Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Alarm Kesehatan: Ancaman Baru Si Manis Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Fendy Hermansyah • Selasa, 17 Desember 2024 | 14:50 WIB
Oleh : Alexa Putri Marinda*) 
Oleh : Alexa Putri Marinda*) 

*)Mahasiswa Program Studi Teknik Biomedis Universitas Airlangga

PENYAKIT di dunia saat ini terus mengalami perkembangan, baik dari segi jenis maupun pola penyebarannya. Perubahan lingkungan, mobilitas global yang tinggi, serta mutasi patogen menyebabkan munculnya penyakit-penyakit baru dan kebangkitan kembali penyakit yang sebelumnya terkendali. Selain itu, gaya hidup modern dan pola makan yang tidak sehat turut berkontribusi pada meningkatnya penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas.

Di sisi lain, ancaman penyakit menular seperti COVID-19, malaria, dan tuberkulosis tetap menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan global. Perkembangan ini menuntut peningkatan upaya pencegahan, inovasi medis, serta kerja sama internasional untuk mengatasi tantangan kesehatan yang terus berkembang. Pandemi COVID-19 telah berlalu, namun menyisakan persoalan baru. Kasus diabetes pada anak telah meningkat sebanyak 70 kali lipat pada bulan Januari 2023. Kasus diabetes pada anak mencapai 2 per 100.000 jiwa per Januari 2023 (Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Kasus ini memang bukan hal yang baru, tetapi kenaikan signifikan yang menjadi sorotan untuk semua pihak. Hal ini tentu disebabkan oleh beberapa faktor, tidak hanya pola hidup yang kurang aktif dan pola makan tinggi gula pada anak-anak yang menjadi pemicu munculnya persoalan baru ini, tetapi juga faktor eksternal, seperti peran pemerintah dalam pengawasan dan pengendalian. Lemahnya aturan label kemasan makanan dan minuman siap saji membuat masyarakat kurang peduli mengenai dampak buruknya.

Gula, si manis yang dulu dianggap tidak berbahaya dan hanya digunakan sebagai pengendali rasa, kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Dari makanan ringan, minuman kemasan, hingga camilan sehari-hari, kandungan gula tersembunyi hadir di hampir setiap jenis produk yang mereka konsumsi. Kebiasaan ini tidak hanya membentuk preferensi rasa yang cenderung manis, tetapi juga meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan metabolisme sejak usia dini. Sayangnya, kesadaran akan bahaya konsumsi gula berlebih seringkali terabaikan, baik oleh anak-anak, orang tua, maupun lingkungan sekitar.

Dengan peran gula yang semakin dominan, diperlukan edukasi yang lebih intensif serta regulasi ketat terhadap produk-produk tinggi gula untuk melindungi generasi muda dari dampak buruk yang bisa berlangsung jangka panjang. Diabetes adalah kondisi dimana tubuh sulit untuk mengontrol kadar gula darah yang disebabkan oleh gangguan insulin atau gangguan produksi insulin.

Menurut jenisnya diabetes ada 4 macam yakni diabetes tipe 1adalah penyakit autoimun kronis yang terjadi ketika tubuh kurang atau sama sekali tidak menghasilkan hormone insulin, diabetes tipe 2 biasanya lebih mungkin terjadi pada orang dewasa dan lansia karena faktor gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurang gerak dan kelebihan berat badan, diabetes tipe 3 kondisi yang disebabkan oleh kurangnya suplai insulin ke dalam otak, dan diabetes gestasional tipe diabetes ini terjadi selama kehamilan bisa menyerang ibu hamil, walau tidak memiliki riwayat diabetes.

Diabetes yang menjadi momok untuk anak-anak ialah tipe 1 dan tipe 2. Faktor penyebab diabetes tipe 1 ialah faktor genetik atau warisan dari orang tua dan faktor lingkungan bisa disebabkan oleh paparan coxsackie virus, rotavirus, dan bakteri mycobacterium avium. Faktor penyebab diabetes tipe 2 ialah gaya hidup yang mencangkup pola makan, aktivitas, stress, dan merokok. Memang gejala si manis ini jika tidak diperhatikan dengan benar, kita tidak akan mengenalinya.

Gejala yang ada yakni anak akan mudah lapar, mudah haus, kencing terus, mudah marah, penurunan berat badan, infeksi kulit berulang, dan gatal pada kemaluan. Data dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) per 1 Februari 2023 menunjukkan bahwa terdapat 1.645 anak penderita diabetes, dengan 60 persen di antaranya adalah anak perempuan. Sebanyak 46 persen penderita berusia 10 - 14 tahun, sementara 31 persen lainnya berusia di atas 14 tahun. Usia 14 tahun, yang merupakan masa praremaja atau masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, adalah periode penting dalam pertumbuhan. Pada usia ini, anak-anak mengalami perubahan signifikan baik secara fisik maupun emosional.

Jika kondisi diabetes ini tidak segera ditangani, hal tersebut dapat mengganggu tumbuh kembang mereka serta meningkatkan risiko penyakit lain, mengingat diabetes sering disebut sebagai mother of all diseases, yang dapat memicu komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung. Tanpa tindakan, kebijakan, dan layanan kesehatan yang memadai, generasi muda yang diharapkan menjadi penerus bangsa dalam Indonesia Emas 2045 terancam kehilangan potensi terbaiknya. Apakah generasi emas Indonesia akan dibiarkan bersahabat dengan Dexcom?

Pemantauan gula darah secara efektif, seperti yang ditawarkan oleh perangkat Dexcom, adalah salah satu langkah maju dalam pengelolaan diabetes, terutama bagi anak-anak. Dengan ukurannya yang kecil, hingga 60 persen lebih ringkas dibandingkan alat lainnya, Dexcom memberikan kenyamanan bagi penggunanya, termasuk anak-anak penderita diabetes. Namun, persoalan yang lebih besar adalah bagaimana memastikan semua anak-anak penderita diabetes memiliki akses ke alat ini atau setidaknya mendapatkan perawatan yang memadai.

Tantangan ini tidak bisa hanya dibebankan pada keluarga; diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai sektor untuk menciptakan sistem pendukung yang kokoh. Dexcom, alat pemantau gula darah yang digunakan oleh penderita diabetes, mampu memantau kadar gula darah sepanjang waktu dengan lebih efektif.

Namun, apakah semua anak-anak yang terkena diabetes sudah mendapatkan penanganan yang memadai? Bukan hanya tanggung jawab orang tua anak-anak penderita diabetes, tetapi kita sebagai bagian dari generasi bangsa juga memiliki kewajiban untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi tantangan ini. Beberapa hal yang dapat kita lakukan yakni; pertama, menerapkan pola makan yang sehat, makanan yang seimbang, mengurangi konsumsi yang tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan olahan. Meningkatkan konsumsi buah, sayuran, dan protein; kedua, melakukan aktifitas fisik, melakukan aktifitas fisik yang lebih teratur dengan berolahraga dan memiliki hobi yang berkaitan dengan gerak fisik; ketiga, memantau berat badan, kegemukan juga dapat meningkatkan risiko diabetes; keempat, membatasi screen time, membatasi waktu di depan layar agar tidak malas gerak dan tetap produktif setiap harinya; kelima, menjaga kesehatan mental, dapat dilakukan dengan menjaga pertumbuhan rohani, membatasi agar tidak berpikiran negatif sehingga berlebihan terhadap suatu hal, dan tidak memiliki kecemasan yang berlebihan.

Keenam, Aksesibilitas layanan kesehatan yang merata, adalah salah satu faktor kunci yang harus ditingkatkan. Saat ini, tidak semua anak-anak penderita diabetes memiliki akses ke diagnosis dini, alat pemantau gula darah, atau pengobatan yang memadai. Pemerintah perlu memperkuat layanan kesehatan, terutama di daerah terpencil, agar setiap anak mendapatkan perawatan yang sesuai. Penyediaan alat pemantau gula darah yang inovatif seperti Dexcom, yang kecil, nyaman, dan lebih efektif, harus menjadi bagian dari solusi, dengan subsidi atau program bantuan khusus untuk keluarga dengan keterbatasan financial.

Ketujuh, dukungan sosial dan emosional bagi anak-anak penderita diabetes, tidak boleh diabaikan. Anak-anak ini membutuhkan lingkungan yang inklusif dan empati, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Mereka harus didukung untuk tetap merasa percaya diri dan mampu menjalani hidup seperti anak-anak lainnya. Program peer support di sekolah atau komunitas dapat membantu mereka mengelola emosi, berbagi pengalaman, dan membangun semangat untuk menghadapi tantangan yang ada. Kebijakan pemerintah juga harus diarahkan pada upaya preventif yang lebih luas. Misalnya, memperketat regulasi terhadap pemasaran makanan dan minuman tinggi gula yang menyasar anak-anak. Program nasional untuk pencegahan diabetes pada anak dapat melibatkan sekolah sebagai pusat perubahan, dengan menyediakan makanan sehat di kantin, mewajibkan olahraga, dan menyelenggarakan penyuluhan kesehatan secara berkala.

Masa depan bangsa bergantung pada kualitas kesehatan generasi mudanya. Jika kita ingin mewujudkan generasi emas Indonesia yang kuat dan tangguh, kita harus memastikan bahwa anak_anak kita tumbuh sehat, bebas dari ancaman komplikasi diabetes. Setiap tindakan yang kita ambil, mulai dari perubahan kecil di lingkungan keluarga hingga kebijakan nasional yang berorientasi pada kesehatan anak, akan membawa dampak besar bagi masa depan. Kolaborasi antara individu, keluarga, masyarakat, dan pemerintah adalah kunci untuk menciptakan lingkungan yang mendukung anak-anak Indonesia agar tumbuh optimal dan menjadi pilar bangsa yang kokoh. Diabetes pada anak-anak merupakan tantangan kesehatan yang serius dan kompleks, dengan dampak yang meluas pada kesehatan fisik, mental, dan sosial mereka. Penyakit ini memerlukan perhatian khusus karena dapat mengancam masa depan generasi muda jika tidak ditangani dengan baik.

Peningkatan jumlah kasus diabetes, terutama yang dipicu oleh pola hidup tidak sehat dan kurangnya kesadaran masyarakat, menjadi sinyal bahwa tindakan kolektif sangat dibutuhkan. Kesadaran akan bahaya diabetes serta upaya pencegahan yang tepat harus menjadi fokus utama bagi seluruh pihak. Teknologi seperti alat pemantau gula darah Dexcom memberikan harapan baru dalam pengelolaan diabetes, khususnya bagi anak-anak. Dengan desain yang kecil dan efisien, alat ini membantu pengawasan kadar gula darah secara lebih nyaman dan efektif. Namun, aksesibilitas teknologi ini masih menjadi kendala, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Pemerintah, bersama dengan sektor swasta dan masyarakat, perlu bekerja sama untuk menyediakan teknologi ini secara luas dan merata, sehingga setiap anak dapat mendapatkan perawatan terbaik. Selain pengobatan, pencegahan menjadi langkah yang tidak kalah penting. Perubahan pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, pengurangan waktu di depan layar, serta menjaga kesehatan mental adalah upaya sederhana namun efektif yang dapat dilakukan. Edukasi masyarakat, terutama orang tua dan anak-anak, juga perlu digencarkan agar mereka lebih memahami pentingnya hidup sehat dan risiko yang ditimbulkan oleh konsumsi gula berlebih. Sekolah, komunitas, dan keluarga harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan hidup sehat.

Pada akhirnya, diabetes pada anak bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan sektor kesehatan, kita dapat meringankan beban anak-anak yang terdampak dan mencegah kasus baru di masa depan. Generasi emas Indonesia adalah aset bangsa yang harus kita jaga. Dengan upaya bersama yang dimulai hari ini, kita dapat memastikan bahwa anak-anak Indonesia tumbuh sehat, produktif, dan siap menjadi penerus bangsa yang tangguh di masa depan. Diabetes pada anak-anak bukan hanya menjadi tanggung jawab individu atau keluarga, tetapi juga memerlukan perhatian bersama sebagai masyarakat.

Dengan kesadaran, edukasi, dan dukungan yang tepat, kita dapat membantu meringankan beban mereka yang terdampak sekaligus mencegah kasus serupa di masa depan. Generasi emas Indonesia adalah aset berharga yang harus kita jaga. Melalui upaya kolektif, baik dalam penyediaan layanan kesehatan, kebijakan preventif, hingga pola hidup sehat, kita dapat memastikan bahwa anak-anak Indonesia tumbuh dengan optimal, bebas dari ancaman komplikasi diabetes. Masa depan bangsa ada di tangan kita, dan tindakan nyata hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi mendatang. (*)

Editor : Hendra Junaedi
#kesehatan #opini #alarm