Untuk bisa merealisasikannya, bapak empat ini butuh kerja keras dengan semangat tinggi segenap pengurus KONI dan cabor dalam memperbaiki pembinaan atlet. Bahkan, Santoso harus merombak kebiasaan cabor selama persiapan Porprov tahun lalu.
Yakni dengan membiasakan pengurus dan atletnya tertib administrasi. Termasuk mengedepankan tertib prestasi mulai dari seleksi ketat, training center (TC) berjangka panjang, hingga pemenuhan gizi dan mental atlet yang sempurna.
Dengan begitu, maka lahirlah atlet-atlet potensial yang dapat membawa harus Kota Mojokerto lewat raihan medali, mulai dari Kejurprov, Porprov hingga PON nanti.
’’Kami budayakan tertib administrasi dan tertib prestasi. Susunan pengurus dan atletnya harus jelas dulu, minimal punya potensi medali di kejurprov. Kemudian harus berani seleksi secara objektif, dan juga wajib melampaui TC jangka panjang lebih dari enam bulan,’’ ujar Ketua Umum KONI Kota Mojokerto Santoso Bekti Wibowo.
Meski baru diterapkan setahun, namun hasil yang didapat sudah terlihat jelas. Terbukti, di Porprov VIII, kontingen Kota Mojokerto mampu tampil heroik dengan memboyong 56 medali.
Di antaranya mengoleksi 18 medali emas, 13 perak, dan 25 perunggu. Capaian tersebut melampaui dari target yang semula dipatok 15 medali emas.
’’Di Porprov 2021, kami hanya menempati posisi 34 dari 38 daerah klasemen perolehan medali. Dan di Porprov 2023, kami mampu menembus di peringkat 16 besar,’’ ucapnya.
Tak hanya raihan medali, Santoso juga terus mengembangkan cabor-cabor potensial agar eksis di Kota Onde-Onde.
Seperti woodball, jujitsu, petanque, sambo, dayung, hingga beberapa cabor baru lainnya. Bahkan, jumlah cabor yang dinaungi KONI kini telah mencapai 40 cabor.
Atau bertambah 19 cabor sejak tahun 2019 atau enam tahun silam. ’’Cabor baru haruslah yang potensi menyumbangkan medali minimal di Porprov,’’ tandasnya.
Meski demikian, karir Santoso di bidang olahraga terukur dan terstruktur sebentar lagi berakhir.
Kemenangannya di kontestasi Pemilihan legislatif (pileg) kemarin bakal membawanya duduk di kursi DPRD Kota Mojokerto periode 2024-2029. Sehingga ia harus merelakan jabatan ketua ke sosok lain yang berkompeten.
Pengusaha konstruksi listrik ini mengaku masih akan terus berjuang untuk kemajuan olahraga di Kota Mojokerto.
Salah satunya dengan memperjuangkan anggaran dan sarana prasarana agar terus meningkat setiap tahunnya.
Dengan peningkatan itu, maka akan dibarengi dengan raihan prestasi yang tinggi pula.
’’Fasilitas olahraga di Kota Mojokerto ini sangat tertinggal sekali. termasuk juga anggarannya sangat minim. Yakni pembinaan rutin tahunan hanya Rp 2,5 miliar. Kami upayakan tahun depan bisa mendapat anggaran yang maksimal,’’ pungkasnya. (far/ron)
Editor : Fendy Hermansyah