Oleh: Dwi Prasetya Budi, Mahasiswa Magister Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan UGM
KITA hidup dalam sebuah paradoks. We Are Social bersama Meltwater, dalam laporan digital terbaru mereka, mencatat pengguna internet Indonesia mencapai 230 juta orang, setara 80,5 persen populasi, dengan 180 juta di antaranya aktif di media sosial. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 21 jam 50 menit per minggu di platform sosial, jauh di atas rata-rata global yang hanya 18 jam 36 menit.
Kita tersebar di 7,7 platform setiap bulan. Namun, di tengah konektivitas yang nyaris total itu, satu kemampuan justru menghilang yaitu pada kesediaan mendengar orang yang berbeda pendapat. Menurut saya inilah tantangan terbesar generasi digital, lebih besar daripada tantangan hoaks itu sendiri.
Dari Gelembung ke Ruang Gema
Untuk memahami persoalan ini, ada dua konsep yang perlu dibedakan terlebih dahulu. Dalam bukunya The Filter Bubble, Eli Pariser memperkenalkan istilah gelembung penyaring yang di mana ada kondisi ketika algoritme hanya menyaring informasi yang kita terima tanpa kita sadari, hal ini membuat kita hanya melihat apa yang ”disukai” oleh riwayat klik kita sendiri.
Echo chamber jauh lebih parah dari hal tersebut, pada Cass Sunstein dan C. Thi Nguyen menjelaskan bahwa penghuni echo chamber tidak sekadar jarang terpapar pandangan lain tetapi mereka secara aktif menolak dan mencurigai setiap sumber di luar kelompoknya. Bedanya sederhana namun penting pada filter bubble meliputi persoalan akses, sedangkan echo chamber meliputi persoalan kepercayaan.
Menurut pengamatan saya, ruang digital Indonesia sudah lama melewati fase pertama dan kini mulai bergerak menuju fase kedua. Datanya tersedia, dan angkanya tidak bisa di anggap remeh. Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) menyampaikan ada 1.593 kasus hoaks sepanjang Oktober 2024 hingga Oktober 2025, dengan 773 kasus atau 48,5 persen di antaranya bertema politik.
Namun angka yang paling patut dicemaskan justru bukan pada totalnya, melainkan rinciannya ada sebanyak 601 kasus tergolong wedge driver, yaitu narasi yang sengaja dirancang untuk memecah masyarakat lewat konflik antarkelompok. Hoaks jenis ini tidak bertujuan menipu satu orang saja. Tetapi memiliki bertujuan mengunci jutaan orang untuk masuk ke dalam kubunya masing-masing. Dalam penelitian Vosoughi, Roy, dan Aral, yang dimuat jurnal Science, menjelaskan mengapa strategi sangat efektif karena berita palsu 70 persen lebih mungkin disebarkan ulang dibandingkan berita benar, sebab berita palsu akan dirancang agar merasakan emosional bagi penerima berita, bukan agar akurat. Hal tersebut membuat ukuran dalam menilai fakta pun ikut bergeser serta pertanyaannya bukan lagi ”apakah ini benar”, melainkan ”apakah ini ramai”.
Ketika Elite Ikut Berhenti Mendengar
Pada Juni 2026, di tengah gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai kota, Presiden justru menuding aksi-aksi itu digerakkan oleh dalang tertentu dan menyebut para pedemo tidak memahami isu yang mereka suarakan sendiri. Terlepas dari benar tidaknya tudingan tersebut, pola komunikasinya memperlihatkan hal yang sama persis dengan perilaku warganet di kolom komentar yaitu menolak mendengar terlebih dahulu, menghakimi kemudian. Ketika penguasa dan rakyat sama-sama berbicara dari dalam ruang gemanya masing-masing, dialog publik pun mati. Yang tersisa hanya dua monolog yang saling memekakkan.
Mengapa ini bisa terjadi? Jawaban yang paling mudah adalah menyalahkan algoritme. Platform memang dirancang untuk memaksimalkan perhatian, bukan kebenaran, dan konten provokatif terbukti lebih menguntungkan secara komersial. Mafindo mencatat lonjakan hoaks di TikTok, dengan 366 temuan dalam setahun, justru karena format video pendeknya memudahkan narasi emosional menjangkau anak muda dengan cepat.
Realitanya separuh masalah tersebut ada pada kita sendiri, seperti bias konfirmasi itu nyaman. Mendengar pandangan yang berbeda menuntut kerja kognitif, sedangkan lini masa yang seragam menawarkan rasa benar tanpa perlu berpikir sama sekali. Kita menyebutnya kenyamanan. Padahal ia adalah kemalasan yang dipelihara. Ada pula faktor kelompok yang memperkuat semua ini, pada ruang gema sikap paling ekstrem sering mendapat tepuk tangan paling keras, sehingga anggota berlomba menjadi yang paling lantang, bukan yang paling jernih. Pada mekanisme ini disebut polarisasi kelompok. Masalah utamanya ada pada cara manusia menggunakannya.
Jalan Profetik Keluar dari Ruang Gema
Di titik inilah saya menawarkan jalan keluar yang jarang dilirik para pegiat literasi digital yaitu etika profetik. Kuntowijoyo, dalam Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, merumuskan tiga pilar ilmu sosial profetik, yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi. Diterjemahkan ke ruang digital, ketiganya menciptakan pertanyaan sederhana, apakah teknologi membuat kita semakin manusiawi, semakin bebas dari manipulasi, dan tetap terikat pada nilai moral. Dengan ini ada empat sifat kenabian memberi panduan praktisnya. Shiddiq berarti memverifikasi sebelum membagikan jika tidak yakin benar, jangan sebarkan.
Amanah berarti sadar bahwa jejak digital tidak mudah hilang. Tabligh berarti memproduksi narasi yang mencerahkan, bukan yang memecah. Fathanah berarti berpikir kritis sebelum bereaksi. Kerangka ini melampaui imbauan yang sering kita dengar ”saring sebelum sharing” yang sering berhenti sebagai jargon, sebab ia menempatkan perilaku bermedia sebagai persoalan integritas, bukan sekadar kecakapan teknis.
Tentu solusi struktural tetap dibutuhkan seperti program prabunking seperti yang dijalankan Mafindo, kurikulum literasi digital di sekolah, serta tekanan regulasi terhadap platform. Namun, tanpa perubahan etika di tingkat individu, semua itu hanya menambal kebocoran di hilir.
Kembali ke paradoks pembuka tulisan ini. Kita rela menghabiskan hampir 22 jam seminggu di media sosial, tetapi kerap tidak menyisakan satu menit pun untuk sungguh-sungguh mendengar orang yang berseberangan. Echo chamber tidak akan runtuh oleh regulasi semata tetapi ia akan runtuh ketika penghuninya sendiri memutuskan untuk keluar. Tantangan terbesar pada generasi digital saat ini, pada akhirnya, bukan bagaimana menjadi yang paling banyak didengar di tengah kebisingan, melainkan bagaimana tetap menjadi yang paling dapat dipercaya. (*)
Editor : Fendy Hermansyah