Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Memutus Rantai Toxic Parenting

Fendy Hermansyah • Senin, 19 Juni 2023 | 11:20 WIB

Kencana Violeta Maharsi Asmanto, mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang
Kencana Violeta Maharsi Asmanto, mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang
Oleh : Kencana Violeta Maharsi Asmanto*

PARENTING atau biasa disebut dengan pola asuh orang tua kepada anaknya. Setiap orang tua memiliki pola asuh tersendiri. Pola asuh yang baik akan memberikan hubungan yang baik pula antara anak dan orang tua. Pada dasarnya semua orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya tetapi banyak dari mereka yang tidak sadar telah melakukan toxic parenting. Toxic parents membawa efek negatif yang sangat besar pada kesehatan mental anak.

Kesehatan mental ini sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Kesehatan mental dapat membantu anak dalam menghadapi situasi apapun dan membantunya tumbuh jadi anak dan orang dewasa yang sehat secara utuh. Anak dengan tipe penurut akan berusaha sekeras mungkin untuk membahagiakan orang tuanya dengan cara mengabaikan segala hal yang mereka inginkan. Sementara anak dengan tipe pemberontak akan menjadi pembangkang bagi orang tuanya.   

Toxic Parenting

Toxic parenting merupakan pola asuh yang salah yang dilakukan oleh orang tua. Disebut toxic jika pola pengasuhan tersebut dilakukan secara rutin hingga menimbulkan dampak negatif bagi anak. Dalam dunia medis, istilah ini mengarah kepada perilaku orang tua yang memperlakukan anaknya dengan buruk, hingga mengakibatkan anak merasa tertekan, ketakutan, bersalah, dan tidak percaya diri.

Toxic parents tidak hanya melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya tanpa mempedulikan bagaimana keadaan anaknya. Namun ada juga yang melindungi anaknya secara berlebihan atau mengabaikan keberadaan anak. Toxic parents biasanya tidak mau bekerja sama, bertanggung jawab, maupun minta maaf kepada anak mereka. Contoh dari toxic parenting sendiri adalah meremehkan atau tidak memuji apa yang telah dilakukan anak-anak, mengkritik apapun yang dilakukan oleh anak, membandingkan anak dengan anak lainnya atau bahkan dengan saudara kandungnya.

Penyebab Toxic Parenting

Banyak faktor yang menjadi penyebab dari toxic parenting salah satunya adalah trauma dengan pola asuh orang tua pada masa lalu. Orang tua dengan keadaan seperti ini cenderung akan membesarkan anaknya secara toxic juga. Selain itu, kurangnya dukungan dari keluarga atau orang sekitar juga bisa mempengaruhi pola asuh orang tua. Mereka akan merasa tertekan dan stress sehingga melakukan pola asuh yang toxic.

Harapan yang tidak realistis juga berpengaruh kepada mental anak. Hal ini sering tidak disadari oleh orang tua. Orang tua terlalu melihat apa yang dicapai oleh anak lain dan memaksakan anaknya untuk memperoleh hal tersebut. Padahal seorang anak memiliki kemampuannya masing-masing.

Cara Mengakhiri Pola Asuh Toxic

Untuk mengakhiri toxic parents, kita sebagai orang tua bisa menerapkan pola asuh yang positif. Pola asuh ini bisa dilakukan dengan mengenal sifat dan perilaku  anak, memberikan kesempatan bagi anak untuk melakukan apa yang dia inginkan, dan menjalin komunikasi yang baik. Penting juga bagi orang tua yang memiliki trauma pada masa lalu untuk berdamai dengan trauma tersebut. Selain itu orang tua harus memiliki komitmen untuk berubah dan memiliki pikiran bahwa apa yang terjadi dengan dirinya di masa lampau tidak boleh terjadi pada anaknya.

Sebagai orang yang bertanggung jawab atas tumbuh kembang anak, orang tua harus melakukan pola asuh yang sehat untuk menjadikan kesehatan mental anak tidak terganggu. Jika sampai kesehatan mental anak terganggu, maka hal tersebut dapat mempengaruhi kehidupan anak ketika dewasa. Anak menjadi kurang percaya diri, tidak bisa mengambil keputusan, sering merasa cemas dan stress. Oleh karena itu rantai setan ini harus diputus agar tidak melahirkan generasi-generasi yang tidak diinginkan.

*Mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang

 

Editor : Fendy Hermansyah
#pola asuh #radar mojokerto #jawa pos radar mojokerto #jawa pos #opini #parenting