*)Mahasiswa Jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang
HUMAN Papillomavirus (HPV) adalah virus menular seksual yang dapat menyebabkan penyakit melalui kontak langsung dengan kulit atau berhubungan seksual dengan penderita. Gejala HPV berbeda-beda di setiap penderita, mulai dari tumbuhnya kutil pada vulva, vagina, anus, penis dan faring hingga penyebab kasus kanker serviks. Munculnya benjolan kecil yang lama-kelamaan semakin banyak membentuk tonjolan jengger ayam disebut kutil. Kutil tumbuh disebabkan oleh virus HPV menyebabkan rasa gatal, nyeri, dan tidak nyaman.
Selain kanker serviks, infeksi HPV juga dapat muncul menyebabkan komplikasi gangguan selama kehamilan. Kutil yang muncul pada vagina dapat berkembang menjadi lebih besar sehingga menimbulkan rasa nyeri dan kesulitan buang air kecil. Hal ini juga dapat menyulitkan masa persalinan karena kutil menyebabkan peregangan jaringan vagina.
Cara mendiagnosis seseorang apabila mengalami gejala HPV dapat melalui beberapa pemeriksaan. Pertama, IVA ( tes inspeksi visual asam asetat) pemeriksaan dengan meneteskan cairan khusus asam asetat pada area kelamin. Warna kulit kelamin akan berubah menjadi putih bila seseorang positif mengalami infeksi HPV. Kedua, Pap Smear, metode diagnosis kanker serviks dengan cara mengambil sel serviks untuk diperiksa di dalam laboratorium. Ketiga, tes HPV DNA dilakukan untuk mendeteksi adanya unsusr genetik terhadap virus HPV yang berisiko menyebabkan kanker serviks. Jika virus HPV telah dinyatakan positif, ada beberapa pengobatan yang dapat dilakukan.
Kanker serviks merupakan jenis kanker penyebab kematian tertinggi nomor dua dan salah satu beban permbiayaan Kesehatan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Globocan tahun 2021, terdapat 36.633 kasus kanker serviks di Indonesia dengan angka kematian yang terus meningkat. Kendati memiliki risiko kematian yang tinggi, Menkes menegaskan bahwa kanker serviks dapat dicegah, salah satunya dengan pemberian Vaksin Human Papillomavirus (HPV) utamanya diberikan kepada anak-anak. Pemerintah Indonesia berkomitmen mencegah morbiditas, mortalitas, dan kecacatan yang disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dalam rangka mencapai SDGs 2030.
Direktur Jenderal P2P merencanakan perluasan pemberian imunisasi HPV secara nasional di Tondano, Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Bersama dengan Bupati Minahasa beserta seluruh jajaran Pemerintah daerah Kabupaten Minahasa, Ketua Komisi IX DPR RI, perwakilan mitra Pembangunan kesehatan internasional yaitu WHO, UNICEF, UNDP, GAVI dan CHAI serta Masyarakat di Tondano, Minahasa.
Vaksin HPV diberikan kepada anak Perempuan usia kelas 5 SD/MI/sederajat (atau usia 11 tahun bagi anak yang tidak bersekolah) untuk dosis pertama dan dosis kedua diberikan pada anak kelas 6 SD/MI sederajat (atau usia 12 tahun). Pemberian vaksin bagi anak yang bersekolah dilaksanakan melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah atauBIAS.
Menurut Manisa Zaman, pimpinan tertinggi UNICEF Indonesia “UNICEF berkomitmen untuk mendukung Upaya Pemmerintah Indonesia dalam eliminasi kanker serviks pada Perempuan usia sekolah dasar sangat penting untuk upaya ini. Perluasan skala nasional imunisasi HPV di Indonesia menandadi Langkah signifikan untuk melindungi jutaan anak Perempuan dari kanker serviks.”
WHO Indonesia mengapresiasi upaya Indonesia mengenalkan vaksin HPV secara nasional. Mengingat, kanker serviks masih merupakan kanker pada Perempuan paling umum keempat di dunia, bahkan kedua di Indonesia. Managing Director, Policy, Programme Design & Delivery Support Gavi, the Vaccine Alliance, Kelechi Ohiri, dengan optimis mendukung Indonesia dalam pencanganan perluasan imunisasi HPV ini. Bersama kita bisa mewujudkan anak-anak Indonesia yang sehat, tangguh, cerdas dan kuat serta mencapai eliminasi kanker serviks pada tahun 2030. (*)
Editor : Hendra Junaedi