Oleh: Dr HM Afif Zamroni, Lc, MEI, Staf Khusus Menteri Desa & PDT
PELUK haru bahagia mewarnai penyambutan kedatangan jemaah haji yang baru pulang dari Tanah Suci. Sepekan lalu, di Pendapa Graha Majatama Kabupaten Mojokerto keharuan itu semakin terasa istimewa.
Bagaimana tidak, jemaah haji asal Kabupaten Mojokerto disambut secara khusus oleh Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf, dan didampingi Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa.
Dalam sambutannya, baik Menteri Haji dan Umrah maupun bupati, selain menyampaikan selamat datang juga menyiratkan doa kepada semua jemaah haji, semoga menjadi haji yang mabrur. Sebuah doa yang selalu disematkan kepada pribadi-pribadi yang baru menunaikan ibadah rukun haji.
Kata al-mabrur itu diambil dari kata al-birr yang artinya ketaatan. Dengan kata lain haji mabrur adalah haji yang dijalankan dengan penuh ketaatan sehingga tidak tercampur dengan dosa. Pendapat ini menurut Muhyiddin Syarf An-Nawawi, dipandang sebagai pendapat yang paling sahih.
Menurut Muhyiddin Syarf an-Nawawi makna hadis: ”Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga,” adalah bahwa ganjaran bagi orang dengan haji mabrur tidak hanya sebatas penghapusan sebagian dosa. Mabrur itu yang mengharuskan ia masuk surga. Imam Nawawi berkata: Yang paling sahih dan masyhur adalah bahwa haji mabrur yang bersih dari dosa itu diambil dari al-birr (kebaikan) yaitu ketaatan. (Lihat: Jalaluddin As-Suyuthi, Syarhus Suyuthi li Sunan An-Nasa’i, Halb-Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah, cet ke-2, 1406 H/1986 H, juz, V, halaman: 112).
Menilik pengertian mabrur di atas, tersirat sebuah harapan kolektif yang sangat mendalam pada pribadi-pribadi yang pulang dari Tanah Suci. Harapan itu bukan sekadar agar ibadah hajinya diterima Allah, tetapi juga agar sepulang dari Tanah Suci ia menjadi pribadi yang lebih baik dan membawa manfaat yang lebih besar bagi lingkungan sekitarnya.
Maka, tidak heran ketika di tengah-tengah masyarakat seseorang yang pulang dari ibadah haji seringkali akan menjadi rujukan-rujukan. Ucapan, sikap, dan tindakannya akan lebih diperhatikan oleh masyarakat. Apalagi dalam masyarakat, seseorang yang telah menunaikan ibadah haji lazim memperoleh gelar ”H” atau ”Hj” di depan namanya. Gelar tersebut bukan sekadar penanda bahwa seseorang pernah berkunjung ke Makkah dan Madinah, melainkan simbol yang mengandung harapan sekaligus tanggung jawab sosial yang besar. Masyarakat berharap seorang haji menjadi teladan dalam kejujuran, kerukunan, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong.
Tradisi penyematan gelar haji memiliki sejarah panjang di Nusantara. Pada masa kolonial, perjalanan haji membutuhkan biaya besar, waktu berbulan-bulan, dan perjuangan yang tidak ringan. Mereka yang berhasil menunaikan rukun Islam kelima memperoleh penghormatan khusus dari masyarakat.
Gelar haji kemudian menjadi identitas sosial yang menunjukkan pengalaman spiritual, keluasan wawasan keislaman, serta kedudukan moral di tengah komunitas. Tidak sedikit tokoh pergerakan nasional yang dikenal dengan sebutan ”haji”, seperti para ulama, pedagang, maupun pemimpin masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial.
Ketika berjuta-juta manusia mengenakan pakaian ihram yang sama tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kekayaan, sesungguhnya Allah sedang mengajarkan bahwa kemuliaan manusia hanya ditentukan oleh ketakwaannya. Pelajaran inilah yang seharusnya dibawa pulang oleh setiap jemaah haji dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu nilai yang bisa diambil dari perjalanan ibadah haji adalah kesabaran. Baik dalam menunaikan ritual di Tanah Suci juga dalam proses keberangkatannya. Tahun ini, jumlah jamaah haji Kabupaten Mojokerto sebanyak 1.525 jemaah, dan itu terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Setidaknya dibutuhkan waktu antrean keberangkatan sepanjang 35 tahun sejak pendaftarannya. Panjangnya antrean haji di Indonesia tidak hanya mencerminkan tingginya semangat keberagamaan masyarakat, tetapi juga menunjukkan semakin luasnya kemampuan ekonomi warga untuk mengakses ibadah yang membutuhkan biaya besar.
Karena itu, gelar haji bukanlah akhir dari sebuah perjalanan spiritual, melainkan awal dari amanah yang lebih besar. Kemabruran tidak diukur dari banyaknya ucapan selamat yang diterima, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai haji mampu membentuk karakter dan memberi manfaat bagi sesama.
Seorang haji yang mabrur adalah mereka yang semakin dekat kepada Allah sekaligus semakin dekat dengan persoalan masyarakatnya. Selamat datang para tamu Allah, selamat menjalankan ibadah mabrur berikutnya di tengah masyarakat. (*)
Editor : Fendy Hermansyah