’’Mensyukuri nikmat hari ini dan mengikhlaskan apa yang telah berlalu’’. Pepatah tersebut yang mungkin terus digelorakan Kompol Supriyono saat pertama kali menginjakkan kaki di Polres Mojokerto Kota, Oktober 2023 silam.
Mengampu jabatan sebagai wakapolresta, pria asli Jawa Tengah ini tak henti-hentinya mengarahkan seluruh anggota untuk tulus ikhlas kala bertugas. Terutama saat turun langsung mengabdikan diri di tengah situasi politik saat ini.
Bagi Supriyono, ada tiga prinsip yang wajib dipegang seorang polisi. Yakni, hadir, berbuat, dan bermanfaat secara total bagi masyarakat.
Dengan kehadiran polisi, masyarakat merasa terlindungi sehingga tidak sungkan dalam memberikan informasi teraktual kepada petugas.
’’Prinsipnya adalah tulus dan ikhlas. Karena dengan ikhlas, maka seluruh tugas bisa dikerjakan dengan tuntas,’’ ujarnya.
Untuk merealisasikan hal itu, butuh sikap yang berjiwa besar. Bahkan, polisi dilarang pamrih kala berhasil mengungkap kasus atau menindak pelaku tindak kriminal.
Termasuk juga harus berani hidup sederhana kapanpun dan dimanapun. Sebab, polisi dituntut mandiri di segala medan. Dan modal tersebut yang terus ia tanamkan kepada anggota di semua satuan dan sektor.
’’Kualitas anggota yang berjiwa besar perlu terus dibangun. Dan juga harus berani hidup sederhana. Karena polisi adalah pelayan masyarakat,’’ tutur mantan Wakapolresta Madiun ini.
Di kepolisian, karir Supriyono dimulai usai menamatkan pendidikan di Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS). Dari empat saudaranya yang lain, ia merupakan satu-satunya yang berprofesi sebagai polisi.
Tempat tugas pertamanya kala itu adalah di Polda Papua. Setelah itu, ia dipindah tugaskan di seputaran wilayah Jawa Timur. Mulai dari Polsek Rungkut, Polda Jatim, Polres Pasuruan, Polres Madiun Kota, Polres Pasuruan, hingga di Polres Mojokerto Kota.
Berbagai kasus berhasil diungkap bapak tiga anak ini. Termasuk kasus penimbunan bahan bakar minyak (BBM) di Pasuruan kala menjabat sebagai Kasatreskrim tahun 2012 silam. (far/ron)
Editor : Fendy Hermansyah