Oleh: EKA PUTRI WAHYUNI
JALANAN ini masih sama. Sepatu ini pun masih awet kupakai. Setelah sepuluh tahun aku berusaha untuk melupakannya, tetapi nyatanya aku belum berhasil melupakan setiap detail kenangan yang tertinggal di dalamnya.
Sesekali tertegun dan dikagetkan oleh klakson mobil yang mengambil jalur kiri untuk medahului, kiranya memang aku yang berjalan tak pada tempatnya. Beberapa kali Syifa menarik lenganku agar aku sedikit menepi. Aku tak sepenuhnya merespons kata-katanya, karena pikiranku sendiri yang sedang melayang entah kemana.
Sesekali aku menertawakan diriku sendiri. Keadaan begitu cepat berubah, tak memberikan waktu sedikitpun untuk mempersiapkan segala sesuatunya dan meninggalkan luka yang bertahan hingga selama ini.
***
Namaku Ratna. Seorang manajer accounting di sebuah minimarket ternama di kota ini, milik sahabatku. Pekerjaan yang sama sekali aku tak memiliki minat di dalamnya. Namun, beberapa hal menuntutku untuk menekuni pekerjaan ini. Meninggalkan kota asalku untuk bertahan di kota lain bukanlah hal yang mudah untuk orang yang tak pandai beradaptasi seperti aku.
Aku bersedia bekerja di sini karena aku rasa aku cukup mengenal setiap sudut kota ini sejak aku memilih untuk melanjutkan studiku di sini.
”Mbak Ratna,” seseorang memanggilku pelan dari arah belakang.
”Ini ada surat tugas mbak, dari Pak Andre.”
”Surat tugas lagi?” mataku terbelalak karena baru beberapa hari aku pulang dari tugas luar kota sudah ditugaskan lagi untuk kunjungan kerja di kota yang sama. ”Kapan?”
”Tanggal empat belas, mbak. Saya letakkan di sini, ya,” ucap Diana dan aku hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
Kulirik sudut komputerku. Sudah lima belas menit lepas dari pukul lima sore. Jalanan yang basah menyambutku setibanya aku di lantai bawah. Ah, rupanya hujan turun lumayan lebat siang tadi. Aku melepas sepatu dan menjinjingnya. Aku ingin bertelanjang kaki saja kali ini. Kumasukkan kembali ponsel yang tadinya kubawa untuk memesan taksi online. Aku ingin berjalan kaki saja.
Beberapa orang memerhatikanku yang begitu repotnya dengan ransel dan membawa sepasang sepatu di tangan kiriku. Aku hanya tersenyum dan tak peduli. Sesekali menggelengkan kepala ketika teman-teman yang mengenalku menawarkan bantuan untuk pulang bersama.
Tiba-tiba terdengar suara klakson yang mensejajari langkahku dan mencipratkan genangan air hujan ke arahku. Sontak aku terbelalak dengan seseorang yang berada di balik kemudi.
”Kamu nggak mungkin jalan kaki dengan baju kotor dan basah gitu, kan?” ucap Andre, seseorang di balik kemudi. Tak lama setelah jendela mobilnya terbuka sempurna, ”Naik.”
”Kamu nggak mikir, ya? Mobil kamu lah yang kotor kalau aku masuk,” protesku tetap pada posisi sebelumnya.
”Ya aku nggak mau tahu, pokoknya kamu naik,” balasnya.
Aku berusaha menutup pintu mobilnya dari luar dan tak memperdulikannya. Tetapi, mobilnya justru semakin menghimpitku, menghalangiku untuk berjalan ke depan. Entah mengapa aku tak pernah berhasil menolak jika itu Andre. Sikapnya yang random seringkali membuatku salah tingkah dan entah aku tak dapat mengartikan itu.
”Kamu itu sengaja mau malu-maluin aku?” Andre membuka pembicaraan.
”Seorang staf minimarket ternama di kota ini jalan kaki tanpa sepatu gitu?”
”Memangnya ada yang salah?” protesku.
”Aku nggak ngerugiin siapa-siapa, kok. Cuma pengen jalan kaki tanpa pakai sepatu, itu aja. Toh banyak genangan kan, nanti sepatuku basah, besok kamu hukum lagi kalau nggak pakai sepatu.”
”Justru banyak genangan kenapa malah kamu jalan kaki, Maemunaah?” Andre semakin ngotot.
”Kan kamu juga biasanya pakai taksi online kan?”
”Kan aku juga sudah bilang kalau aku pengen jalan kaki, Andree,” jawabku sambil melotot.
Tiba-tiba Andre menepikan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan dan meninggalkanku di dalam mobil. Lima menit kemudian ia kembali dan melemparku dengan sebuah tas belanjaan.
”Nomor 37, kan?” ucapnya.
”Apa ini?”
”Aku nggak perlu ngajarin kamu kan benda itu namanya apa? Sudah ambil saja, pakai nanti tanggal empat belas.”
***
Sesampainya di rumah aku membuka kotak sepatu itu dan ada secarik kertas bergaris di dalamnya.
Hai Rat, mungkin kamu sudah bisa menebak apa yang akan aku tulis melalui kertas ini. Aku tak memiliki cukup keberanian untuk langsung mengungkapkan tentang perasaanku sama kamu. Bahkan, sebegitu rapi kurancangpun selalu ada saja hal yang membuatnya gagal. Aku tahu kamu cukup pandai untuk memahami sikapku selama ini ke kamu dan kamu mengerti apa maksudku. Seperti yang aku katakan, pakai ini di tanggal empat belas.
Andre
Aku berusaha mengingat waktu. Tanggal dua belas. Ah, masih sangat lama untuk melakukan persiapan perjalanan. Sama sekali tak terpikirkan olehku untuk membuka surat tugas yang diberikan Diana untukku. Namun, hatiku tergelitik untuk akhirnya membukanya karena ingin tahu tugas apa yang akan aku kerjakan nanti.
Seketika aku terbelalak karena ternyata itu bukanlah surat tugas yang berhubungan dengan pekerjaan. Namun, surat pemberitahuan yang dikemas secara formal tentang pertemuan keluarga!
Berawal dari kertas bergaris itu aku menjalani kisahku dengan Andre. Sepucuk surat yang bahkan tak menjelaskan apa pun yang tersurat dan memintaku untuk memahami sendiri maksudnya. Kisah yang tak tersurat hingga rencana untuk mewujudkan mimpi yang paling indah untuk memutuskan hidup bersama yang tak semudah dalam tulisan.
***
Satu minggu menjelang hari terindah itu terwujud setelah tiga tahun bersama. Andre mulai sulit untuk dihubungi karena ia memilih fokus untuk bertempat di cabang yang lain. Dengan semua sikapnya selama ini aku selalu berpikir positif bahwa tak akan terjadi sesuatu dalam rencana ini.
Malam itu ponselku berdering beberapa kali. Kebiasaan burukku adalah mematikan kembali alarm yang kurancang sendiri jika mataku masih tak mau berkompromi untuk membuka. Keesokan paginya, aku membuka ada dua puluh lima panggilan tak terjawab banyak sekali pesan teks yang masuk di ponselku menanyakan tentang kebenaran sebuah berita. Rasanya seperti ribuan ranting tajam menghujam jantungku saat membaca kabar yang masuk dalam pesan-pesan itu.
Aku bergegas mengambil kunci motor dan menuju rumah Andre. Bendera kuning berkibar di sana. Lagi-lagi tak ada penjelasan yang jelas tentang apa yang terjadi pada Andre dan sakitnya yang sudah parah. Serasa kakiku tak kuasa melangkah dan tak lagi merasakan apa-apa seketika itu. Semua terasa sakit, lemas dan tak berdaya. Bahkan semua telah berakhir sebelum benar-benar dimulai.
***
Sejak aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan dan kota dimana aku bertemu dengan Andre, aku mengawali kembali karir dan kehidupanku. Bersama lingkungan dan teman-teman yang baru. Sesuai dengan bidang pekerjaannya adalah satu-satunya alasanku untuk keluar dari pekerjaanku yang sebelumnya menjadi seorang accounting.
”Ratna, nanti siang dampingi Syifa untuk melakukan pengecekan administrasi cabang yang ada di Bandung, ya. Untuk penginapan dan biro perjalanan sudah saya atur untuk nanti jam satu,” ucap Bu Susi, manajerku.
”Bandung, bu?”
”Iya, silakan bersiap ya.”
Mendengar nama kotanya saja aku sudah tak sanggup untuk melanjutkan tugas ini. Seluruh memori serasa berputar kembali dan melumpuhkan seluruh kekuatanku.
Mobil yang disiapkan dari biro perjalanan telah sampai untuk menjemputku. Aku memilih tak banyak berbicara sepanjang perjalanan karena aku tak ingin Syifa, rekan kerjaku, justru menangkap keanehanku hari itu.
”Mbak Ratna, nanti malam kita sempatkan jalan-jalan, yuk. Sepertinya di dekat hotel ada destinasi wisata yang bagus buat spot foto, mbak,” ajak Syifa.
”Yaa, mbak. Please.”
”Kita lihat nanti saja, ya,” jawabku singkat.
Setelah sampai di hotel, benar saja, sejumlah titik di kota itu masih sangat terlihat sama seperti saat terakhir aku menginjakkan kakiku. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat lebat. Syifa yang menikmati pemandangan hujan dari kaca hotel membuatku malas untuk membuka mata. Aku memilih untuk merebahkan diri dan tidur agar semua berjalan sedikit lebih cepat.
”Mbak, mbak, kita keluar yuk, mbak,” Syifa membangunkanku.
”Hujannya sudah reda, ini mumpung masih setengah tujuh malam. Kita cari bakso yuk, mbak.”
”Jalan kaki, ya,” jawabku singkat.
”Kalau kamu mau cari ojek silakan, tapi aku mau jalan.”
”Terserah deh, mbak. Yang penting bisa sampai sana, soalnya instagramable banget loh, mbak.”
Kami pun turun. Menginjakkan kembali kakiku di jalanan yang memberiku banyak cerita dan harapan. Namun sirna.
”Mbak, awas. Sepatu Mbak Ratna nanti basah, jangan lewat situ!”
Aku menunduk dan melepas sepatuku untuk berjalan dengan telanjang kaki kemudian membawa sepatu itu di tangan kiriku. Tetesan hangat dari pelupuk mataku tak terbendung. Semuanya masih sangat sama. Aspal dan letak rongga-rongga jalanan yang meresapkan kenangan melalui telapak kakiku. Semuanya masih sama seperti dulu.
Aroma hujannya, namun sekarang tak ada lagi klakson yang sengaja menghimpitku untuk memaksaku masuk dan pulang bersama. Sosok yang kaku namun tiba-tiba melakukan hal-hal yang tidak terduga. Masih sangat terukir jelas di ingatanku.
”Mbak, ini sebentar lagi sampai kalau di map-nya,” Syifa sangat antusias seraya memandang aplikasi peta pintar di ponselnya.
”Masih kurang satu belokan lagi, kemudian kita menyeberang melewati bundaran tugu. Di dekat sana ada warung bakso yang enak banget dan lorong-lorong jalananya sangat estetik buat foto,” jawabku datar.
”Iya, mbak. Bener, wah Mbak Ratna keren bisa hafal,” Syifa berbinar.
”Tanggal berapa sekarang?” tanyaku.
”Empat belas, mbak.” (*)
*)Penulis adalah guru di PK-LK Shafa Mojokerto juga ketua Komunitas di Komunitas Menulis Pena Majasejak 2024. Kelahiran Mojokerto, 13 Mei 1992, berdomisili di Desa Kintelan, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.
Editor : Hendra Junaedi