Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Makna Tradisi Tahlilan dalam Perspektif Pierre Bourdieu

Fendy Hermansyah • Selasa, 7 Januari 2025 | 14:05 WIB
Oleh: Shofia Qolbinnisa*)
Oleh: Shofia Qolbinnisa*)

TRADISI tahlilan merupakan salah satu bentuk organisasi informal yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama dalam komunitas Muslim. Ritual ini dilakukan untuk mendoakan arwah orang yang telah meninggal, biasanya diadakan pada hari-hari tertentu setelah kematian, seperti hari ke-7, ke-40, ke-100, dan seterusnya. Namun, lebih dari sekadar ritual keagamaan, tahlilan memiliki dimensi sosial yang kaya, mencerminkan pola interaksi, solidaritas, dan reproduksi budaya dalam masyarakat. Dalam hal ini, perspektif Pierre Bourdieu menjadi alat analisis yang relevan untuk memahami tradisi tahlilan, terutama melalui konsep-konsep seperti modal sosial, habitus, dan arena.

Pierre Bourdieu mendefinisikan modal sosial sebagai jaringan hubungan yang memberikan individu atau kelompok akses ke sumber daya tertentu melalui keanggotaan dalam suatu komunitas. Dalam tradisi tahlilan, modal sosial tampak melalui kehadiran masyarakat yang secara kolektif mendukung keluarga yang sedang berduka. Di berbagai komunitas, tahlilan menjadi ajang pertemuan yang mempererat hubungan antarindividu. Dengan hadir di acara tahlilan, seseorang menunjukkan kepedulian dan empati, yang pada gilirannya memperkuat kepercayaan sosial.

Habitus, menurut Bourdieu, adalah pola pikir dan kebiasaan yang terbentuk dari pengalaman hidup seseorang dalam lingkungan sosial tertentu. Habitus ini mengarahkan cara seseorang berpikir, bertindak, dan merasakan sesuatu. Dalam konteks tahlilan, habitus mencerminkan nilai-nilai solidaritas, kewajiban sosial, dan penghormatan terhadap tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Konsep arena dalam teori Bourdieu merujuk pada ruang di mana berbagai modal (sosial, ekonomi, budaya, dan simbolik) berinteraksi dan diperebutkan. Tradisi tahlilan dapat dilihat sebagai arena sosial di mana berbagai kepentingan dan modal dipertaruhkan. Namun, di sisi lain, tahlilan juga dapat menjadi beban bagi keluarga yang kurang mampu. Biaya untuk mengadakan tahlilan, seperti menyediakan makanan untuk tamu, sering kali menjadi sumber tekanan.

Meski tahlilan menjadi simbol solidaritas dan harmoni sosial, tradisi ini tidak lepas dari tantangan dan konflik. Salah satu isu utama adalah perbedaan pandangan keagamaan. Sebagian kelompok Muslim, terutama yang berpegang pada ajaran salafi atau puritan, menganggap tahlilan sebagai bid’ah (inovasi dalam agama) yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, beban ekonomi yang terkait dengan penyelenggaraan tahlilan menjadi isu signifikan. Dalam banyak kasus, keluarga yang kurang mampu merasa terpaksa mengadakan tahlilan demi memenuhi ekspektasi sosial.

Teknologi juga mulai memengaruhi pelaksanaan tahlilan. Di era digital, undangan untuk tahlilan sering disampaikan melalui media sosial atau pesan instan, menggantikan metode tradisional seperti undangan langsung. Bahkan, dalam beberapa kasus, tahlilan dilakukan secara daring, terutama selama pandemi COVID-19. Adaptasi ini menunjukkan bagaimana tradisi tahlilan tetap relevan meskipun harus bertransformasi mengikuti perubahan zaman.

Tradisi tahlilan lebih dari sekadar ritual keagamaan; ia adalah cerminan dari modal sosial, habitus, dan arena sosial yang kompleks. Dalam perspektif Pierre Bourdieu, tahlilan menjadi wadah penting untuk memahami bagaimana solidaritas, jaringan sosial, dan reproduksi budaya berlangsung dalam masyarakat. Meski menghadapi berbagai tantangan, tahlilan tetap menjadi simbol penting dari hubungan sosial dan identitas kolektif masyarakat Indonesia. Dengan memahami dimensi-dimensi ini, kita dapat melihat tahlilan sebagai bagian integral dari kehidupan sosial yang mencerminkan kompleksitas budaya dan dinamika masyarakat modern. (*)

*) Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Hendra Junaedi
#tahlilan #tradisi #opini