Oleh: Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I, Staf Khusus Menteri Desa dan PDT
KABUPATEN Mojokerto secara geografis sangat strategis. Di tengah laju pertumbuhan kawasan metropolitan Gerbangkertosusila, daerah ini tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai wilayah penyangga Surabaya, Sidoarjo, Gresik, maupun Kota Mojokerto. Kabupaten Mojokerto memiliki modal sumber daya alam, sumber daya manusia melalui kekuatan budaya, serta potensi ekonomi yang menjadikannya layak tumbuh sebagai salah satu simpul pembangunan strategis di Jawa Timur.
Potensi besar yang dimiliki Kabupaten Mojokerto ini ditangkap secara cermat oleh Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM). Melalui berbagai pemberitaan dan rubrikasi yag diberikan JPRM telah membuktikan bahwa peran media tidak sekadar melaporkan peristiwa, tetapi ikut membangun ekosistem pembangunan.
Apresiasi secara eksplisit disampaikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, dalam momentum penganugerahan Radar Mojokerto Award pekan lalu. Melalui pemberian penghargaan kepada kepala daerah, kepala desa, pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lainnya, media menghadirkan ruang apresiasi yang memotivasi lahirnya inovasi, integritas, dan pelayanan publik yang semakin berkualitas.
Dalam paparannya Menteri Desa PDT menawarkan sebuah gagasan arah pembangunan dengan pendekatan Octahelix. Sebuah gagasan yang mengedepankan sinergi delapan unsur utama pembangunan, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat, media, lembaga keuangan, organisasi sosial, dan sektor teknologi atau inovasi.
Pendekatan Octahelix dapat diwujudkan secara nyata melalui sinergi antara pemerintah desa, BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih, perguruan tinggi, pelaku usaha, lembaga keuangan, media massa, organisasi kemasyarakatan, serta komunitas pemuda. Kolaborasi semacam ini mampu melahirkan inovasi desa, memperkuat rantai nilai produk lokal, membuka lapangan kerja, meningkatkan daya saing UMKM, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Di tingkatan pusat kolaborasi lebih konkrit dilakukan dengan menjalin kerja sama lintas kementerian dan lembaga. Di samping itu pelibatan pemerintah pusat dan daerah menjadi mutlak, sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak hanya bersifat top down policy akan tetapi bersifat partisipatif dari semua stake holder yang ada.
Dalam perspektif Octahelix, kepala desa bukan sekadar administrator pemerintahan, tetapi juga menjadi local orchestrator yang mempertemukan seluruh aktor pembangunan. Pemerintah desa membangun kemitraan dengan perguruan tinggi untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, menggandeng dunia usaha dalam membuka akses pasar bagi produk lokal, memperkuat BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih sebagai penggerak ekonomi desa.
Dalam konteks inilah penghargaan kepada para kepala desa pada ajang Radar Mojokerto Award memiliki makna yang jauh melampaui apresiasi atas prestasi individual. Penghargaan tersebut merupakan pengakuan bahwa desa telah menjadi simpul utama pembangunan daerah. Kepala desa yang berprestasi bukan hanya berhasil membangun infrastruktur, tetapi juga mampu membangun kepercayaan, menumbuhkan partisipasi masyarakat, serta menghadirkan ruang kolaborasi bagi seluruh elemen pembangunan.
Sesungguhnya, semangat ini bukanlah konsep yang asing bagi masyarakat Indonesia, terlebih bagi umat Islam. Dalam ajaran Islam terdapat konsep ta'awun, yaitu saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah SWT berfirman:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Nilai inilah yang sesungguhnya menjadi ruh pendekatan Octahelix. Pemerintah menghadirkan regulasi dan arah kebijakan, perguruan tinggi menyumbangkan riset dan inovasi, dunia usaha membuka investasi dan pasar, lembaga keuangan memperluas akses pembiayaan, media membangun optimisme publik, organisasi masyarakat melakukan pemberdayaan, komunitas menjadi pelaku utama pembangunan, sedangkan teknologi mempercepat transformasi pelayanan dan ekonomi digital.
Ketika sinergi sudah terjalin kuat antar delapan unsur utama pembangunan dalam perspektif Octahelix maka akan tercipta sebuah budaya kolektif yang menyatukan kemampuan, pengetahuan, modal, serta kepedulian sosial demi tercapainya kemaslahatan bersama. Sehingga desa-desa mampu menjadi pelopor pembangunan berkelanjutan sebab Bangun Desa Bangun Indonesia demi mewujudkan cita-cita Desa Terdepan Menuju Indonesia Emas 2045.
Editor : Fendy Hermansyah