Yang menarik, guru besar ini tidak pernah memanggil seorang pun muridnya dengan sebutan murid.
Rasulullah, justru menyebut murid-muridnya sebagai sahabat.
Teladan ini kemudian dicontohkan oleh Imam asy-Syafi'i, yang turut memanggil murid-muridnya, sahabat.
Ada sebuah kisah menarik yang menggambarkan betapa akrabnya Rasulullah dengan murid-muridnya.
Suatu ketika, beliau akan melakukan perjalanan ke Quba (sekitar 17 km dari Madinah) bersama Abu Hurairah, dengan mengendarai seekor keledai.
Meski berperawakan Arab yang tinggi besar sedangkan keledai hanya berukuran standar, Rasulullah tetap meluangkan perhatian ekstra dan menawari tunggangan pada sahabatnya, Abu Hurairah.
Abu Hurairah, Quba lumayan jauh, ayo saya bonceng, kata beliau sambil meraih tangan Abu Hurairah untuk membantunya naik.
Namun, Abu Hurairah gagal naik dan terjatuh, sehingga Rasulullah pun ikut tertarik.
Percobaan kedua menghasilkan hal yang sama.
Sebelum mencoba untuk ketiga kalinya, Abu Hurairah berkata, Saya jalan saja, Rasul.
Saya khawatir pasti akan menjatuhkan Bapak untuk yang ketiga kalinya.
KH. M. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama, menyarankan para guru agar memperlakukan murid seperti anak kandung mereka yang paling mulia; melimpahkan kasih sayang, memperbaiki kekurangannya, serta bersabar atas sikap yang ditunjukkan.
Apakah teladan-teladan ini masih relevan di zaman sekarang?
Apakah pendekatan ini justru akan menjadi bumerang yang melahirkan ketidaksopanan murid terhadap guru?
Bila sikap orang lain merupakan cerminan diri, maka cermin bening akan memantulkan bayangan yang bening pula, dan sebaliknya. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah