Raih Keberkahan dengan Silaturahmi

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Sabtu, 5 April 2025 | 14:50 WIB

 

Oleh: Nur Rohmad  Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kabupaten Mojokerto
Oleh: Nur Rohmad Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kabupaten Mojokerto

KITA bersyukur kepada Allah karena telah dianugerahi kekuatan untuk menuntaskan ibadah puasa dan berbagai ibadah lainnya selama bulan Ramadan. Setiap kali selesai menuntaskan suatu ibadah, seorang mukmin yang baik akan berharap-harap cemas. Berharap ibadahnya diterima oleh Allah. Dan cemas, jangan-jangan ibadah yang telah dilakukan tidak diterima oleh-Nya.

Harapan itu akan memotivasinya untuk terus melakukan ibadah sehingga ia bisa menghimpun bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat. Sedangkan kecemasan dan kekhawatiran itu akan mendorongnya untuk terus beribadah, karena ia tidak tahu ibadah mana yang diterima oleh Allah ta’ala, apakah ibadah yang telah dikerjakan atau kah ibadah yang akan dilakukan.

Setelah hak-hak Allah kita tunaikan selama Ramadan melalui ibadah-ibadah yang kita lakukan, tibalah kini waktu untuk memenuhi hak-hak sesama hamba. Hari raya adalah salah satu momen yang tepat untuk mempererat tali shilaturrahim dan memperkuat hubungan persaudaraan sesama muslim dan sesama anak bangsa.

Shilaturrahim bisa dilakukan dengan berbagai cara. Jika tidak memungkinkan dengan bertemu fisik, maka bisa diganti dengan pertemuan secara daring. Shilaturrahim juga dapat dilakukan dengan saling bertegur sapa dan menanyakan kabar melalui sambungan telepon.

Dalam Shahih Ibn Hibbban dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Wahai Rasulullah, beritahulah aku tentang sesuatu yang jika aku kerjakan, maka aku akan masuk surga. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berikanlah makanan, sebarkanlah salam, sambunglah tali shilaturrahim dan lakukan shalat malam ketika orang-orang tidur, maka engkau akan masuk surga dengan selamat” (HR. Ibnu Hibban)

Dengan sebab apapun, janganlah kita memutus tali shilaturrahim. Jangan sampai keluarga dan kerabat kita, merasa kita tinggalkan dan kita abaikan. Kita harus terus menjaga hubungan baik dengan mereka. Kita jaga hubungan baik itu dengan cara membantu mereka di kala mereka butuh bantuan. Kita hutangi mereka jika butuh hutangan. Kita kunjungi dan datangi mereka di momen kebahagiaan, seperti pernikahan dan hari raya. Kita datangi mereka juga di momen kesedihan, seperti apabila ada anggota keluarga mereka yang sakit atau meninggal dunia. Jangan tunggu mereka berbuat baik kepada kita lalu kita balas kebaikan mereka.

Jangan tunggu mereka mengunjungi kita lalu kita balas kunjungan mereka. Jangan tunggu mereka menyapa duluan lewat sambungan telepon baru kemudian kita balas menyapa. Kita dahului mereka dengan itu semua. Karena ini adalah kebaikan yang pahalanya besar. Jadilah orang yang pertama kali melakukannya. Kita berlomba-lomba dalam kebaikan.

Menyambung shilaturrahim adalah salah satu kewajiban dan memutus shilaturrahim termasuk salah satu dosa besar. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

’’Tidak akan masuk surga (bersama orang-orang yang lebih awal masuk surga) orang yang memutus shilaturrahim (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Termasuk shilaturrahim adalah membantu kerabat kita ketika mereka dalam kondisi membutuhkan. Dalam hadits disebutkan: ’’Tidaklah seorang mukmin menghibur saudaranya karena musibah yang menimpanya, kecuali Allah akan mengenakan kepadanya pakaian-pakaian kemuliaan di hari kiamat’’ (HR. Ibnu Majah)

Janganlah kita menganggap shilaturrahim sebagai beban. Jangan pula berpikir bahwa shilaturrahim hanya akan menambah kesusahan yang sedang kita rasakan. Bahkan sebaliknya, hadirin sekalian, dengan sebab shilaturrahim itu Allah akan angkat kesusahan dari kita dan melapangkan rezeki kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ’’Barang siapa menginginkan dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya dan diselamatkan dari kematian yang buruk oleh Allah, maka hendaklah ia sambung tali shilaturrahim dengan kerabatnya’’ (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Kepada selain kerabat dan keluarga juga kita lakukan hal yang sama. Kita jadikan hari raya sebagai mementum untuk mempererat hubungan kita dengan tetangga, teman, kolega, dan seluruh lapisan masyarakat. Saling bermaaf-maafan harus menghiasi hari raya kita. Yang lalu biarlah berlalu. Kita maafkan kesalahan orang lain kepada kita. Kita adalah saudara-saudara sesama Islam. Kita adalah bersaudara sesama anak bangsa.

Di akhirat kelak, janganlah kita termasuk mereka yang membawa pahala shalat, puasa dan berbagai ibadah yang lain, sekaligus juga membawa dosa yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia. Mereka berbuat zhalim kepada orang lain dan belum sempat meminta maaf atau belum meminta kerelaan darinya sampai ajal tiba. Merekalah orang yang bangkrut sebangkrut-bangkrutnya di akhirat kelak. Pahala mereka akan diambil dan diberikan kepada orang-orang yang mereka zhalimi. Jika tidak cukup, maka dosa-dosa orang yang mereka zhalimi akan diambil dan ditimpakan kepada mereka lalu mereka dilemparkan ke api neraka. Na’udzu billahi min dzalik. (*)

 

Editor : Hendra Junaedi
puasa ramadan ibadah puasa Raih Keberkahan Sisa Ramadan jalin silahturahmi