Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tiga Upaya Mencapai Puasa yang Berkualitas

Fendy Hermansyah • Kamis, 27 Maret 2025 | 15:15 WIB

 

Dedik Zakhariya, S.Pd, Gr.  Guru PAI SMAN 1 Mojosari
Dedik Zakhariya, S.Pd, Gr. Guru PAI SMAN 1 Mojosari
 

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Di bulan ini seluruh umat Islam benar-benar diuji jiwa dan raganya melalui satu ibadah yang disebut dengan puasa. Puasa di bulan Ramadan termasuk salah satu rukun dari 5 rukun Islam. Oleh karena itu wajib hukumnya bagi seluruh umat Islam yang telah baligh, berakal, sehat dan mampu menjalankan ibadah. Hal ini berdasarkan pada firman Allah SWT di dalam QS Al-Baqarah ayat 183:  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan  atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.

 Puasa secara linguistik mempunyai arti menahan atau (al-imsak). Dan secara terminologi,  puasa mempuyai arti menahan diri untuk tidak makan, minum, serta tidak melakukan hal-hal yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbitnya fajar sampai dengan tenggelamnya matahari. Di dalam QS Al-Baqarah ayat 183 disebutkan tujuan dari ibadah puasa ini adalah menjadi hamba yang bertakwa. Takwa mempunyai arti kesadaran dan ketaatan kepada Alah SWT serta menjauhi segala larangan-Nya. 

Dalam menjalankan ibadah puasa bukan hanya soal menahan diri untuk tidak makan dan minum saja. Akan tetapi ada pengendalian hawa nafsu yang harus benar-benar dikendalikan dengan baik. Karena kalau kita gagal dalam mengendalikan hawa nafsu maka seluruh perilaku kita akan dikendalikan oleh nafsu itu sendiri. Yang hasilnya pasti akan jauh dari perilaku taat dan tunduk pada perintah Allah SWT.    

Untuk bisa menjalankan ibadah puasa  yang berkualitas dan sesuai dengan kehendak Allah SWT, setidaknya kita harus memperhatikan tiga hal yang dalam pelaksanaannya dibutuhkan upaya yang begitu luar biasa, di antaranya: Pertama, niat yang ikhlas.

 Niat adalah kunci dari segala amal perbuatan. Mari kita simak niat puasa Ramadan berikut ini: Nawaitu shauma ghadin an ada’i fardhi syahri ramadhana hadzihis sanati fardal lillahi ta’ala. Kalimat lillahi ta’ala dalam pelafalan niat ini maknanya adalah ibadah puasa yang kita lakukan ini adalah semata-mata karena Allah SWT.

 Jangan kotori hati dengan niat puasa hanya untuk sekedar menjalankan rutinitas tahunan. Apalagi puasa yang dilakukan hanya untuk riya dan mendapat apresiasi dari orang lain. Puasa yang dilakukaan tanpa niat yang ikhlas hanya akan menjadi lapar dan dahaga. Serta tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah SWT. Hal ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi: Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang diperolehnya dari puasa itu, kecuali hanya lapar dan haus saja (tidak berpahala). (HR Nasa’i dan Ibnu Majah).

 Kedua, menjaga perilaku dan ucapan. Puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja, tetapi juga menahan diri dari segala perkataan dan perbuatan yang buruk. Untuk itu agar puasa kita berkualitas hindarilah perbuatan-perbuatan yang bisa menurunkan kualitas puasa. Seperti berbohong, menggunjing, mencaci maki, marah, memfitnah, menjaga pandangan dari lawan jenis yang bukan mahram dan perbuatan buruk lainnya.

 Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah SWT tidak membutuhkan apa yang dia derita karena lapar dan haus. (HR Bukhori). Dalam hadis lain dijelaskan: Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji. (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim).

 Oleh karena itu mari kita perbaiki kualitas puasa kita dengan tidak berkata dan berperilaku buruk terlebih selama puasa, dan berlanjut dalam berperilaku kehidupan sehari-hari.

 Ketiga, memperbanyak ibadah. Bulan Ramadan adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhori dan Muslim).

 Dalam bulan Ramadan Allah SWT memberikan berbagai keistimewaan di antaranya diturunkanya Alquran yang biasa disebut dengan malam nuzulul Quran. Pada malam ini Allah SWT Menurunkan Alaquran sebagai pedoman hidup umat manusia. Untuk itu mari kita kembali menapak tilas dan senantiasa memperbanyak membaca, memahami, dan mengamalkan isi dari Alquran, agar kita selalu ingat dan tidak terlena oleh bujuk rayu setan.

 Selain itu, Allah SWT juga memberikan kita satu malam yang bernama malam lailatul qodar. Malam lailatul qodar ini adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang mau mengisi malam lailatul qodar ini dengan berbagai macam ibadah seperti salat sunah tahajud, salat sunah hajat, perbanyak zikir dan memohon ampunan kepada Allah  SWT atas dosa-dosa yang telah diperbuat, serta bertaubat dengan taubatan nasuha, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya serta mengabulkan doa-doanya.

 Rasulullah SAW mengajarkan satu doa  untuk senantiasa dibaca pada malam di bulan Ramadan, terlebih sepuluh hari terakhir menjelang berakhirnya bulan Ramadan. Doa itu berbunyi: Allahhumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu anni. Semoga dengan memperbaiki kualitas ibadah puasa ini, kita benar-benar bisa kembali fitri serta mendapatkan gelar hamba yang bertakwa disisi  Allah SWT.  Amin. (*)

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#bulan penuh berkah #bulan penuh cinta #bulan penuh ampunan #puasa berkualitas #bulan suci ramadan