Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sebuah Cerita tentang Islam Masa Depan

Fendy Hermansyah • Senin, 23 Desember 2024 | 15:00 WIB
Oleh : Hasyim Muhammad*)
Oleh : Hasyim Muhammad*)

HARI Raya Natal sebentar lagi akan kita sambut. Sebagai muslim, saya selalu punya rasawas-was dan ketakutan ada orang-orang bodoh yang menjadikan Islam sebagai alasan untuk menyebarkan teror. Selain menjijikkan, tindakan itu justru memalukan agama Islam.

Di aplikasi X (Twitter), saya sering menulis pandangan saya tentang Islam yang saya beri tagar#IslamMasaDepan. Di situ, saya menyampaikan bagaimana penerapan Islam seharusnya berubah di masa depan. Ada beberapa hal penerapan Islam saat ini yang menurut saya tidak akan bisa diterima di masa depan.

Banyak perdebatan tentang agama di X. Namun, alih-alih berdebat dengan pemeluk agama lain, saya lebih memilih melakukan otokritik terhadap Islam selaku agama saya sendiri.

Menurut saya, adalah fakta bahwa masih banyak muslim yang bertindak merugikan pemeluk agama lain karena merasa sedang menjalankan perintah agama.

Semua itu adalah hasil penafsiran yang menurut saya salah. Itulah kenapa saya selalu menulistentang Islam masa depan yang seharusnya bisa menjadikan dunia ini lebih damai.

Alam raya harus merasakan kedamaian akan kehadiran Islam, termasuk non-muslim. Itulah prinsip dari konsep: Rohmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta). Jika ada penafsiran agama Islam yang bertentangan dengan semangat itu, maka bagi saya itu sudah pasti penafsiran yang salah.

Selama masih banyak muslim yang selalu bersikap memusuhi non-muslim, maka kita sebagai muslim tidak bisa mengklaim Islam itu agama damai dan penuh kasih sayang.

Selama agama masih terus dijadikan alat untuk berbuat kekerasan, maka kita sebagai muslim tidak pantas marah jika Islam disebut sadis ataupun barbar. Karena faktanya: Islam dijadikan alasan untuk melakukan kejahatan!

Mempersulit pembangunan rumah ibadah agama lain. Membubarkan ibadah agama lain. Merusak dan meledakkan rumah ibadah agama lain. Mempersekusi dan meneror pemelukagama lain. Adalah fakta bahwa ada penafsiran ajaran agama Islam yang keliru.

Namun selama ini semua kejadian itu ’’disanggah’’ dengan menyebut pelakunya sekadar oknum. Kebanyakan umat Islam memilih untuk ’’denial’’ bahwa memang ada banyak hal mendasar dari penafsiran ajaran Islam yang saat ini memang bisa mewujudkan muslim yang radikal seperti itu.

Saya beri contoh satu saja dari pendapat yang sering saya tulis di X. Dalam Quran, ada istilah ’’kafir’’ dan ’’ahli kitab’’. Di penafsiran secara umum, kafir diartikan sebagai: non-muslim. Padahal menurut saya, ahli kitab itulah yang artinya non-muslim. Sedangkan kafir lebih merujuk pada: ’’non-muslim yang memusuhi Islam’’.

Saat ini, semua non-muslim disebut kafir. Ini yang membuat banyak muslim yang diam-diam punya ’’semangat’’ memusuhi non-muslim. Memang kafir itu perlu dimusuhi, namun itu bukan semua non-muslim, melainkan non-muslim yang memusuhi Islam.

Konteks Quran pun jelas bahwa kafir itu orang yang memusuhi Islam saat itu. Yang berusaha membunuh Nabi dan sahabatnya. Yang memusuhi semua umat Islam saat itu. Yang ingin mematikan dan membubarkan Islam saat itu.

Lalu apakah saat ini kafir itu masih ada? Secara resmi, kafir itu tak ada lagi di Indonesia. Apakah ada sebuah organisasi atau lembaga yang secara resmi ingin menghilangkan Islam diIndonesia? Jelas tidak ada.

Di Indonesia, kondisi sosial sudah terbangun sangat baik. Semua agama sudah seharusnya hidup berdampingan. Tak ada lagi kafir yang perlu dimusuhi. Pada zaman Nabi Muhammad pun, tak semua non-muslim adalah ’’musuh’’. Buktinya, Abu Thalib paman nabi yang selalu melindungi dan menyayangi nabi, hingga kematiannya dia tidak masuk Islam. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad memusuhi kafir jika pamannya juga kafir? Abu Thalib bukanlah muslim, tapi dia bukanlah bagian dari kaum kafir.

Andai suatu saat nanti, label kafir tak lagi diartikan sebagai non-muslim, saya yakin Islam akan makin menjadi rahmat bagi alam semesta.

Sampai saya mati, mungkin saja impian saya akan Islam yang damai seperti itu belum akan terwujud. Tapi itu tak menghentikan saya untuk terus menyuarakan ini. Itulah kenapa saya selalu memakai tagar #islammasadepan. Karena, mungkin Islam yang saya harapkan baruakan terwujud di masa depan. Nanti, ketika saya sudah mati.

Selamat Natal dan Tahun Baru untuk para sahabat yang merayakan. Semoga kedamaian selalu menyelimuti kita semua. (*)

*) tinggal di X @hasyimmah

Editor : Hendra Junaedi
#masa depan #islam #opini