Puasa sebagai Latihan Pengendalian Diri

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Jumat, 28 Maret 2025 | 15:15 WIB

 

Oleh: Dewi Hammamah, M.Pd.I  Penyuluh Agama Islam
Oleh: Dewi Hammamah, M.Pd.I Penyuluh Agama Islam
 

RAMADAN merupakan bulan yang penuh berkah. Di mana umat muslim seluruh dunia melaksanakan ibdah puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa sejatinya tidak sekadar menahan haus dan lapar saja, puasa juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam apabila kita renungkan. Yakni melatih pengendalian diri dan menumbuhkan empati sosial.

Salah satu hikmah utama dari berpuasa ialah kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap kali terjebak dalam rutinitas yang dipenuhi oleh dorongan untuk mencapai kebutuhan dan keinginan secara instan atau cepat.

Melalui berpuasa, kita umat muslim diajak untuk menahan diri, tidak hanya dari rasa dahaga dan lapar saja, tetapi juga dari amarah, dengki, iri, hasud, dan segala perilaku yang tidak terpuji lainnya. Dengan demikian, puasa menjadi latihan nyata bagi umat muslim untuk dapat mengontrol diri, mempertebal rasa sabar, serta membentuk karakter diri yang lebih tenang dan bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu.

Melalui puasa, kita juga dapat secara langsung merasakan apa yang dialami oleh saudara-saudara kita yang kurang beruntung, kaum mustadh’afin. Dari perut kosong dan kerongkongan yang kering, kita dapat merasakan apa yang sehari-hari dihadapi oleh mereka yang kesulitan untuk mencukupi kebutuhan pangannya setiap hari. Kondisi demikian yang kita rasakan bersama saat berpuasa dapt menjadi jembatan bagi kita untuk membangun rasa empati pada sesama dan menumbuhkan kepekaan sosial.

Momentum Ramadan pun menjadi pengingat bagi kita untuk saling berbagi rezeki dan berlomba berbuat kebaikan. Tradisi kita seperti berbagi takjil di jalan, berbuka bersama, hingga memnyalurkan zakat fitrah dan sedekah, merupakan wujud nyata dari kepedulian sosial yang diajarkan dalam momentum Ramadan. Melalui kebiasaan ini, puasa tidak hanya menjadi ibadah privat untuk mencapai kesalehan spiritual saja, tetapi lebih jauh juga sebagai ajang mempererat tali persaudaraan dan memperkuat solidaritas antar sesama umat muslim,sebagai wujud mencapai kesalehan sosial.

Dengan demikian, ibadah puasa di bulan Ramadan tidak hanya berhenti pada menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa merupakan wahana latihan spiritual yang mendalam untuk dapat mengendalikan diri dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama.

Dalam pengendalian diri, terdapat bentuk usaha untuk mencapai transformasi diri menjadi pribadi yang lebih bijak dan sabar dalam menghadapi situasi. Dalam empati sosial, terkandung makna kasih sayang bagi sesama, serta memperkuat rasa kemanusiaan dan kebersamaan di tengah masyarakat. Semoga ibadah puasa kita diterima dan bermanfaat, tidak hanya bagi diri kita pribadi, namun juga bagi tetangga dan masyarakat di sekitar kita. (*)

Editor : Hendra Junaedi
bulan penuh ampunan Pengendalian Diri Kunci Pencerahan bulan suci ramadan