Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Teknologi CRISPR untuk Pengobatan HIV

Fendy Hermansyah • Rabu, 4 Desember 2024 | 14:50 WIB
Oleh: Desya Aurelia Agatha*)
Oleh: Desya Aurelia Agatha*)

*)Mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang

TEKNOLOGI CRISPR-Cas9 telah menjadi salah satu penemuan terbesar dalam bidang bioteknologi dan dalam dunia medis. Kemampuan CRISPR untuk dapat mengedit gen secara tepat dan efisien menawarkan harapan yang baru bagi terapi genetik, termasuk untuk pengobatan penyakit yang sebelumnya sulit diobati. HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan salah satu penyakit yang dapat diobati menggunakan teknologi CRISPR.

CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats) adalah sebuah alat penyuntingan gen yang dipergunakan untuk sistem pertahanan bakteri dengan mengubah DNA. Pada sistem ini menggunakan enzim Cas9, yang bertugas memotong DNA di lokasi yang tepat. Cara kerja teknologi ini dengan memotong DNA di lokasi yang tepat dan sudah dipilih. Setelah DNA dipotong, sel dapat memperbaiki kerusakan dan menggunakan proses ini untuk mengubah urutan genetik yang ada.

HIV adalah sebuah virus yang menyerang sistem pertahanan tubuh dengan menginfeksi serta melenyapkan sel T CD4 atau juga dikenal dengan sel darah putih yang berperan penting dalam melawan infeksi. Pengobatan HIV yang digunakan sampai saat ini mencakup pengobatan dengan obat antiretroviral (ARV), yang dapat menghambat reproduksi pada virus, namun tidak dapat menyembuhkan penyakit tersebut.

Dengan kata lain, pasien harus terus mengonsumsi obat tersebut seumur hidupnya. Namun, CRISPR menawarkan pendekatan baru dan lebih inovatif, dengan menggunakan teknologi CRISPR para peneliti dapat memodifikasi untuk sel T dalam tubuh pasien secara genetik agar kebal terhadap HIV. Pendekatan yang banyak digunakan adalah dengan memodifikasi reseptor CCR5 pada permukaan sel T. Dengan mengubah atau menghapus gen CCR5 ini, sel T menjadi kebal terhadap infeksi HIV, ini dapat mencegah virus memasuki sel.

Penggunaan CRISPR dalam pengobatan HIV mampu memberikan manfaat yang besar bagi pasien yang sudah terinfeksi virus ini. Ini merupakan langkah yang sangat baik terutama bagi orang-orang yang sebelumnya gagal dalam pengobatan HIV dengan menggunakan antiretroviral (ARV). Selain itu, CRISPR bisa menjadi alternatif yang menawarkan potensi pengobatan yang lebih akurat.

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2007 oleh Timothy Ray Brown, yang dikenal sebagai "Berlin Patient", menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam terapi genetik Brown, yang mengidap HIV, menerima transplantasi sumsum tulang dari seorang donor dengan mutasi genetik alami pada reseptor CCR5. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa diskusi klinis, termasuk di China dan Amerika Serikat untuk menguji apakah penyuntingan gen CRISPR dapat secara efektif memodifikasi gen CCR5 pada pasien HIV. Namun, untuk bisa dipergunakan secara luas terapi ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Saat ini, penelitian terkait terapi gen menggunakan CRISPR banyak dilakukan di pusat-pusat penelitian bioteknologi dan universitas-universitas besar di berbagai negara. Selain itu, perusahaan farmasi yang berfokus pada pengobatan genetik juga terlibat dalam pengembangan pengobatan ini. Namun, penerapan klinis CRISPR untuk HIV kemungkinan besar akan dimulai di negara-negara dengan prasarana medis yang memadai dan kapasitas penelitian yang lebih maju. Teknologi CRISPR mempunyai potensi untuk meningkatkan pengobatan HIV dengan memungkinkan pengeditan gen yang lebih spesifik dan tepat di dalam sel tubuh.

Berikut beberapa cara teknologi CRISPR dapat digunakan untuk mengobati HIV. Pertama, pengeditan Gen CCR5. Ketika gen ini dihilangkan atau diubah, sel T yang dimodifikasi menjadi kebal terhadap HIV. Hal ini dapat memberikan kesempatan pada pasien untuk berhenti memakai obat antiretroviral (ARV) dan hidup terbebas dari infeksi HIV.

Lalu, menghentikan replikasi virus secara langsung. Selain mengubah genetik sel-sel tubuh untuk menjadi kebal terhadap HIV, teknologi CRISPR ini juga dapat digunakan untuk memotong serta melenyapkan DNA virus yang telah terintegrasi ke dalam sel secara langsung. Juga, dengan terapis jangka panjang. Berbeda dengan pengobatan antiretroviral (ARV) yang harus diberikan seumur hidup, pengobatan CRISPR menawarkan kemungkinan solusi jangka panjang. (*)

Editor : Hendra Junaedi
#pengobatan #opini #HIV / AIDs