Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Cerpen; Mati Rasa

Moch. Chariris • Minggu, 4 Agustus 2024 | 17:00 WIB
Photo
Photo

Oleh: GADING GATRA

LEMPENGAN logam yang menjadi hiasan jam dinding kuno tergantung di sebuah tiang itu berdentang sesuai tempo layaknya metronom. Mengantarkanku pada kenangan-kenangan yang bahkan mengingatnya pun aku sudah tak mau. Bukan karena apa, aku hanya tak mau membuang air mataku jika harus mengingat masa itu. Masa di mana aku masih begitu dibuat bahagia oleh keadaan.

Kata orang seorang ayah adalah cinta pertama dari anak perempuan. Sosoknya yang begitu gagah dengan sekuat tenaga menjadi garda terdepan untuk keluarganya. Menjadi pelindung dalam setiap kekhawatiran oleh takdir yang kadang tak menyenangkan. Dan itu benar. Aku seorang anak perempuan yang tumbuh di keluarga kecil yang tak kaya, juga tak miskin, sederhana saja. Yang aku tahu, aku sangat bahagia sebelum aku menginjak remaja, dan sering melihat ibuku menangis diam-diam dari sebuah lubang pintu yang retak karena tertendang.

Tak jarang pula aku melihat wanita bak malaikat tak bersayap itu menulis pada sebuah buku ketika malam tiba. Ia menyimpan luka di setiap senyumnya. Hingga sebuah keadaan yang membuatku paranoid dengan sebuah ikatan yang bernama pernikahan. Sosok yang seharusnya menjadi cinta pertama untukku, justru menjadi monster yang aku sendiri begitu asing dan begitu takut untuk menatap wajahnya. Hingga tak ada lagi rasa yang tersisa selain rasa dendam terhadap pemandangan-pemandangan kekerasan yang seringkali diperlihatkan dan diperdengarkan setiap malam.

Malam dan lelaki adalah dua hal yang mengerikan untukku. Hingga datang padaku seseorang yang begitu kuat meyakinkanku tentang keindahan dan ketenangan yang dimiliki malam.

***

”Dan, ini masih jauh kah?,” tanyaku mulai panik karena hari sudah semakin larut dan dingin.
Danial hanya tersenyum dan menghentikan laju motornya pada sebuah taman dan menggandeng tanganku ke arah sebuah pohon besar disamping danau. Ia memberikan jaketnya untuk kukenakan karena melihatku yang mulai menggigil.
”Coba tenangkan dirimu. Kamu lihat ke atas sana. Bintang-bintang itu menunggu untuk disapa.”
Aku tak memedulikan apa yang dikatakan Danial. Bintang memang selalu tampak di langit. Sejak dahulu memang begitu karena begitulah takdirnya. Kusapa atau tidak, ia tetap bersinar. Aku tetap keukeuh untuk pulang karena tak ada tempat ternyaman selain berlindung di balik dinding kamarku di setiap malam.
”Danis,” panggil Danial seraya menggenggam tanganku.
”Will you marry me?”
Ucapan Danial sontak membuatku terbelalak tak percaya dengan apa yang ia katakan.
Ia melamarku?

***

”Kamu belum tidur?,” ucap ibu dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka.
”Dannis nggak bisa tidur, bu,” jawabku menghampirinya.
”Kamu mikirin besok, ya?” suaranya yang begitu menenangkan memelukku dan menggandengku hingga terduduk di tempat tidur.
”Ibu tahu memang butuh penyesuaian buat kamu setelah ini. Namun, ketahuilah ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anak perempuan ibu.”
”Makasih ya, bu.”
Kupeluk erat wanita paruh baya yang ada di dekatku itu. Tak bisa kupungkiri bahwa aku sendiri tak bisa menggambarkan apa yang kurasakan. Esok adalah hari pernikahanku. Entah mengapa tetesan hangat dari pelupuk mataku tak juga berhenti.

***

”Bagaimana, saksi, sah?,” pertanyaan penghulu yang terjawab positif oleh sanak kerabat yang hadir di sini telah membuktikan bahwa semua benar-benar dimulai.
Aku. Danisa. Telah menjadi istri dari lelaki pilihanku sendiri, Danial. Pria yang sempurna di mataku karena selama lima tahun berpacaran aku selalu nyaman berada di dekatnya. Tak pernah sekalipun ia menyakiti perasaanku hingga membuatku begitu mantap menjatuhkan pilihan padanya. Terlebih ia yang berhasil mengubah jalan pikiranku tentang dua hal yang mengerikan. Malam dan lelaki.

***

Suara di luar terdengar begitu bising hingga aku terbangun pagi itu. Satu tahun sudah aku menjalani kehidupan bersama Danial. Kulirik jam yang ada pada ponselku, memang sudah pagi. Aku harus segera bergegas keluar. Aku berjalan terpincang-pincang karena entah beberapa bulan terakhir sepertinya ada yang salah dengan kaki dan punggungku.
”Badanku sakit semua,” rengekku pada Danial yang ternyata sudah bangun.
”Nggak usah merengek gitu lah. Manja banget. Risih dengernya,” Danial membentakku.
”Pola tidur dijaga, jangan terus begadang malam-malam.”

Seperti tersambar petir rasanya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Danial. Sekalipun aku tak pernah mengeluh dengan apa yang aku rasakan karena aku tahu ia pasti lebih lelah dariku. Aku hanya terdiam dan menangis di balik pintu kamarku. Hari berlalu dengan keadaan yang sama. Danial yang semakin susah untuk ditebak. Terkadang ia begitu manis, namun tak jarang pula lontaran kata-kata kasar ditujukan padaku. Aku menyadari semua ketidaksempurnaanku sebagai wanita karena harus membagi waktu dengan pekerjaanku. Apakah ini yang dirasakan ibuku saat itu?

***

Sejak hari itu, aku merasakan diriku yang kembali seperti dulu. Tak pernah bisa bersahabat dengan malam. Ada rasa takut untuk memejamkan mata jika nanti aku terbangun dan aku merasakan sakit yang sama seperti sebelumnya. Terlebih aku tak ingin menangis dengan semua reaksi yang tak kuinginkan.
Kukerjakan semua tugasku ketika malam hampir mencapai peraduannya hingga aku tertidur dengan sendirinya. Sesekali Danial menyuruhku untuk tidur dengan nadanya yang kasar dan semakin membuatku tak nyaman. Jika ini yang nanti akan kuterima setiap hari, aku khawatir dengan diriku sendiri. Rasa ini yang perlahan terkikis karena perlakuan yang semakin hari tak pernah mengerti apa yang kurasakan. Harusnya ia yang lebih tahu mengapa aku menjadi sangat sulit untuk memejamkan mata. Dia pernah membersamaiku dengan pola ini sebelumnya, tapi tidak seperti ini saat itu ia memperlakukanku.

”Aku nanti pulang terlambat,” pamitku yang tak mendapat respons apa pun darinya.
Ia berjalan ke arahku dan menendang kursi yang ada disampingku. Pertanda apa yang ia tunjukkan padaku. Aku tak mampu mengenalinya lagi. Hatiku sudah begitu keras untuk menangis kali ini. Tanpa melihatnya, aku keluar dan memacu laju motorku dengan sekencang-kencangnya.

***

Kuketuk pintu rumah yang tampak sepi, namun tak terkunci. Aku masuk begitu saja dan merasakan aroma masa kecil yang ada di rumah itu. Perlahan butiran hangat dari mataku menetes. Akankah aku kehilangan rasa yang saat itu tumbuh dari diriku sendiri. Apakah aku kehilangan rasa layaknya aku kehilangan rasa terhadap cinta pertamaku, ayah.

”Danis? kamu di sini?” suara itu menyapaku lembut.
Aku membalikkan badan dan memeluk erat wanita itu. Air mataku tak mampu lagi kubendung. Aku hanya ingin menangis di pelukannya. Meluapkan semua emosi yang tertahan, rasa marah, kecewa dan bersalah karena lama sekali tak menjenguk ibuku. Sejak ia menikah, Danial seringkali memperlihatkan raut yang buruk ketika aku bertemu ibuku.

”Maafkan Danisa, ibu, ibu sehat sehat ya,” ucapku sambil terisak.
”Dania, tanpa kamu bercerita ibu bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Ibu tahu kamu wanita kuat. Semua cobaan model apa pun pernah menimpa kita. Ibu yakin, kamu kuat. Kamu akan menjadi setegar karang. Tak perlu kau risaukan buih-buih ombak kecil yang mendatangimu. Mereka tak akan meruntuhkanmu.”

Kata-kata itu begitu tertancap dalam hatiku.

Dan benar, jika aku adalah karang, maka aku terlahir dari empasan ombak yang berhamburan. Bukan ombak kecil beriak yang membawa kerikil dan bebatuan. Aku adalah karang, yang menantang matahari dan rembulan tanpa atap apa pun yang meneduhkanku hingga hujan gerimis tak akan mampu melapukkanku.

Aku tak akan mengeluh dengan hal-hal kecil itu lagi, karena ini adalah takdir yang kupilih. Aku tak gentar dengan apa pun yang menggertakku. Aku tak akan kecewa hanya karena apa yang kujalani tak sesuai dengan yang kuharapkan, aku hanya takut kehilangan jalan iman pada Tuhanku jika keterpurukanku tak lagi membuatku bergantung hanya kepada-Nya. (*)

*) Gading Gatra adalah nama penulis dari wanita bernama asli Eka Putri Wahyuni. Writing for healing adalah salah satu motto-nya untuk dapat mencurahkan semua ide-idenya pada sebuah karangan fiktif. Berhasil menerbitkan satu novel berjudul ”Lensa”, wanita ini terus berkarya pada antologi-antologi cerpen yang sesuai dengan kepiawaiannya dalam kepenulisan karangan fiksi. Dari kepiawaiannya itu, ia seringkali menjadi juri maupun pembicara dalam kegiatan-kegiatan literasi yang ada di Mojokerto.

 

Editor : Hendra Junaedi
#cerpen