Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Refleksi Muharam, Ibu sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

Fendy Hermansyah • Jumat, 3 Juli 2026 | 01:20 WIB
Dr HM Afif Zamroni, Lc, MEI, Staf Khusus Menteri Desa & PDT.
Dr HM Afif Zamroni, Lc, MEI, Staf Khusus Menteri Desa & PDT.

 Oleh: Dr HM Afif Zamroni, Lc, MEI*

BULAN Muharam bukan sekadar penanda bergantinya angka dalam kalender Hijriah, akan tetapi juga banyak kemuliaan di dalamnya. Momentum Muharam mengajak setiap muslim untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, melakukan evaluasi diri, memperbaiki niat, lalu menyusun langkah yang lebih baik di masa mendatang.

Namun refleksi Muharam tidak berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Refleksi sejati harus berlanjut pada upaya memperbaiki kualitas kehidupan antar sesama. Keseimbangan antara Hablum Min Allah dan Hablum Min Nas juga menjadi tujuan refleksi dalam Muharram. Dalam tradisi NU menjaga hubungan dengan sesama manusia tidak hanya berhenti ikepada manusia yang masih hidup, begitu juga kepada manusia yang sudah mendahului kita.

Seperti yang saya saksikan sendiri sepekan lalu,  puluhan ribu Ibu-ibu Muslimat NU Kabupaten Mojokerto di Pesantren Amanatul Ummah menggelar Tahlil Akbar dalam mengisi mulianya bulan Muharam. Melihat antusiasme peserta dalam peristiwa itu mengingatkann betapa strategisnya peran ibu dalam membangun karakter generasi ke depan. Sebab, seperti maqolah yang sering kita dengar bahwa Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya.

Ungkapan tersebut bukanlah hadits Nabi, melainkan sebuah hikmah yang menggambarkan betapa besar pengaruh seorang ibu dalam membentuk kepribadian anak sejak usia dini. Sebelum mengenal guru di sekolah, anak terlebih dahulu belajar berbicara, bersikap, beribadah, menghormati orang lain, hingga memahami kasih sayang dari seorang ibu.

Di tengah derasnya arus perubahan sosial, kemajuan teknologi, dan tantangan moral generasi muda, Muharam menjadi momentum refleksi yang sangat relevan, terutama dalam memperkuat kembali peran keluarga sebagai pusat pendidikan karakter.

Apabila setiap keluarga berhasil melahirkan anak-anak yang berintegritas, mencintai kejujuran, menghormati perbedaan, serta memiliki semangat gotong royong, maka sesungguhnya bangsa telah memiliki modal sosial yang sangat besar. Sebaliknya, apabila pendidikan karakter diabaikan, maka berbagai persoalan seperti korupsi, intoleransi, kekerasan, dan rendahnya etos kerja akan terus menjadi tantangan dalam kehidupan berbangsa.

Oleh karena itu, membangun karakter bangsa tidak cukup dilakukan melalui kurikulum sekolah atau kebijakan pemerintah semata. Upaya tersebut harus dimulai dari rumah, melalui keluarga yang harmonis dan pendidikan yang penuh keteladanan. Sekolah dapat memperkuat karakter, tetapi fondasinya dibangun oleh keluarga. Negara dapat menyusun berbagai program pendidikan, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas pengasuhan di setiap rumah.

Dalam konteks pembangunan bangsa, ibu sebagai manajer keluarga memegang peran strategis. Rumah adalah unit terkecil dalam masyarakat. Apabila setiap keluarga berhasil dikelola dengan baik, maka akan lahir masyarakat yang kuat. Sebaliknya, berbagai persoalan sosial seperti kekerasan, penyalahgunaan narkoba, rendahnya etika, hingga korupsi sering kali berakar dari rapuhnya fondasi pendidikan dalam keluarga.

Maka mengisi refleksi Muharam dengan menggelar Tahlil Akbar, yang dinisbatkan menjalin hubungan baik dengan sanak keluarga yang sudah berpulang adalah hal yangn patut mendapat apresiasi. Ini adalah bentuk teladan dari seorang ibu yang mengajarkan sikap cinta yang tidak pernah terputus. Menghidupkan kembali semangat memperbaiki diri, memperkuat keluarga, memuliakan peran ibu, dan menanamkan nilai-nilai akhlak kepada generasi penerus. Dari rumah-rumah yang penuh kasih sayang dan pendidikan karakter itulah akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas menghadapi perubahan zaman, tetapi juga kokoh memegang nilai-nilai iman dan kemanusiaan. Sebab, masa depan bangsa pada hakikatnya sedang dipersiapkan di pangkuan seorang ibu. (*)

*Staf Khusus Menteri Desa & PDT

Editor : Fendy Hermansyah
#opini gus afif #gus afif mojokerto #refleksi muharam #kolom radar mojokerto #opini radar mojokerto