*)Mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang
PSORIASIS merupakan penyakit yang sangat terkait dan dimediasi sistem imun, atau sering diistilahkan autoimun. Psoriasis menunjukkan manifestasi gejala pada kulit di bagian-bagian tubuh tertentu. Pada dasarnya tubuh kita memproduksi barisan sel-sel kulit baru dari bagian terdalam dari lapisan kulit kita. Seiring dengan hilangnya lapisan kulit teratas karena proses kematian sel kulit, maka lapisan-lapisan baru muncul ke atas menggantikan kulit yang lama. Proses yang sebenarnya berjalan cukup lambat yakni berkisar antara 20-30 hari.
Namun pada kondisi psoriasis, proses tumbuh dan naiknya lapisan kulit ini berlipat kali lebih cepat. Proses ini bisa dijalankan dalam hitungan kurang dari seminggu. Pada proses munculnya psoriasis, sistem imun teraktifkan dan berinteraksi dengan keratinosit, salah satu jenis sel yang menyusun kulit tubuh kita, dan menyebabkan terjadi pertumbuhan yang berlebih dari keratinosit.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa dapat dikembangkan senyawa baru yang memiliki efek farmakologi ke arah pengobatan psoriasis. Salah satunya penelitian terkini yang meneliti efektifitas senyawa baru yang merupakan turunan dari senyawa benzoxazol. Benzoxazol sendiri adalah senyawa dengan struktur kimia yang banyak dikembangkan dalam dunia farmasi.
Salah satunya penelitian yang ditulis oleh Florenci V González pada artikel Ayoub et al., 2022 berjudul Sintesis dan Evaluasi In-Vivo Derivatif Benzoxazole sebagai Obat Anti-Psoriatis yang Menjanjikan untuk Penggunaan Klinis. Dipublikasikan pada Molecules Vol. 27(9):3023. doi: 10.3390/molecules27093023. Studi ini mengidentifikasi senyawa benzoxazol yang berpotensi sebagai agen imunosupresif dengan mengevaluasi efeknya terhadap respons imun pada model tikus.
Pengobatan dengan obat-obatan ini juga dikaitkan dengan efek samping dermatologis dan sistemik, seperti atrofi kulit, striae, jerawat, penambahan berat badan, retensi air, pembengkakan, diabetes, dan osteoporosis. Secara keseluruhan, efek samping ini menunjukkan perlunya rejimen obat baru yang memiliki manfaat terapeutik yang lebih besar dan efek samping yang lebih sedikit. Dalam penelitian ini, turunan benzoxazole, CBA, dan obat pendahulunya, MCBA. CBA (Carboxybenzoxazole) dan MCBA (Methylcarboxybenzoxazole) adalah turunan benzoxazol yang memiliki potensi besar sebagai obat autoimun karena struktur uniknya yang memungkinkan interaksi kuat dengan target biologis, seperti enzim dalam jalur inflamasi.
Sementara itu, MCBA, yang mengandung gugus metilkarboksil (-COOCH3), memiliki stabilitas kimia lebih baik dan lipofilisitas tinggi, memungkinkannya menembus membran sel dengan lebih efisien untuk menghambat jalur inflamasi. Dengan toksisitas rendah dan potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, CBA dan MCBA menawarkan peluang menjanjikan untuk terapi autoimun yang lebih efektif dan spesifik. Temuan dari penelitian terkini menunjukkan bahwa pemberian CBA dan MCBA secara oral maupun topikal menghasilkan efek antipsoriatik yang cukup besar, yang ditunjukkan dengan penurunan skor PASI dan perubahan histopatologis yang signifikan dibandingkan dengan tikus yang diobati dengan IMQ. Peningkatan aktivitas obat setelah pemberian oral dibandingkan dengan pengobatan topikal dapat disebabkan oleh peningkatan farmakokinetik, sehingga memungkinkan efek molekuler yang lebih kuat di lokasi kerja target.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa potensi pengembangan senyawa baru untuk pengobatan masih sangat luas dan prospektif, terutama dalam konteks terapi penyakit autoimun. Dengan demikian, pengembangan senyawa baru ini tidak hanya menjanjikan dalam mengatasi penyakit autoimun yang ada, tetapi juga membuka jalan bagi penciptaan obat-obatan inovatif untuk berbagai kondisi medis lainnya. (*)
Editor : Hendra Junaedi