Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

CERPEN; Lorong Waktu

Moch. Chariris • Minggu, 30 Juni 2024 | 13:00 WIB
Photo
Photo

Oleh: ZARINA AZALEA PUTRI SANTOSO

PAGI ini, Alana Salsabila Azura, lebih tepatnya dipanggil Alana, akan pergi study tour dengan beberapa rombongan dari sekolahnya. Alana akan pergi ke Pendapa Agung Trowulan, dan akan mempelajari sejarah-sejarah tentang Majapahit.

Setibanya di sana, Alana dan ketiga sahabatnya, Kiara, Alettha, dan Floryn pun diberi tugas berkelompok. Dari masing-masing tugas mereka diberi kesempatan untuk memilih anggota kelompoknya. Setiap kelompok terdiri dari dua orang. Alettha pun memilih Kiara sebagai teman satu kelompok, sedangkan Alana satu kelompok dengan Floryn.

”Flo ayo kita mencari informasi tentang sejarah Majapahit di bagian sana,” kata Alana.
”Iyaa, ayooo," Floryn pun mengiyakan ajakan Alana.
”Iyaa, jangan lama-lama ya. Nanti kita kembali bertemu di sini,” teriak Kiara ke arah Alana dan Floryn.
”Iyaaa,” sahut Alana dengan berlari.

Alana dan Floryn sampai di tempat yang mereka tuju, yaitu di Petilasan Gajah Mada. Mereka mencari informasi di sekitar situ. Saat Floryn sibuk menuliskan tinta di buku kesayangannya tentang informasi yang telah didapat, tanpa sepatah kata dia langsung menghampiri tempat muksanya Gajah Mada. Floryn tidak menyadari hal itu. Alana langsung menyentuh batu di Petilasan Gajah Mada.
Dan, duarrrr...!!! Munculah keajaiban di mana Alana sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Ketika Floryn menyadari bahwa Alana sudah tidak berada di dekatnya lagi, Floryn pun mulai gelisah dan berteriak sambil mencari Alana.
”Alana, Alana!!! Kau di mana???”
”Heyy, Alana kamu jangan bercanda dehh...!!!”
Di situlah, mata Alana tertuju pada sebuah kerajaan. Di situ banyak sekali orang-orang yang berpakaian seperti di zaman kuno.
”Hahh, aku ada di mana ini?? Aku seperti pergi ke zaman kuno?” ujar Alana dengan kebingungan dan gelisah.
Tiba-tiba Alana bertemu dengan seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya. Anak laki-laki itu segera mengajak Alana untuk cepat-cepat pergi dan berlari secepat mungkin.
”Ayo cepat lari! Di belakang sana, ada para pemberontak Sadeng!!!” ujar anak laki-laki yang menolong Alana.
Para pemberontak Sadeng tetap mengejar Alana dan anak laki-laki itu. Setelah beberapa saat kemudian Alana dan anak laki-laki itu akhirnya berhenti dan mengambil tindakan.
”Kalian jangan macam-macam, aku bisa memasukkan kalian semua kedalam ponsel ku!” ujar Alana.
”Halah omong kosong mana bisa kalian memasukkan kami kedalam benda itu,” kata mereka seperti tidak percaya.
Alana segera memotret mereka menggunakan kamera yang ada di ponselnya dan memberi bukti kepada para pemberontak Sadeng.
”Hahahaha, ini dia buktinya! Kalian lihat sendiri kan, bahwa aku bisa memasukkan kalian semua ke dalam ponsel ku?" ujar Alana dengan meyakinkan para pemberontak Sadeng
”Hahhh? Apa? Ayo kita larii... Sekarang dia penyihirrr!!” ujar para pemberontak Sadeng dengan keheranan dan ketakutan. Setelah para pemberontak Sadeng itu pergi anak laki-laki itu pun memperkenalkan dirinya.
”Hai kita tadi belum sempat berkenalan kan? Baiklah perkenalkan namaku Parmen salam kenal. Siapa namamu?” tanya Parmen.
”Namaku Alana, salam kenal juga Parmen,” jawab Alana.
Setelah itu mereka berdua jalan untuk pergi pulang ke rumah Parmen. Saat di tengah jalan Alana melihat beberapa rombongan prajurit dari Kerajaan Majapahit. Alana pun bertanya kepada Parmen.
”Siapa itu?? Tubuhnya besar dan gagah perkasa.”
”Itulah Patih Gajah Mada. Mereka semua sudah siap menumpas para pemberontak Sadeng,” jawab Parmen.
”Ohh, begitu. Jadi itu tadi Patih Gajah Mada,” jawab Alana.
Untuk sementara kau bisa tinggal di rumahku dulu untuk beberapa malam.
”Baiklah, terima kasih karena telah membantuku Parmen,” ucap Alana.
”Yaa, sama-sama, Alana,” ujar Parmen.

Sesampainya di rumah Parmen, ia pun berkata kepada kakak perempuannya.
”Kak, kenalin ini Alana, dia tersesat di sini,”
”Ohhh, begitu baiklah untuk sementara waktu Alana bisa tinggal di sini. Ohh, iya Alana, perkenalkan namaku Sri,” jawab kakak perempuan Parmen.
”Terima kasih Kak Sri karena sudah membantuku,” jawab Alana.
”Iya, sama-sama, lagi pula kita harus saling membantu,” ujar Sri.
”Lebih baik kita masuk sekarang,” ajak Parmen untuk masuk ke dalam rumah. Lalu mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.

”Ayoo, sekarang waktunya makan malam, kalian tunggu di meja makan dulu saja biar kakak yang memasak makanan,” ajak Sri untuk makan Malamet.
Setelah makan malam mereka pun bersiap-siap untuk tidur. Pagi telah tiba, saat sarapan Kak Sri mengobrol bersama Alana.
”Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya Sri.
”Waktu itu aku sedang berada di Petilasan Gajah Mada, lalu aku menyentuh batu yang berada di dekat Petilasan Gajah Mada. Muncullah portal di dekat batu yang telah aku sentuh tadi. Lalu aku terseret sehingga masuk ke dalam portal tersebut. Akhirnya aku tersesat di sini. Saat aku keluar dari portal tadi, dari belakang Parmen segera mengajakku untuk cepat pergi dari tempat itu karena ada para pemberontak Sadeng yang mengejarku. Setelah para pemberontak Sadeng pergi aku diajak Parmen untuk tinggal di rumahnya selama beberapa hari,” jawab Alana dan menceritakan apa yang telah terjadi.
”Ohh, jadi begitu ceritanya,” jawab Sri.

Malam pun tiba. Kali ini Alana mendadak susah untuk tidur. Dia sedang merebahkan dirinya di atas tikar. Tetapi, dia susah untuk memejamkan matanya dan terus memikirkan sesuatu. Ternyata ia ingin pulang dan kembali ke masanya.
”Aku ingin pulang, tetapi bagaimana caranya agar aku bisa pulang?” ujar Alana.
Setelah beberapa jam Alana melupakan hal itu dan dia pun tertidur dengan lelap. Matahari pun sudah mulai terlihat. Alana, Parmen dan Sri kembali melakukan aktivitas di pagi hari. Setelah semua aktivitas yang dilakukan di pagi hari, Alana menceritakan keluh kesahnya kepada Sri.

”Aku ingin pulang, kak, tetapi bagaimana caranya agar aku bisa pulang? Aku memang nyaman tinggal di sini karena bertemu dengan kalian. Tetapi, aku merasa lebih baik aku pulang karena aku tidak mau merepotkan kalian terus menerus.”
”Yaaa, aku tahu pasti akhirnya kau ingin pulang. Tetapi, jika kau ingin tinggal di sini kau tidak merepotkan kami sama sekali.” jawab Sri.
”Benarkah itu? Tetapi, aku rindu dengan keluargaku dan sahabat-sahabatku,” jawab Alana sambal meneteskan air matanya.

Akhirnya Sri pun terdiam dan memikirkan cara agar Alana bisa kembali pulang. Setelah beberapa menit muncullah ide dari diri Sri.
”Ahaaaa, aku tahu bagaimana caranya agar kau bisa pulang, dari ceritamu kemarin kau bilang, bahwa kau keluar dari sebuah portal kan?"
”Iya, betul sekali aku memang keluar dari sebuah portal, lalu bagaimana agar aku bisa pulang?” jawab Alana antusias.
Sri yang bijak pun menjawab, ”Ayo sekarang kau kuantarkan ke tempat di mana kau bisa sampai di sini!”
Alana pun menjawab, ”Ide yang bagus, oke ayoo!”

Setelah sampai di tempat di mana Alana bisa sampai ke zaman kuno, mereka pun melihat adanya sebuah portal. Sri dan Parmen segera menyuruh Alana agar cepat-cepat masuk ke portal tersebut.
”Mungkin portal itu Alana, ayo cepat masuk sebelum portal itu tertutup!” perintah Sri.
Alana pun langsung masuk ke dalam portal tersebut. Akhirnya Alana pun kembali ke tempat asalnya. Ia pun bertemu dengan sahabat dan teman-temannya.
”Dari mana kau Alana? Kita mencarimu dari tadi,” tanya Kia.

Alana pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada sahabat, teman-teman, dan keluarganya.
”Aku tadi terseret ke dalam sebuah portal dan aku kembali ke zaman kuno.”
Semua yang mendengar cerita Alana pun terkejut dan hampir tidak percaya dengan cerita Alana. Mereka semua pun pergi untuk pulang dan Alana pun pulang ke rumahnya dengan raut wajah yang gembira dan bahagia. (*)

ZARINA AZALEA PUTRI SANTOSO
ZARINA AZALEA PUTRI SANTOSO

*)Penulis adalah siswa kelas VIII di SMPN 3 Kota Mojokerto.

 

Editor : Hendra Junaedi
#cerpen