rasa takut dan kecurigaan terhadap masa depan.
Karena itu, salah satu tugas penting seorang beriman adalah menjaga harapan tetap hidup di dalam hati. Bukan harapan yang kosong tanpa usaha, melainkan harapan yang disertai ikhtiar, doa, dan tawakal. Harapan semacam inilah yang membuat seseorang tetap teguh menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Mungkin kita tidak selalu bisa memilih keadaan yang datang kepada kita. Namun, kita selalu bisa memilih bagaimana menyikapinya. Dan sering kali, perbedaan antara mereka yang mampu bertahan dan mereka yang menyerah terletak pada satu hal yang sederhana: kemampuan untuk tetap berharap.
Di tengah zaman yang begitu mudah melahirkan kecemasan, merawat harapan mungkin menjadi salah satu bentuk ibadah yang paling relevan. Sebab, selama harapan masih ada, selalu ada alasan untuk melangkah. Dan selama seorang hamba masih percaya kepada rahmat Allah SWT, sesungguhnya tidak ada jalan yang benar-benar buntu. Karena pertolongan-Nya sering kali datang pada saat manusia mengira semuanya telah berakhir. (*)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto