Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Rapuhnya Sifat Maskulin

Farisma Romawan • Selasa, 31 Desember 2024 | 15:10 WIB

Oleh: Farisma Romawan *)
Oleh: Farisma Romawan *)
 

Pria tidak bercerita, tapi nggremeng dewe (menggerutu sendiri). Ungkapan lazim terdengar di jagat media sosial setelah dianggap relate dengan kondisi para pria hari ini. Menggambarkan jika kebanyakan kaum adam kini tengah dalam situasi rumit, namun dituntut tegar atas status gendernya.

 Mereka lantas memilih diam demi menjaga image-nya yang kuat. Bahkan, kepada sesama kaumnya, pria memilih menutupi permasalahan ketimbang jadi konsumsi publik. Pria memang kerap terjebak di dalam sifat maskulin. Pandangan pria lebih kuat dari wanita dari segi apa pun dinilai sangat membebani.

 Dikutip dari jurnal berjudul Representasi Maskulinitas dalam Iklan karya Novi Kurnia (2004), maskulinitas adalah gambaran kejantanan, ketangkasan, keperkasaan/keberanian untuk menantang bahaya. Hingga menimbulkan keringat yang menetes, otot atau bagian tubuh tertentu yang menyembul sebagai daya tarik laki-laki secara ekstrinsik.

 Karakter ini berkaitan erat dengan sifat kuat serta keras, dan tidak menunjukkan kelemahan. Sisi emosional atau sensitif sering kali dikesampingkan karena dianggap tanda kelemahan, sehingga cenderung menekan emosinya. Akibatnya, mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan perasaan adalah sesuatu yang lemah.

 Hal ini yang kerap mengakibatkan pria tidak mampu mengenali atau mengekspresikan perasaannya dengan baik. Saat dihadapkan dengan emosional, mereka cenderung mencari cara lain untuk melampiaskan. Seperti bekerja keras, berolahraga, atau bahkan menggerutu sendiri. Parahnya lagi, beberapa laki-laki gengsi mengakui kerapuhannya. Akibatnya, mereka melakukan tindakan konyol yang membahayakan dirinya sendiri demi menjaga gengsi. Di Mojokerto, sejumlah kasus seperti ini sempat terjadi di sepanjang tahun 2024.

 Kasus terbaru adalah TG, 24, pria asal Desa Kebunagung, Kecamatan Puri, yang nekat terjun ke Sungai Brantas, tepatnya di pintu Dam Rolak Songo, Selasa (24/12) lalu. Aksi mengakhiri hidup TG dilatarbelakangi putus cinta dengan AW, 23, mantan kekasihnya yang menolak diajak comeback. Sampai tulisan ini diterbitkan, keberadaan TG belum bisa ditemukan, apakah masih bernapas atau sudah tiada. 

November lalu, DPT, 20, warga asal Kecamatan Mojosari juga sempat nekat terjun dari Jembatan Ngrame Pungging. Namun, nyawa DPT bisa diselamatkan setelah regu penyelamat datang dan mengevakuasinya saat tergeletak di fondasi penyangga jembatan. Tak jauh beda, DPT juga disinyalir mengalami kerapuhan mental dengan menyebut dirinya sebagai beban keluarga. Dan peristiwa kerapuhan pria yang paling miris terjadi Agustus lalu. 

Ketika seorang perwira polisi berinisial M, diduga bunuh diri di rumahnya karena tak kuat menahan sakit stroke yang tak kunjung sembuh. Peristiwa-peristiwa di atas menunjukkan bahwa rapuhnya maskulinitas pria tak bisa ditawar. Bahkan, menjangkiti di berbagai kalangan. Selain berbuat konyol, kerapuhan sifat maskulin pria juga kerap diungkapkan dengan perlakuan kasar. Mereka kerap menunjukkan ototnya dari pada otak demi menjaga gengsi maskulin.

 Data Pusat Layanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Mojokerto menunjukkan, dari 32 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sepanjang tahun 2024, semuanya disebabkan karena ulah para suami yang tak kuasa menahan emosi.

 Lalu, sebagian besar pria tersebut melampiaskannya kepada istri hingga babak belur. Akibatnya, tak sedikit dari mereka harus berurusan dengan hukum, baik secara perdata (cerai) maupun pidana. Dari catatan kasus tersebut, sebagian besar dilatarbelakangi karena adanya kesenjangan ekonomi maupun adanya orang ketiga di dalam rumah tangganya. Sehingga lagi-lagi pria dianggap orang paling rapuh dan berdampak terhadap psikologis dan perilakunya. 

Rapuhnya sifat maskulin laki-laki juga terlihat dalam data perceraian di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto sepanjang tahun 2024. Di mana, dari 3.609 perkara cerai, jumlah pihak pria yang mengajukan talak lebih sedikit, hanya 620 perkara. Sementara gugatan cerai yang diajukan pihak perempuan atau istri, jumlahnya lebih besar, mencapai 2.989 perkara. Tentunya data-data tersebut bisa menjadi reminder. Bahwa, psikologis pria juga rentan rapuh, terutama ketika jika berhadapan dengan lawan jenisnya.

 Psikolog sosial Jerman, Erich Fromm, pernah berkata dalam bukunya, bahwa laki-laki cenderung tidak ingin dirinya disaingi, entah oleh sesama laki-laki maupun perempuan. Namun, kecenderungan itu sebenarnya bisa diatasi. Berelasi dengan perempuan bisa jadi adalah solusi atas kerapuhan maskulin para pria. Berelasi tidak sekadar menjalin keakraban, tapi juga bisa meng-upgrade pengetahuan. Apalagi yang ilmunya lebih dari para pria. Cara tersebut tak lantas membuat pria menjadi pecundang.

 Justru membuat pria bisa berpikir lebih keras bagaimana untuk bisa setara. Bukan juga untuk menaklukkan. Relasi yang setara akan membuat hidup kita menjadi berkualitas. Tidak ada yang merasa disaingi. Tidak ada yang merasa perlu lebih unggul di atas yang lain. Bukankah hal itu sebagai keniscayaan?.

 

*)Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#maskulin #opini