SARKASME adalah sebuah bentuk sindiran kasar yang pada penerapannya bisa berupa kritik pedas atau cemooh terhadap orang lain. Dalam sebuah masyarakat kita mungkin banyak menemui hal yang tidak kita suka dengan seseorang, namun dalam mengungkapkan ketidaksukaan diri kita terhadap orang lain tersebut terutama terhadap orang yang tidak kenal dekat mungkin tidak akan diungkapkan secara langsung namun dengan bentuk sindiran.
Sebuah sindiran bisa terungkapkan dari mulut seseorang untuk menyatakan ketidaksukaan, kritik, atau sekadar cemoohan atas kekesalan diri terhadap orang lain. Dalam mengungkapkan sindiran tersebut kita mengenal sebuah ungkapan dalam majas yaitu sarkasme.
Perkembangan musik di Indonesia saat ini sangatlah pesat. Seni musik di Indonesia mulai menunjukkan karya–karya musik di kalangan anak–anak, remaja, dan dewasa. Sebenarnya, tujuan dari sebuah lagu ialah hendak menyampaikan pesan serta mengekspresikan apa yang sedang dirasakan dan dilihat oleh pencipta lagu ataupun penyanyi lagu tersebut. Dengan menciptakan lagu, maka terkandung makna yang dapat disampaikan lewat lagu – lagu tersebut. Namun, pada saat ini banyak lagu–lagu yang bernilai sarkasme karena dirasa kurang sopan atau tidak enak didengar.
Seperti halnya lagu karya Pakde Kabul dan Mukidi dengan judul Mangku Purel dan Gubuk Asmoro yang dipopulerkan Nella Kharisma. Banyak sekali fenomena sarkasme dalam dua lagu tersebut.
Sebenarnya fungsi musik di Indonesia antara lain sebagai sarana komunikasi, sarana pendidikan, sarana bisnis, ekspresi, serta sarana hiburan. Namun, pada saat ini banyak lagu yang bernilai kurang mendidik. Karena adanya perubahan makna dalam lagu di antaranya berupa perubahan konsep, perubahan nilai rasa, sindiran pedas, mengolok, menyakiti hati, kurang enak didengar, serta mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna dengan kata yang mempunyai makna kasar.
Dalam lagu Mangku Purel yang mempunyai reff ’’mangku purel neng karaokean, ndemek pupu sampek munggah neng semeru” yang mempunyai arti memangku pemandu lagu di karaokean, pegang paha sampai naik ke Semeru, dapat menjadi media apabila didengarkan oleh anak–anak atau remaja yang sedang beranjak dewasa untuk melanggengkan paradigma antara laki–laki dan perempuan dalam masyarakat. Dalam lagu ini, citra seorang laki–laki ditampilkan sebagai sosok yang kuat, gagah, tangguh menguasai peran dalam masyarakat. Sebaliknya, perempuan seringkali diasosiasikan dengan label–label negatif yang meliputi menggoda, emosional, halus, lembut, dan mereka yang menduduki posisi di bawah laki–laki. Tubuh perempuan menjadi objek pandangan, karena laki–laki menikmatinya sebagai pemuas nafsu.
Pada lirik lagu Mangku Purel tersebut terjadi perubahan makna yang mempunyai makna kasar dalam Bahasa Indonesia, diantaranya adalah wanita yang sedang duduk di pangkuan seorang lelaki yang berada di tempat karaoke, dan kemudian laki–laki tersebut menyentuh paha wanita dalam arti biduan. Tak hanya menyentuh paha sang biduan saja, tetapi juga menyentuh payudara wanita. Dalam lirik lagu ini juga mengalami perubahan konsep dan mengganti kata yang seharusnya tidak diibaratkan gunung semeru adalah payudara wanita. Hal tersebut termasuk bernilai sarkasme karena sesuai dengan karakteristik sarkasme yaitu kurang enak di dengar dan menyakiti hati.
Dalam lagu gubuk asmoro yang mempunyai lirik “yen liwat aku kelingan, gubuk kae biyen tak nggo leren, neng cagak kebak tulisan, warno abang tondo isih perawan” yang memiliki arti kalau lewat aku teringat, gubuk itu dulu aku pakai singgah (istirahat), di tiangnya penuh tulisan, warna merah tanda masih perawan. Lagu ini mempunyai makna bahwasannya seorang wanita sedang melewati gubuk yang pernah disinggahinya dalam masa mudanya dalam hal untuk bercinta, ditandai dengan lirik “werno abang tondo isih perawan”. Wanita ini mengingat bahwa dia melepas masa gadisnya di gubuk tersebut bersama lelaki yang sangat ia cintai. Berdasarkan lirik tersebut dapat kita ketahui bahwa ini sangatlah memprihatinkan dan tidak etis. Karena sesungguhnya hal tersebut tidak seharusnya terjadi dalam hubungan tanpa status meskipun pada akhirnya menikah, apalagi hal tersebut dilakukan di sebuah gubuk yang dimana gubuk adalah tempat umum, dan terbuka. Dalam lagu gubuk asmoro ini sebenarnya adanya ketertarikan untuk hasrat pada lawan jenis yang ditumpahkan dalam gubuk tersebut.
Lagu – lagu tersebut kurang mencerminkan tanggung jawab karakter terhadap bangsa karena mempunyai makna seksual yang apabila didengarkan oleh generasi penerus bangsa dapat merusak pikiran karena mereka mempunyai hasrat penasaran yang kemudian mereka mencari tahu apa arti atau makna dari sebuah lagu tersebut. Lagu – lagu dangdut di atas kurang mencerminkan tanggung jawab karakter terhadap bangsa yang seharusnya bersungguh – sungguh dalam segala hal, berusaha melakukan yang terbaik untuk bangsanya, rela berkorban, taat aturan, jujur dalam bertindak dan dapat mengambil risiko. (*)
*Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Fendy Hermansyah